Artikel

Renungan

INSPIRASI BACAAN KITAB SUCI

Dipublikasikan tanggal 10 August 2017

INSPIRASI BACAAN KITAB SUCI

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga

Why 11:19a, 12:1, 3-6a, 10ab

Mzm 45:10bc, 11, 12ab

1 Kor 15:20-26

Luk 1:39-56

Ajaran Gereja Katolik tentang Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga dimaklumatkan oleh Paus Pius XII pada tanggal 1 November 1950 dalam konstitusi Munificentissimus Deus, dan dirayakan setiap tanggal 15 Agustus. Di Indonesia hari raya ini biasa dirayakan pada hari Minggu terdekat dengan tanggal 15 Agustus. Dogma tentang Maria Diangkat ke Surga dirumuskan sebagai berikut: “Maria, Bunda Allah dan perawan kekal yang tak bernoda, diangkat ke dalam kemuliaan surgawi dengan jiwa dan raga setelah ia menyelesaikan jalan hidupnya di bumi.”

Bacaan pertama pada Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga diambil dari kitab Wahyu. Bacaan ini pertama berbicara tentang tabut perjanjian yang terlihat di Bait Suci Allah di surga. Dalam Litani Santa Perawan Maria disebutkan bahwa salah satu dari gelar Bunda Maria adalah “Tabut Perjanjian”. Tabut perjanjian adalah peti suci yang dibuat oleh orang Israel pada zaman dahulu. Di dalam tabut perjanjian terdapat tiga buah benda suci: buli-buli yang berisi manna (roti surgawi), tongkat Harun (bdk. Bil 17:8-10) yang pernah bertunas (tongkat Imam Agung) dan loh-loh batu yang bertuliskan perjanjian (sepuluh Firman Allah). Maria disebut sebagai tabut perjanjian, karena Maria mengandung Yesus dalam rahimnya, yang adalah Roti hidup (bdk. Yoh 6:35), Imam Agung menurut peraturan Melkisedek (bdk. Ibr 7:17, Mzm 110:4), dan Firman Allah (bdk. Yoh 1:14)

Selain itu, Yohanes juga mendapat penglihatan seorang perempuan. Dalam PL perempuan melambangkan umat Allah dan hal ini ditandai dengan mahkota dua belas bintang di atas kepalanya. Dua belas bintang melambangkan umat Allah baik dalam PL (dua belas suku bangsa Israel) maupun PB (dua belas rasul). Perempuan ini menghadapi ancaman dari seekor naga merah padam. Naga hendak menelan Anak yang sedang dikandung oleh perempuan itu, segera sesudah ia melahirkan-Nya. Umat Allah senantiasa harus “melahirkan” Kristus, dengan menyatakan-Nya dalam segala aktivitasnya dengan baik, meskipun berada di tengah-tengah kejahatan. Maria merupakan "typos" atau citra Gereja, karena merupakan tokoh yang perlu diteladani kaum beriman. Kalau Gereja terwujud karena manusia menanggapi karya penyelamatan dengan iman dan kasih serta dalam persatuan dengan Yesus Kristus, maka iman, kasih dan persatuan itu sudah secara unggul menjadi nyata dalam diri Maria melalui seluruh kehidupannya. 

Bacaan Injil diambil dari Luk yang mengisahkan tentang kunjungan Maria ke rumah Elisabet. Kunjungan ini memiliki banyak kemiripan dengan kisah upaya Daud memindahkan tabut perjanjian ke Yerusalem (2 Sam 6:1-11):

  1. Tabut perjanjian melewati Baale Yehuda  (2 Sam 6:2), demikian pula Maria berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda (Luk 1:39)
  2. Daud takut kepada TUHAN dan berkata, “Bagaimana tabut TUHAN itu dapat sampai kepadaku?” (2 Sam 6:9), sama seperti ucapan Elisabet  yang penuh dengan Roh Kudus, “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku mengunjungi aku?” (Luk 1:43)
  3. Daud dan seluruh kaum Israel menari-nari di hadapan TUHAN (2 Sam 6:5), seperti halnya bayi yang ada di dalam rahim Elisabet melonjak kegirangan mendengar salam Maria (Luk 1:44)
  4. Tabut Tuhan tinggal tiga bulan lamanya di rumah Obed Edom (2 Sam 6:11), demikian pula Maria tinggal tiga bulan lamanya di rumah Elisabet (Luk 1:56)

Dogma Maria Diangkat ke Surga harus dipahami dalam terang Kristus dan terang Gereja. Peristiwa Maria diangkat ke surga merupakan keikutsertaan Maria yang istimewa pada kebangkitan Puteranya. Di samping itu, peristiwa ini juga merupakan satu antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain (Katekismus Gereja Katolik No. 966). Bacaan kedua diambil dari 1 Kor 15 yang berbicara tentang kebangkitan.

Ketika Paulus berhadapan dengan mereka yang tidak meyakini bahwa ada kebangkitan orang mati, dia membuktikan argumentasinya dengan kebangkitan Kristus. Dia dibangkitkan sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Dia adalah Adam baru, yang menyelesaikan drama kehidupan manusia yang berdosa. Teologi dogma Maria Diangkat ke Surga berpusat pada ajaran tentang kebangkitan Kristus. Kalau Kristus dibangkitkan, demikian pula Maria, dan demikian pula seluruh umat beriman.

Mazmur tanggapan diambil dari Mzm 45 yang merupakan mazmur yang dinyanyikan pada waktu pernikahan raja Israel. Pemazmur memuji sang raja, sang mempelai pria sebagai yang tertampan di antara semua manusia, gagah dan perkasa, serta perbuatan-perbuatannya yang besar. Di sebelah kanan raja berdiri sang ratu berpakaian emas dari Ofir (Mzm 45:10).

Dalam dinasti Daud yang disebut sebagai ratu bukanlah istri dari raja, melainkan ibu dari raja, yang dalam bahasa Ibrani disebut gebirah. Sang Gebirah, Ibu Suri dari raja-raja Kerajaan Yudea, merupakan wanita yang paling penting dan berpengaruh di istana dan juga menjadi penasihat raja. Kata gebirah  muncul 15 kali dalam Perjanjian Lama. Dalam kitab-kitab 1 dan 2 Raj serta 1 dan 2 Taw para raja dinasti Daud disebutkan bersama dengan ibu surinya ketika mereka naik takhta. 1 Raj 2:19 mencatat bahwa Batsyeba menduduki kursi di sebelah kanan Raja Salomo. Ketika raja ditaklukkan, raja dan ibu suri mewakili lambang kerajaan (2 Raj 24:12).

Mengapa ibu suri menjadi wanita yang paling penting dalam Kerajaan Yudea? Barangkali karena raja kerap memiliki lebih dari satu istri, namun hanya memiliki seorang ibu. Dengan demikian ketika Yesus menjadi Raja keturunan Daud, tentu saja Bunda Maria menjadi Ratu-Nya. Pada abad IV, St. Efrem orang Siria menyebut Bunda Maria sebagai “Ratu”. Para Bapa Gereja sesudahnya tetap menggunakan gelar itu. Himne dari abad ke-11 dan ke-13 memuji Maria sebagai ratu: “Salam, ya Ratu Surgawi”. Berbagai jenis devosi yang dipraktikkan oleh misalnya imam-imam Dominikan dan Fransiskan atau Litani Santa Perawan Maria melambungkan pujian tentang keratuannya.

Bacaan Injil masih pula mencatat Nyanyian Pujian Maria (Magnificat), sebuah nyanyian yang keluar dari mulut seorang wanita yang sangat mencintai Allah. Dia melambungkan pujian dan syukur kepada Allah yang telah memberkatinya secara istimewa. Dia juga memuji kerahiman dan cinta kasih Allah kepada manusia, terutama mereka yang kecil, miskin, dan tersisihkan. Secara khusus Maria juga melambungkan madah pujian atas kasih Allah kepada bangsa Israel.  

Santa Perawan Maria, Tabut Perjanjian Baru

Gereja St. Stanislaus Kostka, California