Artikel

Renungan

AKULAH GEMBALA YANG BAIK

Dipublikasikan tanggal 08 May 2017

AKULAH GEMBALA YANG BAIK

Menelaah Karya Pastoral

Setiap kali umat Katolik berbicara tentang spiritualitas pastoral, pasti akan menyebutkan spiritualitas gembala baik, yang berarti bahwa Gereja dipanggil dan ditantang untuk menampilkan Kristus Sang Gembala Baik. Pertanyaannya adalah bagaimana Gereja menjadi gembala baik bagi umat dan dunia? Orang pun mulai memberikan berbagai contoh tanpa habis-habisnya: petugas sekretariat harus selalu ramah kalau mengangkat telepon, katekis harus selalu siap memberikan katekumenat kilat apabila ada orang yang perlu cepat dibaptis, pastor harus selalu siap diminta untuk pelayanan kapan dan di mana pun juga, SPSE harus selalu siap memberikan bantuan bila ada umat yang membutuhkan dll. Singkat kata, Gereja harus bersikap cepat tanggap dan pewartaan Injil harus menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari umat. Semua itu tentu saja benar, namun apakah spiritual gembala baik hanya berkisar seputar ketanggapan memberikan bantuan dan pelayanan semata-mata?

Hanya dalam injil Yohanes dikisahkan bagaimana Yesus menyatakan bahwa Dia adalah gembala yang baik (Yoh 10:11). Ada beberapa unsur dalam spiritualitas gembala baik, tetapi semuanya bermuara pada aktivitas mencintai. Setiap tenaga pastoral pertama-tama harus mencintai pekerjaannya, aktivitas kesehariannya dan lebih dari itu adalah mencintai setiap orang yang menjadi medan pastoralnya. Setidak-tidaknya seorang gembala yang baik memiliki tiga ciri dan ketiga ciri ini harus menjadi warna dari pelayanan seorang petugas pastoral:

  1. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya. Pelayanan pastoral bukan hanya kerja keras, tetapi ada unsur pengorbanan di dalamnya. Seorang pelayan pastoral mungkin saja telah bekerja keras, namun tidak dihargai. Dia bisa difitnah, tetapi tidak memiliki kesempatan untuk membela diri. Dia sering bingung dan tidak tahu ke mana harus bertanya, dan masih banyak lagi. Tidaklah heran kalau Paulus saja harus sampai mencucurkan air mata dalam pelayanannya (2 Kor 2:4)
  2. Gembala yang baik mengenal domba-dombanya dan domba-dombanya mengenalnya. Menurut Kardinal Julius Darmaatmadja, SJ, strategi gembala yang baik dalam berpastoral adalah dengan menggunakan data. Maka, seorang ketua lingkungan misalnya, harus mampu membangun data lingkungan, karena hanya dengan cara itu dia bisa mengenal umatnya dan umatnya mengenalnya. Cara pengumpulan umat lingkungan tentu saja melalui kunjungan umat. Kunjungan umat menjadi sarana utama dalam pelaksanaan penggembalaan jemaat. Sebab itu para gembala atau tim penggembalaan gereja perlu memberikan perhatian kepada pelayanan kunjungan pastoral ini. Bagaimana jemaat dapat mengenal gembalanya dan sebaliknya bagaimana gembala dapat mengenal jemaatnya dengan baik kalau tidak pernah melakukan komunikasi, dalam hal ini adalah dengan melakukan kunjungan pastoral?
  3. Gembala yang baik membawa domba-dombanya ke padang rumput. Kegiatan pastoral adalah bentuk cinta dan perhatian seorang gembala kepada umatnya. Tindakan ini mengalir dari misteri pewahyuan diri Allah dalam diri Putra-Nya, yang rela datang ke dunia dan mengurbankan dirinya demi keselamatan manusia. Maka, aktivitas pastoral harus menggambarkan sebuah komunio umat beriman dan cinta kasih pastoral hendaknya berbuah pada persekutuan yang kian erat antara umat dan Allah serta antar umat beriman. Gereja sebagai sebuah komunio dihadirkan untuk menciptakan kerukunan, dan bukannya perpecahan.

Cinta kasih pastoral seorang gembala tidak akan pernah bisa dirasakan umat apabila ia tidak berjumpa dan terjun langsung bersama mereka. Setiap orang Kristiani dipanggil untuk menjadi tenaga pastoral, tenaga kegembalaan. Karya pastoral kita adalah karya pastoral kasih, karya kegembalaan yang dibungkus dalam rahmat kasih, yakni kasih kita kepada Allah dan kasih kepada sesama, yang diteladankan oleh Yesus sendiri.

Tenaga Pastoral Harus Mencintai Setiap Orang yang Menjadi Medan Pastoralnya