Artikel

Renungan

BUKANLAH ENGKAU YANG MEMILIHKU

Dipublikasikan tanggal 19 May 2017

BUKANLAH ENGKAU YANG MEMILIHKU

Melainkan Aku yang Memiihmu

Rasanya tidak ada umat Katolik yang tidak mengenal lagu “Aku Dengar Bisikan Suara-Mu” dari Puji Syukur ini. Namun, mungkin hanya sedikit umat Katolik yang menyadari bahwa salah sebaris lirik dari lagu ini diambil dari Injil Yohanes 15:16 yang menjadi bacaan Injil hari ini.

Memilih adalah bagian dari hidup manusia. Manusia memilih sekolah, universitas, tempat pekerjaan, pasangan hidup, kepala daerah, presiden, anggota DPR dan lain-lain. Orang yang memilih pasti memiliki kriteria dan tujuan yang hendak dicapai. Demi mencapai tujuan itu, dia harus berjuang. Maka alangkah indahnya kalau dalam setiap segi kehidupan manusia memiliki kriteria, memilih, lalu berjuang dengan pilihannya demi mencapai tujuan.

Meskipun demikian, kadang-kadang hak untuk memilih juga memiliki dampak buruk. Kowe jomblo, kakehan milih (Kamu jomblo kebanyakan milih)! Banyak anak lulusan SMP lebih memilih SMA daripada SMK. Setelah masuk SMA, mereka lebih memilih jurusan IPA daripada IPS. Padahal setelah lulus SMA, akhirnya masuk akademi jurusan pariwisata. Memilih kerap lebih didasarkan kepada gengsi daripada kebutuhan. Apalagi kalau pilihan banyak, tentu saja manusia akan lebih selektif dalam memilih. Orang yang sulit menjatuhkan pilihan akhirnya dicap sebagai pemilih atau pilih-pilih bulu!

Saya teringat dengan seorang teman saya di SD dulu. Dia memang pandai bermain sepak bola. Sayang perawakannya agak kecil sehingga dalam seleksi tim sepakbola yang mewakili sekolah, dia tidak terpilih. Karena guru olahraga tidak tega melihat kesedihan teman saya itu, akhirnya dia dipilih menjadi pemain cadangan. Pada pertandingan final seorang pemain inti sakit demam, sehingga teman saya menggantikannya. Ternyata dialah satu-satunya pemain sekolah kami yang berhasil mencetak gol dan meraih kemenangan dengan skor 1-0.

Proses memilih di dunia ini kadang diwarnai berbagai faktor. Ada pemilihan yang diwarnai dengan protes, persekongkolan, unjuk rasa, bahkan adu jotos. Asas pemilihan umum di Indonesia adalah langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Tetapi mengapa proses pilkada  atau pilpres kerap diakhiri dengan sengketa yang harus diputuskan di Mahkamah Konstitusi? Karena pemilu yang tidak adil menandakan demokrasi yang labil.

Hari ini kita mendengar sabda Tuhan, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” (Yoh 15:16) Inilah cara Tuhan memilih manusia yang akan diutus-Nya! Dia tidak pandang bulu, tidak pilih tebu. Semua orang diutus-Nya: laki-laki, perempuan, tua, muda, pandai, bodoh, kaya, miskin, cerewet, pendiam, rajin, malas, sombong, rendah hati …, tidak ada yang dikecualikan. Tugas perutusan yang diberikan kepada semua orang adalah supaya pergi, menghasilkan buah dan buah itu tetap. Apa yang harus berbuah? Tentu saja kerajaan Allah di bumi ini, kerajaan kasih harus berbuah.

Lalu apa artinya buah itu tetap? Yesus mengajarkan bahwa kalau buah itu tetap, apa yang diminta manusia kepada Bapa dalam nama Yesus akan diberikan-Nya kepadanya. Yesus juga pernah bersabda, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yoh 15:7) Buah itu tetap apabila manusia tinggal di dalam Kristus dan firman-Nya tinggal di dalam hati manusia.

Pertanyaan terakhir, kapan manusia dipilih Allah atau secara spesifik kapan saya dipilih? Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, Santo Paulus menegaskan, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” (Ef 1:4) Betapa berharganya manusia di mata Tuhan sehingga manusia dipilih sebelum dunia ini ada. Manusia dipilih bukan karena manusia memilih Dia. Dialah yang memilih manusia hanya untuk tiga tugas perutusan: pergi, menghasilkan buah, dan buah itu tetap ada.

Berbahagilah manusia yang telah dipilih-Nya!