Artikel

Renungan

INDIVIDUALISME, GAYA HIDUP MODERN

Dipublikasikan tanggal 29 August 2017

INDIVIDUALISME, GAYA HIDUP MODERN

Pertemuan Minggu Ketiga BKS 2017

Salah satu gaya hidup modern adalah sifat individualis. Sifat ini mengutamakan kepribadian dan kebebasan diri sendiri. Di satu sisi, individualisme dapat memacu manusia untuk belajar mandiri dalam melakukan segala sesuatu. Namun di sisi lain, individualisme memunculkan sifat egois karena menghilangkan sifat tolong-menolong, saling menghargai dan saling menghormati. Hal ini bertentangan dengan hakikat manusia sebagai makhluk sosial, yang tidak dapat hidup seorang diri saja dan pasti membutuhkan orang lain.

Individualisme dipacu oleh beberapa faktor antara lain perkembangan teknologi dan kondisi ekonomi negara yang semakin sulit. Perkembangan teknologi yang pesat membuat manusia tidak perlu bersusah payah melakukan hal yang diinginkan, sehingga timbul perasaan bahwa dia tidak memerlukan bantuan orang lain lagi. Kondisi ekonomi yang lesu semakin menjauhkan banyak orang dari kesejahteraan, sehingga mereka lebih sibuk dengan urusan mereka masing-masing demi mengejar keuntungan materi.

Pertemuan minggu ketiga BKS 2017 mengajak umat beriman untuk merenungkan bahaya individualisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sekarang ini. Saatnya bagi umat untuk lebih menghormati rasa solidaritas terhadap sesama, dengan membudayakan hidup gotong royong, saling menghargai, dan tidak mementingkan diri sendiri.

Bacaan diambil dari Kis 2:42-47 yang berbicara tentang cara hidup Jemaat Perdana. Orang-orang yang baru dibaptis pada hari Pentakosta bersama dengan para rasul bertekun dalam dua hal utama, yaitu pengajaran para rasul dan persekutuan. Pengajaran para rasul mencakup Kitab Suci  dan ajaran Kristus selama hidup di dunia serta pewahyuan yang diberikan-Nya kepada para rasul dari surga. Sedangkan persekutuan mencakup saling berbagi di antara umat Jemaat Perdana.

Dua kegiatan menjadi penanda persekutuan di tengah umat beriman. Pertama, memecahkan roti. Kegiatan “memecahkan roti” bisa berupa perayaan Ekaristi (bdk. Kis 2:46, 20:7, 1 Kor 10:16, 11:23-25) dan santap bersama yang disebut “perjamuan kasih” (bdk. Yud 1:12). Kegiatan berdoa meliputi doa-doa rutin bangsa Yahudi, entah itu tujuh kali seperti yang dipraktikkan oleh Daud (bdk. Mzm 119:164) atau tiga kali seperti yang dipraktikkan oleh Daniel (bdk. Dan 6:10), atau juga doa-doa lainnya. Ketekunan mereka dalam dua hal ini menunjukkan kehausan mereka untuk belajar, saling menguatkan, serta merenungkan misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus.

Karya Allah di tengah-tengah umat-Nya menimbulkan rasa “ketakutan” atau lebih tepat kekaguman di antara semua orang di Yerusalem. Mukjizat dan tanda ajaib dilakukan oleh para rasul, seperti  yang dilakukan oleh Yesus (bdk. Kis 2:22) menunjukkan bahwa Yesus terus berkarya di dunia lewat para rasul-Nya setelah kenaikan-Nya ke surga.

Kehidupan umat Jemaat Perdana merupakan kehidupan yang komunal. Mereka sangat guyub, sering bertemu dan berkumpul. Kesediaan beberapa umat untuk menjual harta miliknya untuk dibagikan kepada semua umat sesuai dengan kebutuhan masing-masing menunjukkan kasih Kristus yang sejati, maka semua milik umat adalah milik bersama (Yun. apanta koina). Hal ini mungkin dipicu oleh keyakinan bahwa Yesus akan segera datang kembali, sehingga harta benda dianggap kurang berguna lagi. Kis mencatat bahwa seorang wanita bernama Maria, selalu siap menyediakan rumahnya untuk umat berkumpul dan berdoa (bdk. Kis 12:12).

Teks ini juga mencatat tentang perkembangan dan pertumbuhan Gereja yang luar biasa. Tujuh kali Kis mencatat bahwa jumlah umat semakin banyak (bdk. Kis 2:47, 6:7, 9:31, 12:24, 16:5, 19:20, 28:30-31). Umat beriman berkumpul setiap hari untuk mengecap persatuan dalam Roh. Mereka berkumpul baik di Bait Allah maupun di rumah masing-masing secara bergilir. Dalam tradisi masyarakat Yahudi, santap bersama merefleksikan komitmen bersama dan persekutuan yang mendalam, baik antara umat dan Allah maupun di antara sesama umat.

Bagimana dengan kehidupan umat zaman sekarang? Praktik komunitas dewasa ini (lingkungan) nampak jauh dari komunitas jemaat perdana. Hampir semua ketua lingkungan selalu menyebutkan masalah yang sama: umat kurang peduli dengan kegiatan bersama entah itu misa lingkungan, doa rosario, pendalaman iman dll. Apakah hal ini menunjukkan bahwa umat beriman sekarang telah kehilangan semangat Jemaat Perdana? Namun, ada praktik cara hidup Jemaat Perdana nampaknya agak repot juga untuk diwujudkan di zaman sekarang, misalnya menjual harta dan uang hasil penjualannya dibagi-bagi kepada semua umat sesuai dengan kebutuhannya. Maka, untuk memulihkan kehidupan umat kepada semangat hidup Jemaat Perdana hanya mungkin dilakukan dengan memulainya dari diri sendiri. Pertama, dengan membiasakan diri untuk rajin bersekutu untuk berdoa bersama dan melakukan kegiatan-kegiatan rohani lainnya. Kedua, merelakan rumah menjadi tempat berdoa untuk semua anggota komunitas. Bahkan acara ramah tamah setelah kegiatan lingkungan ternyata mirip dengan perjamuan kasih yang dipraktikkan oleh Jemaat Perdana. Penulis surat kepada umat Ibrani dengan tegas menghimbau kepada semua umat beriman,

„Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.“ (Ibr 10:25)

Semua Milik Mereka Adalah Milik Bersama