Artikel

Renungan

KASIH DAN KETAATAN

Dipublikasikan tanggal 18 May 2017

KASIH DAN KETAATAN

Mengapa Saling Bertautan?

Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya,” begitulah sabda Tuhan Yesus dalam bacaan Injil hari ini (Yoh 15:9-11). Sabda Yesus ini mengulang pernyataan-Nya, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yoh 14:15). Ternyata ada dua hal yang saling bertautan, yakni kasih dan kesetiaan. Tidak heran kalau ada ungkapan bahasa Inggris yang berbunyi, “Love is not an emotion, love is a devotion”. Kasih sejati bukan hanya sekedar emosi belaka.

Pada hari Valentine orang saling menyatakan kasih dengan memberikan kartu ucapan, bunga, coklat dll. berbentuk hati dan berwarna merah jambu. Tetapi amat langka seorang ibu memberikan coklat berbentuk hati kepada anaknya, padahal kasih ibu kepada anak tidak perlu diragukan lagi. Bukti kasih sejati sang ibu kepada anaknya adalah tindakannya. Dia mengandung anaknya di dalam rahimnya selama 9 bulan. Dia menanggung rasa sakit ketika melahirkannya. Dia yang mengasuh, merawat, dan membesarkan anaknya sampai dewasa dan bisa mandiri.

Lalu, bagaimana Allah membuktikan kasih-Nya kepada manusia? Santo Yohanes tidak ragu lagi menegaskan bahwa Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8). Jika Allah berbicara tentang kasih, Ia berbicara tentang diri-Nya sendiri. Maka, Dia tidak hanya berbicara tentang kasih, melainkan memberikan diri-Nya sendiri kepada manusia melalui Yesus Kristus. Dalam hal ini Santo Yohanes kembali dengan tegas menyatakan bahwa “tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh 13:15). Kasih Allah tanpa syarat dan tidak pandang bulu. Allah lebih dahulu mengasihi kita (1 Yoh 4:19) dan kasih Allah inilah yang seharusnya menggerakkan manusia untuk mengasihi-Nya dan mengasihi sesama.

Sekarang, bagaimana manusia membuktikan kasihnya kepada Allah? Hari ini Yesus menyatakan bahwa kasih kepada Allah dibuktikan dengan ketaatan. Dalam konteks duniawi taat berarti tunduk dan patuh kepada sesuatu atau seseorang. Ketaatan kepada hukum muncul karena adanya sangsi hukum. Ketaatan seorang hamba bisa dibeli dengan upah. Namun, ketaatan kepada Allah berbeda! Itulah sebabnya Yesus menambahkan, “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku …” (Yoh 15:10) Pada umumnya takut akan sangsi merupakan motivasi ketaatan. Namun, ternyata ada motivasi lain yang lebih dahsyat, dialah kasih! Ketika kasih mengisi diri manusia, yang mengalir keluar dari dirinya bukan lagi untuk memuaskan ke-aku-annya, melainkan untuk membahagiakan orang lain. Manusia yang tinggal di dalam Yesus pastilah hidup di dalam kasih dan mewujudnyatakan kasih itu menjadi gaya hidupnya.

Kasih dan ketaatan adalah dua sisi mata uang logam atau yin-yang. Kedua hal ini tidak dapat dipisahkan, saling melengkapi dan saling menyempurnakan. Kembali Yesus menambahkan, “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” (Yoh 15:14) Ketaatan adalah dasar sebuah persahabatan, dan bukankah dasar sebuah persahabatan adalah kasih? Kalau begitu hidup dalam Kristus artinya kasih demi kasih! Nabi Yeremia menyampaikan firman Allah kepada bangsanya, “Dengarkanlah suara-Ku, … dan ikutilah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu, supaya kamu berbahagia!” (Yer 7:23)

Selamat melewati hari Kamis penuh kasih dan ketaatan!