Artikel

Renungan

INSPIRASI BACAAN KITAB SUCI

Dipublikasikan tanggal 20 July 2017

INSPIRASI BACAAN KITAB SUCI

Hari Minggu Biasa XVI – 23 Juli 2017

Keb 12:13,16-19; Mzm 86:5-6, 9-10, 15-16ª; Rom 8:26-27; Mat 13:24-43

Ketika para penulis kitab Perjanjian Lama berbicara tentang Allah, mereka menggunakan istilah-istilah yang sangat agung. Allah disapa dengan gelar Mahakuasa dan Dialah yang membelah laut Teberau serta memporakporandakan pasukan Mesir. Dia disembah oleh semua bangsa, termasuk orang-orang yang paling kaya dan paling berkuasa. Namun, Dia bukanlah diktator yang menggunakan kekuatan-Nya dengan sewenang-wenang, dan tidak sembarang memamerkan kehebatan-Nya. Sebaliknya Dia sangat lembut  dan penuh kasih. Allah yang Mahakuasa adalah Allah yang Mahapengasih dan Maharahim. Begitulah kira-kira makna dari teks Kitab Kebijaksanaan Salomo bab 12 dan Mazmur bab 86 yang menjadi bacaan pertama dan mazmur tanggapan pada misa hari Minggu biasa XVI. Bacaan pertama juga menegaskan bahwa dengan kelembutan dan kerahiman-Nya Allah ingin mengajarkan kepada manusia untuk selalu mengasihi sesamanya.

Bacaan kedua dari surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma sebaliknya berbicara tentang Allah dengan cara yang berbeda. Santo Paulus berbicara tentang kekuatan Roh Kudus, yang tinggal di dalam lubuk hati manusia yang paling dalam. Di sanalah Roh Kudus berdoa untuk kita kepada Allah Bapa, karena manusia tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa. Sayang banyak orang tidak menyadari bahwa Roh Kudus tinggal di hati mereka. Meskipun demikian, ketika manusia membiarkan dirinya dipimpin oleh Roh Kudus, Dia akan menganugerahi manusia dengan karunia-karunia-Nya. Doa yang diinspirasikan oleh Roh Kudus pasti sampai kepada Bapa.

Bacaan Injil berbicara tentang tiga buah perumpamaan dan sebuah penjelasan tentang perumpamaan yang pertama. Dalam perumpamaan pertama, yang dijelaskan di akhir perikop, Yesus menceritakan bagaimana Dia menaburkan benih gandum yang baik. Ketika gandum mulai berbulir, ditemukan pula lalang di tengah-tengah gandum. Lalang dan gandum Palestina memang mirip dan baru terlihat perbedaannya ketika mereka berbulir, karena bulir lalang berwarna hitam. Ternyata diam-diam Iblis menebarkan benih lalang. Bagaimana mungkin Yesus mengizinkan Iblis merusak karya-Nya? Untuk memahami hal ini, dapat ditarik benang merah dari bacaan pertama yang secara tegas menyatakan bahwa Allah adalah Allah yang Mahapengasih dan Mahapenyayang. Dia memberikan manusia kebebasan, dan dalam memelihara dunia ciptaan, Dia tidak menjadikan manusia sebagai bidak catur-Nya.

Para hamba pemilik ladang mengusulkan agar lalang itu dicabut saja, namun usul itu ditolak oleh pemilik ladang yaitu Yesus sendiri. Mengapa? Karena waktu mencabut lalang, bukan mustahil gandum ikut tercabut! Para hamba mewakili kaum fundamentalis, yang berupaya menumpas segala kejahatan dengan cara-cara yang cepat dan keras. Mereka adalah orang-orang yang merasa tidak punya dosa sama sekali, dan memaksakan sederetan aturan yang murni merupakan pemikiran mereka sendiri. Mereka biasa menebar ketakutan dan tindakan mereka cenderung mengandalkan kekerasan. Cara-cara yang ditempuh oleh kaum fundamentalis tidak dapat dibenarkan. Tidak ada manusia yang sempurna dan bebas dari dosa, oleh sebab itu manusia harus mengandalkan kerahiman Allah. Maka agama atau iman haruslah merupakan sarana untuk menghidupkan dan bukan mematikan sesama. Agama atau iman adalah sarana untuk mengasihi dan bukan untuk membenci sesama.

Perumpaan tentang biji sesawi dan ragi melukiskan pertumbuhan yang sangat mengesankan. Biji sesawi yang kecil dapat tumbuh menjadi pohon yang besar. Sedikit ragi dapat mengembangkan adonan dari tiga sukat tepung. Para pengikut Kristus tidak boleh gentar dan merasa diri sebagai kelompok minoritas. Kelompok minoritas pengikut Kristus justru disembunyikan di tengah komunitas yang besar, supaya dapat menjadi terang dan garam bagi orang lain. Benang merah dapat ditarik kepada bacaan kedua, yang menyatakan bahwa Roh Kudus, pribadi ketiga dari Allah Tritunggal memilih hati manusia sebagai tempat kediaman-Nya. Tanpa suara, tanpa gejala-gejala yang fenomenal, Roh Kudus menggerakan hati manusia untuk datang kepada Allah.

Allah baru akan menghakimi manusia secara definitif pada hari kedatangan Yesus yang kedua atau akhir zaman. Di sana lalang akan dipotong, dikumpulkan, lalu dibakar. Sedangkan gandum akan dituai dan dimasukkan ke dalam lumbung. Pada saat itu orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam kerajaan surga. Perikop Injil pun ditutup dengan sebuah pernyataan yang tegas, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”