Artikel

Renungan

HEDONISME DAN ETIKA KRISTIANI

Dipublikasikan tanggal 07 September 2017

HEDONISME DAN ETIKA KRISTIANI

Pertemuan Minggu Keempat BKS 2017

Kata “hedonisme” berasal dari bahasa Yunani “hedonismos”, yang berasal dari akar kata “hedone”, artinya kesenangan. Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kesenangan sebanyak mungkin. Hedonisme diawali dengan pertanyaan filsuf Sokrates pada awal abad V SM tentang apa yang sebenarnya menjadi tujuan akhir hidup manusia.   Muridnya, Aristippos dari Kirene menjawab bahwa yang menjadi hal terbaik bagi manusia adalah kesenangan.  Aristippos memaparkan bahwa manusia sejak masa kecilnya selalu mencari kesenangan dan bila tidak mencapainya, manusia itu akan mencari sesuatu yang lain lagi.  Pandangan tentang “kesenangan” (hedonisme) ini kemudian dilanjutkan seorang filsuf Yunani lain bernama Epikuros.  Menurutnya, tindakan manusia yang mencari kesenangan adalah kodrat alamiah.  

Pertemuan minggu keempat BKS 2017 mencoba mengajak umat beriman untuk merenungkan “Kabar Sukacia Berhadapan dengan Hedonisme”. Tanpa disadari banyak orang dewasa ini terjebak dalam pola hidup hedonis. Pola hidup hedonis selalu diarahkan pada kenikmatan, kesenangan dunia, dan menghindari perasaan-perasaan tidak menyenangkan. Hedonisme yang marak terjadi di kalangan masyarakat memicu banyak perilaku menyimpang hingga tindak kejahatan, seperti banyaknya kasus korupsi. Hedonisme juga mempengaruhi pola pikir manusia, meskipun seringkali dianggap sepele, karena perilaku ini telah menyebar luas di banyak kalangan dalam masyarakat. Tidak peduli di perkotaan atau di pedesaan, baik tua maupun muda, hingga remaja dan anak-anak, atau laki-laki dan perempuan, terkena pengaruh pola pikir hedonis. Sebagai bahan permenungan diambil bacaan dari Yak 3:14-4:3.

Pada perikop ini Yakobus membahas mengenai dua jenis hikmat dan mengkontraskannya. Hikmat yang pertama adalah hikmat yang bukan datang dari atas (hikmat duniawi) dan hikmat yang kedua adalah hikmat yang dari atas (hikmat sejati). Yakobus mengajukan sebuah pertanyaan  “Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi?” Pertanyaan ini adalah sebuah tantangan bagi sebagian orang yang merasa bijak dan berpengertian untuk mendemonstrasikan hal tersebut dalam bentuk perbuatan yang nyata.

Yakobus melihat kehidupan kekristenan sebagai sesuatu yang utuh dan integratif. Di tempat lain, Yakobus juga memberikan tantangan yang serupa, yakni “tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku” (bdk. Yak. 2:18). Iman yang benar akan tampak dalam perbuatan, demikian pula halnya hikmat dan pengertian yang berasal dari atas akan tampak dalam perbuatan dan perkataan.

Karakteristik kebijaksanaan digambarkan sebagai kelemahlembutan. Kontras dari kelemahlembutan adalah hati yang penuh dengan “iri hati dan mementingkan diri sendiri”.  Yakobus dengan tegas menyebutnya sebagai hikmat yang berasal dari dunia, nafsu manusia dan dari setan. Hikmat dari atas, sudah pasti, bukanlah hikmat manusia, melainkan anugerah Allah yang diberikan kepada manusia. Hikmat tersebut diperoleh dengan memintanya kepada Tuhan dengan iman dan bukan dalam kebimbangan (bdk Yak 1:6).

Dampak dari iri hati dan mementingkan diri sendiri menghasilkan perpecahan dan kekacauan dalam jemaat, serta segala macam perbuatan jahat. Sebaliknya hikmat yang dari atas membuahkan kebajikan dengan kemurnian sebagai tandanya yang pertama. Dalam khotbah di bukit, Yesus menyatakan bahwa berbahagialah orang yang murni hatinya, karena mereka akan melihat Allah (bdk. Mat. 5:8).

Kemudian, Yakobus mendaftarkan manifestasi sikap dan perilaku dari hikmat yang dari atas: pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Sifat-sifat ini menggambarkan orang-orang yang peduli terhadap orang lain dan yang bersedia untuk tunduk dan belajar dari orang lain.

Yakobus menyebut orang yang memiliki hikmat surgawi sebagai “pembawa damai.” Dalam dunia pertanian, pembawa damai digambarkan seperti orang yang menaburkan benih-benih kedamaian. Sama seperti Allah, yang juga menaburkan benih firman yang hidup (bdk. Mat 13:19), orang yang menabur perbuatan penuh damai akan menuai kebenaran.

Orang yang mengandalkan hikmat duniawi tentu bersahabat dengan dunia. Siapa yang bersahabat dengan dunia, tidak bersahabat dengan Allah. Ada beberapa hal yang penting diperhatikan mengenai persahabatan dengan dunia yakni:

  1. Suka bertengkar: pertengkaran  muncul dan datang dari hawa nafsu (bdk. Yak4:1). Hawa nafsu yang dimaksud adalah keinginan yang tidak terkendalikan, misalnya emosi yang berlebihan, sifat egois yang memuncak.
  2. Seorang sahabat dunia bertindak tanpa berdoa.
  3. Kalaupun sahabat dunia berdoa, mereka berdoa dengan cara yang salah. Doa mereka bermuara pada keinginan hawa nafsu daging yang sifanya sementara. Baik tidak berdoa maupun salah berdoa bisa mengakibatkan orang tidak menerima apa-apa dari Allah.

Hedonisme dan Etika Kristiani

Apakah pengikut Kristus tidak boleh bersenang-senang? Tentu saja boleh! Namun, kebebasan manusia untuk bersenang-senang dibatasi dengan tanggung jawab. Pengarang kitab Pengkhotbah mengajarkan bahwa segala bentuk kesenangan yang dikejar oleh umat dengan melupakan Tuhan adalah kesia-siaan. Dia ingin menegaskan bahwa hasil karya manusia di bumi tanpa Tuhan akan menghasilkan kebinasaan. Tuhanlah yang memberikan makna dan harapan bagi hidup manusia dan jaminan akan kebahagiaan kekal yang tidak akan hilang ditelan waktu.

Meskipun dunia dewasa ini dikuasai oleh paham hedonisme, umat beriman harus tetap menjaga hati dan pikiran. Kepada jemaat di Roma, Paulus menulis, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.“  (bdk. Rom 12:2)

Gaya hidup hedonis sudah merasuki segala lapisan masyarakat. Segala upaya dilakukan oleh manusia untuk meraih kesenangan, tidak peduli dengan melanggar batasan norma sosial atau norma agama sekalipun! Gaya hidup seperti ini jelas bertentangan dengan pandangan iman Kristiani. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Rasul Paulus menulis, "Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya." (bdk. Rom 13:12-14)

Virus Hedonisme Mengintai Manusia dari Masa ke Masa