Artikel

Renungan

MEMBANGUN SIKAP YANG BENAR TERHADAP MATERI

Dipublikasikan tanggal 21 August 2017

MEMBANGUN SIKAP YANG BENAR TERHADAP MATERI

BKS 2017 Pertemuan Minggu Kedua

Dunia abad XXI adalah dunia yang berpusat pada ekonomi dengan prinsipnya mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya. Maka, ekonomi menjadi senjata yang paling menakutkan, paling berkuasa dan paling ampuh. Manusia pun tumbuh menjadi materialis humanis, yang terus-menerus berjuang untuk mengejar keuntungan dan mencari kelebihan material, karena hal inilah yang dianggap sebagai penentu kesuksesan hidup. Lebih celaka lagi, Gereja pun menghadapi ancaman serius dari indoktrinasi materialisme. Maka, kepada Timotius St. Paulus menulis, “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (1 Tim 6:10)

Dalam konteks inilah umat beriman harus menghidupi nilai-nilai injili dan menawarkannya kepada sesama. Prinsip ekonomi harus dikembalikan kepada jalur kebenaran injili sehingga dapat membawa manusia kepada kesejahteraan sejati. Dunia yang dieksploitasi secara ekonomi adalah milik Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan kepada-Nya. Pengelolaan sumber daya alam harus sesuai dengan kehendak Tuhan, dan dengan demikian manusia tidak hanya tunduk kepada nafsu keserakahan dan kedagingan semata-mata.

Untuk itu Bulan Kitab Suci 2017 mengajak seluruh umat beriman untuk merenungkan sub tema kedua yakni “Kabar Gembira Berhadapan dengan Materialisme”. Bacaan diambil dari Injil Lukas 12:13-21 tentang perumpamaan orang kaya yang bodoh. Kisah dimulai ketika seseorang meminta kepada Yesus untuk menjadi penengah dalam hal pembagian warisan. Pada zaman itu, anak sulung mendapat dua bagian dari harta warisan (bdk. Ul 21:16-17). Nampaknya, orang yang berbicara kepada Yesus itu bukanlah anak sulung dan dia minta pembagian warisan dengan hak  yang sama untuk setiap ahli waris. Yesus menolak untuk menjadi penengah dalam pertikaian mereka dan menegaskan bahwa hidup manusia bukan semata-mata untuk mengumpulkan harta. Luk 12:15 dan kemudian diulang pada Luk 12:21 merupakan kunci pemahaman pengajaran Yesus ini.

Kemudian Yesus melanjutkan dengan menceritakan perumpaan tentang orang kaya yang bodoh. Dia sangat diberkati secara materi, dikatakan bahwa tanahnya “berlimpah-limpah hasilnya” (bdk. Luk 12:16). Sayangnya berkat melimpah dari Allah ini bukan dimanfaatkan sesuai dengan kehendak-Nya. Orang kaya ini hanya berambisi untuk menambah dan menumpuk kekayaannya. Maka, dia membangun lumbung-lumbung yang lebih besar daripada yang dia miliki, dan mulai merencanakan pensiun dini. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa hari itu adalah hari terakhir hidupnya di bumi ini. Dan Yesus menutup perumpamaan dengan berseru, “Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” (Luk 12:21)

Ada dua hal yang perlu direnungkan dari perumpamaan ini:

  1. Manusia tidak boleh mengabdikan dirinya untuk mengumpulkan dan menumpuk kekayaan. Allah bertanya kepada orang kaya yang bodoh itu, “… dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? (Luk 12:20). Pertanyaan ini mengingatkan kita kepada pemikiran yang tertulis dalam Pkh 2:18, “Aku membenci segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari, sebab aku harus meninggalkannya kepada orang yang datang sesudah aku.” Orang yang mengabdi kepada Mamon, tidak dapat mengabdi kepada Allah (bdk. Mat 6:24)
  2. Berkat dari Allah bukan untuk ditumpuk bagi diri sendiri, melainkan juga disalurkan menjadi berkat bagi sesama. Ketika ekonomi sudah kehilangan sifat manusiawinya, ekonomi akan menjadi suatu perilaku yang kejam sekali. Dengan menilai manusia dari aspek ekonomi, timbullah banyak masalah yang menyengsarakan manusia. Padahal Allah menciptakan bumi dan segala isinya agar manusia dapat hidup bahagia dan sejahtera. Ekonomi harus memperjuangkan kesejahteraan masyarakat luas, bukan hanya segolongan tertentu manusia.

Materi sangatlah kita butuhkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup. Oleh sebab itu, materi pada dasarnya tidaklah jahat, dan Allah tidak pernah melarang manusia menjadi kaya, selama manusia menyadari bahwa materi memiliki keterbatasan. Manusia jangan terjerumus ke dalam “tipu daya kekayaan” (bdk. Mat 13:22) dengan mengejar mati-matian kekayaan, tetapi tidak menemukan kebahagiaan sejati, apalagi keselamatan. Manusia harus selalu bersyukur atas segala berkat yang telah diterimanya dari Tuhan, sambil mengakui bahwa ada banyak hal lain yang jauh lebih penting daripada materi. Hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama jauh lebih penting daripada hubungan manusia dengan materi. Ketika manusia meninggal, dia tidak akan membawa kekayaan materi yang dikumpulkannya di dunia.

"...Ingatlah bahwa Tuhan yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan ..." (Ul 8:17-18)