Artikel

Renungan

AKU TIDAK MAU BERMEGAH SELAIN DALAM SALIB TUHAN YESUS

Dipublikasikan tanggal 14 September 2017

AKU TIDAK MAU BERMEGAH KECUALI SELAIN DALAM SALIB TUHAN YESUS

Pesta Salib Suci

Pesta Salib Suci tidak bisa dipisahkan dari Santa Helena dan puteranya Santo Konstantinus. Santa Helena berziarah ke Tanah Suci Yerusalem pada tahun 324 untuk mengucap syukur kepada Tuhan yang telah memberi banyak rahmat berkat kepada keluarganya. Dalam ziarah suci itu Helena berusaha mencari, dan akhirnya menemukan, salib Yesus pada tahun 326. Karena kegembiraannya menemukan Salib Kristus, Santa Helena meminta puteranya mendirikan sebuah gereja di atas bukit Golgota untuk menyimpan Salib Suci yaitu Gereja Makam Suci.

Menurut tradisi Salib Kristus berhasil ditemukan pada tanggal 3 Mei dan masih dirayakan di berbagi negara pada tanggal 27 April sampai dengan 4 Mei. Periode ini bertepatan dengan awal musim hujan, sehingga memiliki makna yang sangat penting dalam masyarakat agrikultur. Di Mexico pesta penemuan Salib Suci merupakan salah satu dari hari raya penting yang dirayakan oleh masyarakat di samping Pekan Suci, Pesta Santa Perawan Maria dari Guadalupe dan Carnaval (permulaan masa Prapaskah).

Yerusalem selalu menjadi tempat perebutan kekuasaan dan peperangan sejak dulu, bahkan hingga kini. Tentara Persia merebut Damaskus pada tahun 613 dan kemudian menguasai Yerusalem pada tahun 614. Gereja Makam Suci dirusak, dan potongan Salib Suci yang berada dalam Gereja dibawa pergi oleh pasukan Persia dibawah Raja Khusrau II. Kaisar Byzantine yaitu Heraclius mendapatkannya kembali setelah mengalahkan Khusrau pada tahun 628. Salib Suci dikembalikan ke Gereja Makam Suci pada tanggal 14 September tahun yang sama.

Sebuah kisah menceritakan bahwa Heraclius ingin mengembalikannya sendiri ke Yerusalem dalam perayaan meriah dan dengan membawa sendiri potongan salib itu ke Gereja Makam Suci yang berada di Kalvari. Ia mengenakan pakaian kebesarannya sebagai kaisar berhiaskan emas dan bertatahkan batu mulia menggendong Salib di pundaknya. Ketika Kaisar tiba di gerbang Yerusalem, tiba-tiba ia tak sanggup bergerak maju. Uskup Yerusalem, Zachary, yang menyambut kedatangan rombongan Kaisar mengatakan kepadanya bahwa dengan busana kebesarannya, Kaisar tidak menampakkan diri sebagai pengikut Yesus yang miskin dan rendah hati. Heraclius kemudian melepaskan jubah kekaisarannya dan sepatunya. Dalam jubah biasa dan bertelanjang kaki Heraclius dapat melanjutkan perjalannya membawa kayu Salib Kristus ke Kalvari, tanpa kesulitan. Sejak saat itu tanggal 14 September diperingati sebagai Pesta Salib Suci.

Mengapa umat beriman harus menghormati Salib Suci? Di penutup suratnya kepada umat di Galatia, Santo Paulus menulis dengan tangannya sendiri (bdk. Gal 6:11) dan dengan huruf yang besar-besar karena pesannya amatlah penting, “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” (bdk. Gal 6:14)

Bacaan pertama hari ini diambil dari Bil 21:4-9. Dikisahkan bagaimana bangsa Israel bersungut-sungut kepada Musa, sehingga TUHAN menghukum mereka dengan ular-ular tedung. Ketika mereka menyesali perbuatan mereka, mereka pun minta perantaraan Musa untuk memohon ampun kepada TUHAN. TUHAN menyuruh Musa untuk membuat sebuah patung ular dari tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang. Bangsa Israel melihat patung ular itu, dia tetap hidup meskipun terpagut ular. Pengarang injil Yohanes merenungkan teks ini secara baru dengan menyejajarkan patung ular yang tergantung di tiang kayu dengan salib Kristus. Maka, dia menegaskan, “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:14-15). Di tempat lain dia mencatat pernyataan Yesus, “Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” (bdk. Yoh 6:40)

Gereja merayakan Pesta Salib Suci sebab Kristus ditinggikan di salib. Yesus menderita dan wafat di salib demi keselamatan segenap umat manusia. Dengan salib-Nya Ia mengalahkan dosa dan menaklukkan maut. Sebab itu, salib bagi kita bukan lagi tanda penghinaan, melainkan tanda kemenangan. Umat beriman menandai diri dengan Tanda Salib dalam pengharapan akan mengambil bagian dalam kemuliaan dan kebahagiaan Kristus.

Persoalannya adalah, di tengah gaya hidup modern apakah manusia bersedia mengikuti Kristus dengan memikul salib penderitaan dan penghinaan? Pola hidup materialistis dan hedonis nampaknya semakin menjauhkan manusia dari Salib Kristus. Untuk itu, kata-kata Santo Fransiskus layak untuk selalu direnungkan saat mengenangkan Kristus dalam jalan salibNya, “Kami menyembah Engkau, ya Kristus, dan memuji-Mu, sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia.”

La Fiesta de la Santa Cruz (Pesta Penemuan Salib Suci) di Peru