Artikel

Renungan

KENAIKAN YESUS KE SURGA

Dipublikasikan tanggal 23 May 2017

KENAIKAN YESUS KE SURGA

Hal-hal yang Perlu Diketahui Umat

Hari Kamis tanggal 25 Mei 2017 Gereja merayakan Hari Raya Kenaikan Yesus ke surga. Hari raya ini dirayakan 40 hari setelah Paskah dan mendahului hari Pentakosta, hari kelahiran Gereja. Peristiwa ini dikisahkan dalam Injil Markus dan Lukas serta kitab Kisah Para Rasul. Di benua Eropa hari Kenaikan Yesus ke surga juga merupakan hari pesta rakyat.

Kenaikan Yesus ke surga mengakhiri kehidupan Yesus sebagai manusia di bumi. Disaksikan oleh para rasul, Yesus beralih kepada Bapa. Kenaikan Yesus ke surga mulai dirayakan sejak abad IV. Di Gereja Katolik dan Gereja-gereja Reformasi, kenaikan Yesus ditempatkan 40 hari setelah hari kebangkitan-Nya, dan jatuh pada hari Kamis minggu Paskah VI. Peristiwa ini juga dicatat dalam syahadat iman: “Yang naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang mahakuasa”.

Di Gereja Ortodoks, kenaikan Yesus merupakan salah satu dari 12 peringatan besar gerejawi. Peringatan ini dikenal dengan istilah Yunani Analepsis (kenaikan) atau Episozomene (keselamatan). Istilah kedua menggarisbawahi bahwa Yesus naik ke surga setelah menunaikan tugas-Nya untuk menebus dosa manusia. Menurut Kis 1:12 Yesus naik ke surga dari Bukit Zaitun yang seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem.

Dome of the Ascension, Bukit Zaitun, Israel

Makna Biblis dari Kenaikan

Menurut pemahaman orang Yahudi, Allah berdiam di tempat yang jauh lebih tinggi daripada tempat tinggal manusia. Untuk berjumpa dengan Allah, manusia harus “naik”. Dalam Kel 19:3 dikisahkan bahwa Musa “naik” menghadap Allah. Bangsa Yahudi dilarang “mendaki” gunung Sinai, karena “gunung itu harus dijaga baik-baik dan siapa pun yang kena kepada gunung itu pasti dihukum mati.” (Kel 19:12) Mereka diharuskan menguduskan diri supaya dapat mendengarkan suara Allah.

Teks-teks Biblis tentang Kenaikan

Injil Matius dan Yohanes tidak berbicara tentang kenaikan Yesus ke surga. Injil Markus (Mrk 16:19) mencatat, “Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.

Penginjil Lukas menulis lain, “Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke surga.” (Luk 24:50-51) Di kitabnya yang lain Lukas menempatkan peristiwa ini di Bukit Zaitun, empat puluh hari setelah Paskah. Ia mencatat, “Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.” (Kis 1:9)

Kisah kenaikan Yesus pun tidak disinggung oleh Santo Paulus dalam surat-suratnya. Meskipun demikian, dia menyatakan bahwa Yesus dimuliakan di sebelah kanan Bapa, “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.” (Kol 3:1)

Empat Puluh Hari Setelah Paskah

Dalam kitab Kisah Para Rasul, Lukas menyebutkan bahwa Yesus naik ke surga 40 hari setelah kebangkitan-Nya. Angka 40 merupakan angka simbolik, yang menyatakan waktu yang cukup lama untuk “mematangkan” atau “mempersiapkan”. Bangsa Israel mengembara di padang gurun 40 tahun sebelum berhasil masuk ke Tanah Terjanji. Sebelum memulai pelayanan, Yesus juga berpuasa 40 hari lamanya. Dalam kitab yang sama (Kis 13:31) Paulus menegaskan bahwa Yesus menampakkan diri kepada para rasul tanpa menyebutkan jumlah harinya. Dengan demikian, angka 40 memang merupakan angka simbolik.

Bukit Zaitun, tempat Yesus naik ke surga, dipercantik oleh Santa Helena, ibunda dari Kaisar Konstantinus dengan sebuah basilika yang indah. Di akhir abad IV, seorang wanita kaya Poemenia menyuruh membangun basilika yang lain. Basilika tersebut dihias dengan mosaik dan batu marmer yang berharga dengan model arsitektur Pantheon di Roma. Bangunan ini berbentuk bulat dengan pusatnya “jejak telapak kaki Yesus”.

Abad-abad berikut merupakan periode perebutan kekuasaan antara pasukan Muslim dan Kristen, sehingga pada akhirnya basilika  hancur. Pada tahun 1920 didirikan sebuah gereja besar yang didedikasikan kepada Hati Kudus Yesus, sedangkan sisa bangunan gereja berbentuk bulat milik Poemenia sejak abad XVI berubah menjadi sebuah masjid kecil berbentuk oktagonal.

Makna Teologis Kenaikan Yesus

Kenaikan Yesus ke surga memiliki makna-makna yang penting:

  1. Kenaikan Yesus mengakhiri pelayanan-Nya sebagai manusia di bumi. Allah mengutus Putra-Nya ke dunia dan kini Sang Putra kembali kepada Bapa.
  2. Kenaikan Yesus membuktikan bahwa Dia telah berhasil melaksanakan tugas-Nya untuk menyelamatkan dan menebus dosa manusia.
  3. Kenaikan Yesus menandakan kembali-Nya kepada kemuliaan surgawi. Ketika berada di dunia, kemuliaan Yesus sesaat nampak dalam peristiwa Transfigurasi (Mat 17:1-9)
  4. Kenaikan Yesus menyatakan bahwa Bapa meninggikan-Nya (Ef 1:20-23)
  5. Kenaikan Yesus adalah untuk menyediakan tempat bagi manusia (Yoh 14:2)
  6. Kenaikan Yesus adalah permulaan pelayanan-Nya sebagai Imam Besar Agung (Ibr 4:14-16) dan Pengantara dari suatu perjanjian yang baru (Ibr 9:15)
  7. Kenaikan Yesus menyatakan model kedatangan-Nya kembali. Dia akan kembali dengan cara yang sama seperti kenaikan-Nya (Kis 1:11)

Ikon Kenaikan Yesus ke Surga, Mahakarya Pelukis Pietro Perugino

Pesta Rakyat yang Berhubungan dengan Kenaikan Yesus

Kesaksian pertama peringatan Kenaikan Yesus dicatat oleh Uskup Kaisarea Eusebius (265-340). Kenaikan Yesus menjadi peringatan wajib dan sejak berabad-abad dikaitkan dengan pesta-pesta rakyat. Pesta-pesta rakyat ini sudah berusia sangat tua dan biasanya berhubungan dengan penyembuhan yang dikaitkan dengan "pemberkatan air“. Di Venezia dirayakan pesta besar yang disebut "Sposalizio del mare“ (It. “Perkawinan Laut”) di mana seorang uskup atau imam melemparkan sebuah cincin ke dalam air sebagai lambang dominasi kota Venezia terhadap laut. Di Bari dilaksanakan pesta rakyat untuk memberkati air laut, sedangkan di Firenze dirayakan “Festa del grillo” (It. “Pesta Jangkrik”)

Sposalizio del Mare, Pesta Rakyat di Venezia

Festa del Grillo. Pesta Rakyat di Firenze