Artikel

Renungan

MAKNA PERAYAAN MISA SYUKUR IMLEK

Dipublikasikan tanggal 24 January 2017

MAKNA PERAYAAN MISA SYUKUR IMLEK

Perayaan Syukur yang Berpusat pada Kristus

Pada hari Sabtu 28 Januari 2017 warga keturunan Tionghoa akan merayakan hari raya tahun baru Imlek 2568. Kata “Imlek” berasal dari dialek Hokkian yang berarti kalender bulan. Perayaan Imlek berlangsung selama 15 hari sampai dengan hari raya cap go meh, yang tahun ini akan jatuh pada tanggal 11 Februari 2017.

Hari raya Imlek dikenal juga dengan sebutan chunjie yang artinya pesta musim semi. Hari raya Imlek merupakan pesta rakyat untuk menyambut musim semi. Hari raya ini lekat dengan berbagai tradisi seperti bersih-bersih rumah, dekorasi rumah dengan berbagai pernak-pernik Imlek, serba merah, santapan malam Imlek, pagelaran barongsai dan tentu saja bagi-bagi angpaw. Yang pasti hari raya Imlek merupakan saat di mana seluruh anggota keluarga bertemu, bersilaturahmi, dan saling berbagi. Mereka saling memberi ucapan selamat dengan pengharapan agar di tahun yang baru segala hal dapat berjalan dengan sukses.

Pada tahun 1946 Presiden Soekarno menetapkan hari raya Imlek sebagai hari libur  di samping Ceng Beng serta hari lahir dan wafatnya Khonghucu. Namun kondisi berbalik setelah Orde Baru. Pada tahun 1967 Presiden Soeharto melarang perayaan kebudayaan Tionghoa termasuk Imlek dengan Inpres Nomor 14. Selama 33 tahun warga keturuan Tionghoa tidak bisa merayakan Imlek secara terbuka sampai saat Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur mencabut Inpres Nomor 14 tahun 1967 tersebut.  Pada bulan Februari 2002 Presiden Megawati Soekarnoputri mengumumkan bahwa mulai tahun 2003 Imlek menjadi hari libur nasional hingga saat ini.

Angin segar yang dihembuskan oleh Presiden Abdurrahman Wahid ternyata juga merambah ke gereja-gereja Katolik. Meskipun secara liturgi masih menimbulkan pro dan kontra, Misa Syukur Imlek dirayakan di banyak paroki di Keuskupan Agung Jakarta. Tentu saja keputusan menerima Yesus Kristus sebagai Sang Juruselamat tidak serta-merta menghilangkan hak untuk merayakan Imlek, terutama karena tradisi Imlek juga menawarkan nilai-nilai luhur yang tidak bertentangan dengan iman Katolik. Apabila dengan merayakan Misa Syukur Imlek umat beriman menjadi semakin dekat dengan Kristus, apa salahnya?

Oleh sebab itu, umat beriman perlu mempertimbangkan berbagai aspek ketika merayakan Misa Syukur Imlek, agar jangan sampai perayaan yang luhur ini hanya semacam euforia belaka dengan permenungan dan pemahaman yang sempit.

Jika kita membaca teks liturgi Misa Syukur Imlek yang telah disetujui oleh Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia, ada pilihan bacaan pertama terutama dalam Masa Prapaskah yang diambil dari Kitab Keluaran (Kel 12:1-5,14). Teks ini berbicara tentang ketetapan perayaan Paskah bagi bangsa Yahudi. Ada tiga hal dalam ketetapan Paskah Yahudi yang mirip dengan tradisi Imlek, meskipun secara teologis tentu saja kedua pesta ini berbeda:

  1. Lewat – TUHAN bersabda apabila Dia melihat darah anak domba pada tiang pintu dan ambang atas rumah orang-orang Yahudi, Dia akan “lewat”. Dari sinilah asal kata Paskah yang berasal dari kata Ibrani “pesach” yang berarti lewat. Allah akan melewati bangsa Mesir dan membebaskan bangsa Yahudi dari perbudakan untuk dibawa ke Tanah Terjanji sebagai bangsa yang merdeka. Ucapan selamat yang umum dalam merayakan Imlek adalah guonian, yang berarti melewati tahun. Maka merayakan Misa Syukur Imlek adalah saat dimana umat beriman berkumpul bersama dan bersyukur kepada Tuhan karena telah melewati satu tahun penuh dengan suka dan duka, dan sekaligus juga mempersiapkan diri menyambut tahun yang baru.
  2. Makan – Perayaan Paskah Yahudi pada dasarnya adalah sebuah perjamuan. Apabila sebuah keluarga Yahudi tidak dapat menyantap habis seekor anak domba, mereka dapat mengajak tetangga terdekat. Pada saat itulah terjadi komunikasi yang intim antara manusia dengan sesamanya. Imlek juga adalah momentum di mana seluruh anggota keluarga berkumpul untuk santap bersama. Di zaman modern ini santap bersama keluarga merupakan kesempatan langka, maka alangkah indahnya memanfaatkan santap Imlek untuk meningkatkan cinta kasih dan saling berbagi di antara sesama anggota keluarga. Rasa cinta kasih dan saling berbagi ini juga ditandai dengan pemberian angpaw.
  3. Merah – Warna merah dari darah anak domba menjadi pertanda agar TUHAN tidak mendatangkan bencana dan melewati rumah-rumah orang Yahudi. Warna merah mendominasi perayaan Imlek. Bagi orang Tionghoa warna merah melambangkan kekuatan, kesejahteraan, dan keberuntungan. Menurut tradisi, warna merah ini dapat mengusir makhluk buas bernama Nian yang keluar pada saat musim semi dan mengganggu manusia. Tidak heran mengapa orang-orang Tionghoa menghiasi rumah dan menggunakan pakaian serta aksesoris berwarna merah pada hari raya Imlek.

Paskah Yahudi dan Tahun Baru Imlek

Hal lain yang tidak dapat diabaikan adalah tradisi bersih-bersih rumah menjelang hari raya Imlek. Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, membersihkan rumah berarti membuang segala yang “sial” yang dapat menghalangi datangnya keberuntungan. Maka, merayakan hari raya Imlek terutama dipersiapkan dengan memeriksa batin dan bertobat. Kerap terjadi hari raya Imlek jatuh pada Masa Prapaskah atau bahkan bertepatan dengan hari raya Rabu Abu. Maka, penghayatan akan tradisi bersih-bersih ini justru semakin mendalam dengan penghayatan akan makna Prapaskah dan Rabu Abu.

Apakah Misa Syukur Imlek merupakan proses inkulturasi dalam lingkup Gereja Katolik? Rasanya masih panjang untuk diperdebatkan dan dipelajari. Oleh sebab itu, selayaknya misa syukur Imlek dirayakan dengan kesederhanaan. Boleh saja gereja dihiasi dengan pernak-pernik Imlek, namun jangan sampai berlebihan sehingga menimbulkan kesan bahwa “gereja disulap menjadi kelenteng”. Hiasan-hiasan tersebut jangan sampai mengalihkan perhatian umat dari Kristus yang menjadi pusat perayaan misa syukur Imlek.

Akhir kata, selamat hari raya Imlek! Xin nian kuai le, ji nian da ji! Pada kesempatan menyambut Tahun Baru Imlek ini kita memohon kepada Tuhan agar Dia berkenan memberkati Gereja kita, keluarga kita, orang tua kita, saudara-saudara kita, teman-teman kita, negara dan bangsa kita.

Gemar Berbagi Memperlancar Rezeki