Artikel

Renungan

RATU PARA MALAIKAT, DOAKANLAH KAMI

Dipublikasikan tanggal 10 May 2017

RATU PARA MALAIKAT, DOAKANLAH KAMI

Penghormatan kepada Bunda Maria Bukan Monopoli Umat Katolik

Penghormatan kepada Bunda Maria ternyata tidak hanya menjadi ciri khas umat Katolik saja, melainkan juga umat Kristen Ortodoks. Dalam liturgi Gereja-gereja Timur dikenal himne Akathistos, yang merupakan madah atau kidung pujian kepada Perawan Maria Bunda Allah (Theotokos). Himne ini dinyanyikan di Gereja-gereja Ortodoks di seluruh dunia selama lima hari dalam Masa Prapaskah dan menjadi persiapan rohani menjelang Pekan Suci. Sejarah madah-madah devosional kepada Bunda Allah sudah sangat tua. Pada abad IV kekaisaran Bizantin memulai penghormatan kepada Perawan Maria untuk memohon perlindungan dan doa perantaraannya.

Selain itu ada pula madah Axion Estin, yakni madah pujian kepada Bunda Allah yang didaraskan pada perayaan ekaristi menurut tradisi Bizantin (Ritus Timur). Axion Estin adalah kata-kata Yunani yang berarti “sungguh patut dan benar” dan menjadi dua kata pertama dalam madah tersebut:

Axion estin os alithos makarizin se tin theotokon, tin aimakariston ki panamomiton ki metera tou theou imon. Tin timioteran ton heruvim ki endhoxoteran asikritos ton serafim. Tin adhiafthoros theon logon tekoussan tin ontos theotokon se megalinomen.

yang diterjemahkan sebagai berikut:

Sungguhlah patut dan benar, memberkatimu, ya Sang Theotokos.
Yang selalu terberkati dan sangat termurni, serta Bunda dari Allah kita. Lebih terhormat dari Kerubim, dan tak terbanding lebih mulianya dari para Serafim, Yang tanpa cacat cela melahirkan Allah Sang Sabda. Sungguh kaulah Sang Theotokos, engkau kujunjung tinggi.

Madah Axion Estin didaraskan pada saat Doa Syukur Agung dan sebelum pengutusan pada perayaan ekartisti menurut tradisi Bizantin. Hal yang menarik dalam kidung Axion Estin adalah pengakuan tentang kedudukan Perawan Maria yang lebih terhormat dari para kerubim dan lebih mulia daripada serafim.

Kerubim adalah malaikat yang bertugas menjaga kekudusan. Dalam Kej 3:24, kerubim ditugaskan untuk menjaga Taman Eden agar manusia berdosa tidak dapat masuk lagi ke dalamnya. Dalam Kel 25 Allah menyuruh Musa untuk membuat Tabut Perjanjian sebagai tanda kehadiran Tuhan di tengah umat-Nya. Di setiap ujung Tabut harus dibuat patung kerubim, sebagai pertanda bahwa yang bersemayam di dalam Tabut merupakan sesuatu yang sangat suci dan kudus. Sedangkan serafim adalah salah satu makhluk surga yang disebutkan dalam kitab Yesaya (Yes 6).

Ada pula ikon Bunda Allah lain yang dinamakan Panagia Platytera. Panagia berarti “suci sempurna” dan merupakan gelar dari Perawan Maria. Platytera berarti “lebih lebar” atau “lebih lapang”. Panagia Platytera adalah ikon Bunda Allah dengan gambar Kanak-kanak Kristus di dadanya. Secara puitis sang ikonograf hendak menyampaikan bahwa dengan mengandung Sang Pencipta Jagad Raya di rahimnya, Perawan Maria telah menjadi “Platytera ton ouranon” yang artinya, lebih lapang dari langit. Ikon ini biasa diletakkan di atas altar di bagian kubah.

Ikon Panagia Platytera di Kubah Gereja Timur

Apakah umat Gereja Katolik memiliki keyakinan yang sama dengan umat Gereja-gereja Timur dalam hal penghormatan kepada Bunda Maria? Seorang filsuf dan teolog Fransiskan bernama Beato John Duns Scotus menyatakan hal yang sama tentang Perawan Maria. Pada hari Natal tahun 1299 Perawan Maria menampakkan diri kepada Duns Scotus dan peristiwa ini memberi inspirasi kepada beliau untuk membela dogma Maria dikandung tanpa noda dosa. Beliau diberi gelar “Doktor Mariologi”.

Beato John Dun Scotus, Doktor Mariologi

Bukti lain dapat dilihat dari rumus Prefasi. Dalam Tata Perayaan Ekaristi 2005 terdapat 61 rumus Prefasi. Dalam susunan rumus Prefasi, Prefasi Santa Perawan Maria menempati posisi ke-36 dan ke-37 mendahului Prefasi Malaikat. Maka, liturgi Misa Roma Katolik nampaknya juga menempatkan Bunda Maria di atas para malaikat. Demikian pula halnya dengan salah satu gelar Bunda Maria yakni “Ratu Para Malaikat” dalam Litani Santa Perawan Maria, yang diresmikan penggunaannya oleh Paus Sixtus V pada tahun 1587.

Bunda Maria juga sangat dihormati oleh umat Muslim. Namanya merupakan satu-satunya nama wanita yang diabadikan dalam Kitab Suci Al-Qur’an dan disebut sebanyak 34 kali. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT memilih Maryam di atas semua perempuan di seluruh dunia. Dengan demikian, penghormatan terhadap Bunda Maria bukanlah monopoli umat Katolik. Bagi umat Kristen, tidak dapat disangkal bahwa Bunda Maria telah mengambil bagian dalam karya keselamatan melalui imannya. Putra Allah sebagai Sang Juruselamat diterimanya terlebih dahulu dalam hatinya dan kemudian dalam rahimnya sebagaimana ketika dia menjawab “ya” kepada kabar keselamatan dari Allah melalui Malaikat Gabriel. Dalam fiat yang penuh iman itu Bunda Maria menerima keselamatan bagi semua umat manusia.

Selamat menjalankan bulan Maria penuh berkat!