Artikel

Renungan

MARTIRIA

Dipublikasikan tanggal 15 May 2017

MARTIRIA

Model Pengikut Kristus

Tugas dan tanggung jawab serta eksistensi pelayanan Gereja di dunia disingkapkan dengan lima pilar pelayanan Gereja yakni kerigma (pewartaan), diakonia (pelayanan), koinonia (persekutuan), liturgia (peribadatan), dan martiria (kesaksian). Dalam perkembangan sejarah Gereja ditemukan banyak orang yang telah merelakan hidupnya untuk mati sebagai martir demi mempertahankan imannya akan ajaran dan kesaksian hidup Yesus Kristus. Para martir bersaksi dengan caranya masing-masing untuk menyuburkan kehidupan Gereja hingga sekarang.

Berbicara tentang martir, umat Kristen pasti teringat akan Santo Stefanus yang sering disebut sebagai “martir pertama”, karena merupakan martir pertama dalam sejarah kekristenan. Kisah tentang Santo Stefanus diceritakan dalam Kis 6-7. Dia adalah salah seorang dari tujuh orang diakon yang diangkat untuk membantu para rasul. Dia sangat percaya kepada Yesus dan diurapi dengan Roh Kudus serta diberkati oleh Allah. Dia banyak berbicara untuk membela Yesus, sehingga banyak orang Yahudi yang menentangnya. Karena selalu kalah ketika berdebat dengan Stefanus, mereka memfitnahnya dengan tuduhan menghina Musa dan Allah. Mereka juga menghasut pemimpin-pemimpin agama Yahudi, sehingga akhirnya Stefanus dihadapkan kepada Mahkamah Agama (Sanhedrin).

Di Mahkamah Agama Stefanus harus menghadapi saksi-saksi palsu yang menuduhnya menghina Bait Allah dan perintah-perintah Musa. Meskipun demikian, Stefanus tidak menjadi takut, melainkan sebaliknya dia menyatakan sebuah pembelaan yang sangat meyakinkan. Dia mengingatkan bangsa Yahudi akan sejarah dan menghimbau mereka untuk bertobat dan mempersalahkan mereka karena telah bertindak fatal, bukan hanya karena mereka tidak mengakui Mesias, melainkan juga meyalibkan-Nya.

Pledoi Stefanus (Kis 7) menyulut kemarahan anggota-anggota Mahkamah Agama. Apalagi ketika dia dikuasai oleh Roh Kudus dan melihat kemuliaan Allah serta Yesus berdiri tepat di sebelah kanan Allah. Pernyataan Stefanus yang terakhir inilah yang membawanya kepada hukuman rajam. Dia pun diseret ke luar kota dan orang-orang mulai melemparinya dengan batu. Apakah dia melawan? Tidak sama sekali! Kitab Suci mencatat dua pernyataan terakhir sang martir: “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku” (Kis 7:59) dan “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka” (Kis 7:60). Setelah mengatakan hal itu, dia pun mati.

Mereka yang Bertahan Sampai Kesudahannya Akan Selamat (Mat 24:13)

Kisah martiria Santo Stefanus sangat mirip dengan kisah sengsara Yesus. Pengajaran Yesus banyak menyinggung perasaan pemimpin agama Yahudi, meskipun Dia berbicara tentang kebenaran. Akibatnya dia juga dihadapkan ke Mahkamah Agama, lengkap dengan saksi-saksi palsu (Mrk 14:56) juga dengan tuduhan bahwa Dia telah menghina Bait Allah (Mrk 14:58) dan menghujat Allah (Mrk 14:64). Karena itulah menurut para pemimpin agama Yahudi, Yesus patut dihukum mati.

Namun, Yesus pun tidak melakukan perlawanan. Terhadap orang-orang yang membencinya, Dia berdoa untuk mereka, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk 23:34). Demikian pula sesaat sebelum wafat, Dia berseru, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawa-Ku.” (Luk 23:46). Lewat kemiripan kisah sengsara Yesus dengan kisah martiria Stefanus, penginjil Lukas ingin menyampaikan amanatnya bahwa martiria atau kesaksian adalah model pengikut Kristus!

Zaman sekarang mungkin sudah bukan zaman martir lagi. Namun, bukan berarti bahwa umat Kristen tidak bisa menjadi “martir”. Umat beriman dapat memberi kesaksian dengan membaktikan diri untuk masyarakat, supaya mereka dapat hidup dengan lebih baik.  Kesaksian hidup para martir dapat menjadi pola kesaksian hidup umat Kristen dalam arus globalisasi dunia zaman ini. Setiap pelayanan selalu disertai dengan salib yang harus dipikul, tetapi barang siapa yang bertahan akan menang (Mat 24:13). Semua orang yang sudah dibaptis dipanggil untuk menjadi saksi-saksi Kristus. Ketika seorang saksi Kristus seolah-olah menderita kekalahan, sesungguhnya apa yang harus dilakukannya adalah bertahan demi kemenangan.