Artikel

Renungan

SEBELUM AYAM BERKOKOK

Dipublikasikan tanggal 10 January 2017

 

SEBELUM AYAM BERKOKOK

Menyambut Tahun Ayam Api

Tahun ini menurut kalender Tiongkok adalah tahun ayam api. Sesuai dengan karakternya ayam adalah hewan yang sangat gesit dan rajin. Kokok ayam pada dini hari mengingatkan manusia untuk segera bangun dan bersiap-siap untuk bekerja. Ayam juga merupakan hewan yang melambangkan perlindungan terhadap anggota keluarganya seperti bunyi pepatah “seperti anak ayam kehilangan induk”. Maka, menurut horoskop Tiongkok orang-orang yang lahir di tahun ayam biasa bersifat ramah, baik hati, dan penuh humor.

Gambar ayam banyak ditemukan di makam-makam. Di Beit Jibrin yang terletak 13 mil di sebelah barat laut kota Hebron terdapat sebuah makam umat Kristen yang bernama “Tomb of the Cocks” (harafiah Makam Ayam). Dua buah patung ayam jantan dengan sebuah salib di tengah-tengahnya menghiasi gapura makam tersebut. Ayam juga muncul di katakombe Roma. Sebuah lukisan di Catacombe di San Callisto menggambarkan Yesus sebagai Gembala yang Baik dengan seekor ayam di kakinya.

Lukisan Gembala Baik dengan Ayam di Kaki Yesus (Catacombe di San Callisto)

Dalam tradisi Kristen ayam melambangkan kerahiman Allah yang mengampuni pendosa melalui Yesus Kristus. Pengarang injil Matius mencatat bahwa Yesus mengingatkan Petrus, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal aku tiga kali.” (Mat 26:34). Petrus benar-benar menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Ketika Petrus menyangkal Yesus untuk ketiga kalinya, berkokoklah ayam dan dia pun teringat pada sabda Yesus. Dia pun pergi keluar dan menangis (Mat 26:75). Dengan perasaan hancur lebur dia menyesali perbuatannya. Namun, dia menerima pengampunan dari Allah yang Maharahim. Kisah Petrus menyangkal Yesus dan bunyi kokok ayam dicatat di semua injil dan pesannya sangat jelas: Allah mengampuni pendosa yang bertobat. Dalam kitab De Ordine, St. Agustinus dari Hippo melukiskan ayam seperti ini, “tidak ada sesuatu yang najis dalam setiap gerakan binatang yang tidak memiliki akal budi ini, karena ada Sang Hikmat yang mengendalikan semua perbuatan mereka.

Orang-orang suku Khasi yang tinggal di negara bagian Meghalaya (bagian timur laut India) mengurbankan seekor ayam jantan karena mereka yakin bahwa ayam itu akan menanggung dosa-dosa manusia. Ide yang sama ditemukan juga dalam agama Yahudi. Kata Ibrani gever bisa berarti “manusia” atau “ayam”. Ada sebuah tradisi Yahudi bernama Kapparot menjelang perayaan Yom Kippur (Hari Raya Pendamaian). Seekor ayam diayunkan di atas kepala manusia sebanyak tiga kali dengan keyakinan bahwa dengan demikian dosa manusia dipindahkan ke ayam itu. Mereka berdoa, “Inilah penukar saya, pengganti saya, penebus dosa saya. Ayam ini akan menemui ajalnya sementara saya melanjutkan hidup yang baik, panjang dan damai.

Kapparot - Ayam sebagai Kurban Penebus Dosa

Santo Gregorius dari Nazianze melukiskan “… Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air …” pada kisah penciptaan (Kej 1:2) seperti induk ayam sedang mengerami telur. Kata Ibrani merahepet yang diterjemahkan menjadi “melayang-layang” memang dapat bermakna “mengerami”. Sebelum kelahiran Yesus Kristus, ayam sering dikaitkan dengan matahari, karena ayam berkokok sebelum dini hari. Dalam kepercayaan masyarakat Timur Jauh matahari diyakini sebagai sang Pencipta. Maka tidak mengherankan, lambang ayam sering ditambahkan pada lukisan-lukisan kuno Yesus karena umat Kristen meyakini bahwa Yesus adalah Sang Pencipta seperti ditulis dalam injil Yohanes, “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” (Yoh 1:3)

Tidak mengherankan bahwa banyak gereja memasang ornamen ayam, baik gereja Protestan maupun Katolik. Bagi umat Katolik ayam melambangkan Santo Petrus, paus pertama. Gereja-gereja Protestan di Norwegia dan Belanda memasang simbol ayam sebagai lambang Kristus, yang menghancurkan kuasa kegelapan, mengampuni dosa, dan menciptakan semuanya baru dengan kuasa kebangkitan-Nya.

Logo Manhattan Presbyterian Church

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa banyak hal dapat menjadi permenungan umat Kristen sepanjang tahun ayam api ini. Pertama, permenungan akan karya penebusan Kristus, yang terungkap jelas dalam rumusan aklamasi anamnesis, “Yesus Tuhan kami, dengan wafat Engkau menghancurkan kematian, dengan bangkit Engkau memulihkan kehidupan, datanglah dalam kemuliaan.” Kedua, permenungan akan kerahiman Allah. Kerahiman adalah jembatan yang menghubungkan Allah dengan manusia, yang memberi kesempatan kepada manusia untuk mengecap kasih Allah yang abadi di tengah kedosaannya. Ketiga, umat Kristen yang menantikan kedatangan Tuhan harus senantiasa berjaga-jaga dan mempersiapkan hidup agar berkenan kepada Allah. Keempat, hidup harus diisi dengan kerja keras dan perjuangan. Naluri untuk menyelamatkan diri selalu membuat ayam bergerak. Menurut para ahli astrologi Tiongkok tahun ayam api ini akan bergerak sangat dinamis, maka supaya dapat memanfaatkan sebesar-besarnya kesempatan di tahun ayam api ini, manusia harus bekerja keras. Kelima, lebih memperhatikan anggota keluarga seperti induk ayam mengerami telur-telurnya dan melindungi anak-anaknya di bawah kepak sayapnya.

Selamat memasuki Tahun Ayam Api!