Artikel

Renungan

TETANGGAKU, SAUDARAKU

Dipublikasikan tanggal 04 December 2016

TETANGGAKU, SAUDARAKU

Pertemuan Adven II

Pada tahun ini Wakil Gubernur Provinsi Jawa Timur Saifullah Yusuf atau yang lebih dikenal dengan “Gus Ipul” meluncurkan Gerakan Peduli Tetangga. Gerakan ini bertujuan untuk menyikapi semakin lunturnya perhatian dan kepedulian terhadap sesama, khususnya mereka yang ada di lingkungan sekitar (tetangga). Paham individualisme membuat hubungan antar tetangga menjadi saling acuh tak acuh. Padahal, menurut Gus Ipul bertetangga bukanlah soal kedekatan tempat tinggal dan bukan pula sekedar komunikasi sewaktu-waktu. Hubungan antar tetangga seharusnya menjadi wacana untuk saling berbagi.

Perubahan zaman menjadi alasan perubahan sikap masyarakat saat ini, terutama di kota-kota besar. Kemajuan IPTEK menyebabkan orang semakin jarang untuk bersosialisasi langsung dengan orang lain dan kurang peka terhadap lingkungan. Manusia pun cenderung menjadi pribadi yang individualis dan kurang peduli terhadap orang lain. Maka tepatlah apabila pertemuan Adven II mengajak semua umat beriman untuk menyadari bahwa tetangga adalah saudara.

Ada beberapa kata Ibrani dalam Perjanjian Lama dan beberapa kata Yunani dalam Perjanjian Baru yang dapat dikaitkan dengan kata “tetangga” atau “sesama”. Cakupan makna kata-kata tersebut sangat luas, sehingga dalam bahasa Indonesia semua nuansa makna kata-kata tersebut tidak dapat diungkapkan hanya dengan sepatah kata saja. Dalam hubungan antar tetangga penulis Kitab Amsal menegaskan bahwa, “Lebih baik tetangga yang dekat daripada saudara yang jauh.” (Ams 27:10)

Dalam kehidupan bermasyarakat, kita tidak akan lepas dari apa yang namanya tetangga. Tetangga adalah saudara terdekat yang kita miliki. Dalam keadaan darurat, tetangga adalah orang yang pertama kali kita minta pertolongannya. Maka, tetangga memiliki peran yang cukup penting dalam kehidupan kita. Sayangnya, ada juga orang yang memperlakukan tetangga tidak dengan selayaknya, bahkan ada yang tidak suka bahkan bermusuhan dengan tetangganya. Sikap memandang rendah dan bermusuhan dengan tetangga jelas tidak sesuai dengan ajaran Kristiani.

Dalam kitab 2 Raja-raja (2 Raj 4:1-7) dikisahkan pengalaman seorang janda yang mengalami kerahiman Allah dengan bantuan tidak langsung dari tetangga-tetangganya. Seorang janda berutang banyak sehingga para penagih utang datang untuk mengambil kedua orang anaknya menjadi budak mereka. Janda itu hanya memiliki sebuah buli-buli berisi minyak di rumahnya. Dia pun pergi mengadu kepada nabi Elisa. Sang nabi menyuruh janda itu meminta bejana-bejana kosong dari tetangga-tetangganya. Minyak dari buli-buli ditumpahkan ke dalam bejana-bejana itu dan berlipat ganda. Elisa pun menyuruh janda itu menjual minyak itu dan membayar hutangnya.

Bagaimana cara memulai hidup bertetangga yang baik? Salah satu caranya adalah dengan kembali ke budaya gotong royong.  Selain pekerjaan menjadi lebih ringan, gotong royong juga dapat menumbuhkan persaudaraan dan silaturahmi yang semakin erat. Santo Paulus memberi nasihat, “Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! Demikian kamu memenuhi hukum Kristus.” (Gal 6:2)

Gotong Royong Menumbuhkan Semangat Persaudaraan dan Silaturahmi

Cara lain adalah dengan meningkatkan rasa solidaritas, kepedulian, berbagi dan rela berkorban di dalam diri kita. Di era globalisasi ini sifat individualis melekat pada semua elemen masyarakat. Yesus menceritakan kisah orang Samaria yang murah hati (Luk 10:29-36) untuk menjelaskan siapa sesungguhnya sesama manusia. Kisah Yesus ini menggugah hati kita untuk bertanya kepada diri sendiri, “Sesama macam apakah saya? Apakah latar belakang suku, agama, ras, dan golongan mempengaruhi saya dalam menentukan siapa sesama saya? Adakah faktor-faktor tersebut membatasi saya untuk membantu orang-orang yang sedang mengalami kesusahan?

Kita juga perlu menghargai kepentingan bersama melebihi kepentingan pribadi. Hal ini adalah konsekuensi manusia sebagai makhluk sosial. Dalam injil Yohanes (Yoh 13:34-35) Yesus memberi perintah kepada murid-murid-Nya untuk saling mengasihi. Demikian pula St Paulus memberi nasihat, “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.” (Rom 12:10)

Agar dapat mengikis sifat individualisme yang bersarang dalam hati kita, kita mulai harus belajar bermurah hati. Dalam pidato perpisahan dengan para penatua di Efesus, St. Paulus berkata, “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima. “ (Kis 20:35). Sebaliknya orang yang dibantu pun harus menunjukkan sikap berterima kasih dan bersyukur. Banyak bantuan diterima begitu saja tanpa penghargaan yang layak. Maka hubungan antar tetangga yang sehat tentu saja mengandaikan pemahaman akan prinsip pemberi yang murah hati dan penerima yang apresiatif.

Bermusyawarah dalam menyelesaikan masalah yang timbul di lingkungan masyarakat juga dapat meningkatkan solidaritas dan interaksi antar setiap elemen masyarakat. Kis 15 menceritakan tentang musyawarah untuk mencapai mufakat ketika jemaat perdana dihadapkan pada kontroversi perlu atau tidaknya sunat untuk seorang Kristen.

Bermusyawarah untuk Mencapai Mufakat Meningkatkan Solidaritas dan Interaksi

Tidak kalah pentingnya adalah mengasah hati nurani. Kita harus terus melatih diri untuk mendengarkan suara hati dan bertanggung jawab. Kita harus takut untuk melakukan hal yang tidak berkenan kepada Allah. Rasa takut kepada Allah akan menggerakan hati kita sehingga mampu mengambil keputusan yang tepat. St. Petrus memberi nasihat untuk mempertahankan hati nurani yang murni (1 Pet 3:16).

Meskipun hubungan dengan tetangga atau sesama sangat dianjurkan dalam Kitab Suci, kita juga harus berhati-hati agar tidak terlalu akrab dengan tetangga atau sesama sehingga menganggu privasinya. Penulis kitab Amsal memberi petuah, “Janganlah kerap kali datang ke rumah sesamamu, supaya jangan ia bosan, lalu membencimu.” (Ams 25:17)