Artikel

Renungan

KEPENUHAN HIDUP DALAM KRISTUS

Dipublikasikan tanggal 05 October 2017

KEPENUHAN HIDUP DALAM KRISTUS

Mengenal Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Kolose

Pengarang surat Kolose memperkenalkan diri sebagai Rasul Paulus baik di awal surat (1:1) maupun di akhir surat (4:18). Para Bapa Gereja (Ignatius, Yustinus, Origenes) menerima surat Kolose sebagai karangan otentik Paulus sendiri, meskipun sekarang surat Kolose dimasukkan ke dalam kelompok surat-surat Deutero Paulinum (yang diragukan sebagai karya asli Paulus). Ada banyak kesamaan antara surat Kolose dengan surat kepada Filemon (Flm):

  1. keduanya menyebut nama Timotius dan Paulus dalam salam pembuka (Kol 1:1; Flm 1).
  2. dalam kedua surat ini ada ucapan salam dari: Aristarkhus, Markus, Epafras, Lukas, dan Demas yang semuanya bersama Paulus pada waktu itu (Kol 4:10-14; Flm 23,24).
  3. Baik Kol maupun Flm mencatat bahwa Paulus pada saat itu sedang dipenjara (Kol 4:3; Flm 1)
  4. Kedua surat menyebutkan nama budak bernama Onesimus (Kol 4:9; Flm 12)

Surat Kolose kemungkinan ditulis sekitar tahun 60-62 M ketika Paulus menjalani hukuman sebagai tawanan rumah selama dua tahun di Roma (Kis 28:16,30). Maka, bersama-sama dengan surat Efesus, Filipi dan Filemon, surat Kolose merupakan surat-surat dari penjara.

Kota Kolose terletak di lembah Sungai Lukus (Turki bagian barat). Pada mulanya Kolose merupakan kota industri yang terletak strategis di jalur arteri yang menghubungkan kota Efesus dan kota Tarsus di provinsi Asia Kecil. Pada zaman Perjanjian Baru kota ini sebenarnya sudah tidak terlalu penting lagi, kalah bersaing dengan dua kota tetangganya, yaitu Hierapolis (terkenal dengan kuil Apollo dan sumber-sumber air-panas yang baik bagi kesehatan) dan Laodikia (kota tekstil) yang disebut dalam Kol 4:13. Hal menarik adalah bahwa Paulus tidak pernah mendirikan atau mengunjungi jemaat Kolose seperti tercatat dalam Kol 2:1. Seorang penduduk asli Kolose bernama Epafras kemungkinan menjadi orang yang pertama kali mewartakan Injil di sana (1:7). Meskipun memiliki komunitas Yahudi, jemaat Kolose nampaknya terdiri dari orang-orang bukan Yahudi (2:13).

Puing-puing Kota Kolose

Masalah yang timbul dalam jemaat Kolose adalah kehadiran sejumlah pengajar sesat yang menimbulkan keresahan dalam jemaat. Surat Kolose sendiri menyatakan bahwa ajaran palsu mereka merupakan filsafat kosong dan palsu (2:8), tradisi manusiawi (2:8), berhubungan dengan roh-roh alam semesta (2:8) dan malaikat-malaikat (2:18). Ajaran palsu itupun menuntut pelaksanaan aturan tentang makan-minum dan hari-raya, bulan-baru dan Sabat (2:16, 20-21) serta juga mengagungkan praktik-praktik  mati raga (2:21). Mengenai siapa dan bagaimana persisnya para pengajar palsu itu tidak ada kesatuan pendapat di antara para ahli tafsir modern. Tetapi, satu hal sudah jelas bahwa guru-guru palsu di Kolose menganggap Injil tentang Yesus Kristus, sebagaimana diwartakan dengan setia oleh Epafras, tidak cukup untuk memperoleh keselamatan. Mereka menambah dengan rupa-rupa pandangan mengenai unsur-unsur kosmis, kuasa-kuasa, dan malaikat-malaikat; menambah pula rupa-rupa peraturan tentang puasa, mati raga, ibadat dan hari-hari khusus. Mereka telah menggabungkan iman akan Kristus dengan gagasan-gagasan Yahudi dan kafir. Untuk menanggapi ajaran sesat ini, Paulus mengemukakan beberapa gagasan apologetika.

Keutamaan Kristus (1:15-23) 

Surat Kolose mengembangkan sebuah kristologi kosmis dengan menampilkan Kristus yang menang atas kekuatan dan kuasa alam-semesta. Dia sudah menjadi Tuhan dan Raja atas alam semesta. Kristus adalah “gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung dari segala ciptaan” (1:15). Di samping itu, Kristus adalah tujuan dari segenap ciptaan (1:16).

Kepenuhan Hidup dalam Kristus (2:6-15) 

Bagi Paulus keutamaan Kristus membuktikan kepenuhan ke-Allahan-Nya (2:9) dan dengan demikian para pengikut Kristus telah dipenuhi di dalam Kristus (2:10). Hal ini ditekankan oleh Paulus kepada jemaat Kolose, yang sedang menghadapi tekanan komunitas Yahudi untuk mengadopsi cara hidup bangsa Yahudi (2:8-23) seperti peraturan sunat,  halal haram (2:16, 21) serta kepatuhan akan hari-hari raya Yahudi (2:16). Demikian pula pengaruh para guru sesat yang menambahkan perantara-perantara lain seperti roh-roh dunia (2:8), para malaikat (2:18) atau berkanjang pada penglihatan-penglihatan (2:18). Manusia berdosa dikuburkan bersama Kristus dalam baptisan dan turut dibangkitkan juga di dalam Dia (2:12), sehingga hal-hal lain hanyalah bayangan saja yang sudah tidak dibutuhkan lagi (2:17).

Menjadi dan Hidup sebagai Manusia Baru 

Manusia baru yang sudah dipenuhi dengan kekayaan kasih karunia Allah ditantang untuk hidup sesuai dengan panggilan Injil (3:5-17) serta menjadikan rumah tangga mereka (hubungan suami dan istri, orang tua dan anak, majikan dan hamba) menjadi tempat untuk mencintai, mengampuni dan hidup dalam damai (3:18-4:1)

Apa yang meresahkan kehidupan jemaat Kolose bukan sejarah semata-mata, tetapi masih terjadi dalam kehidupan masyarakat modern. Banyak umat Kristiani masih percaya pada ramalan nasib entah itu dari astrologi (horoskop) atau para peramal. Juga pada masa kini banyak orang masih mengadakan perhitungan mengenai waktu dan hari yang baik untuk pernikahan, membuka usaha, melaksanakan upacara pemakaman dll. Banyak pula orang bertanya kepada “orang-orang pintar” yang dianggap mendapat pengetahuan khusus mengenai rahasia-rahasia surgawi.

Berkanjang pada Penglihatan-penglihatan 

Gereja sebagai tubuh Kristus memperoleh pertumbuhan dan perkembangan dari Kristus, Sang Kepala. Dalam Kristuslah berdiam seluruh kepenuhan Allah. Melalui Kristus manusia menerima semua yang mau disampaikan Allah mengenai diri-Nya. Manusia tidak memerlukan penglihatan, ramalan, perhitungan tentang hari baik dll., selain percaya kepada Kristus. Dengan karya dan sabda-Nya, salib dan kebangkitan-Nya, Kristus telah membuka jalan kepada Bapa dan menghilangkan segala rintangan. Manusia tidak perlu lagi takut akan roh-roh dan kuasa-kuasa. Cukuplah manusia berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia (2:6), sebab di dalam Dia semuanya diciptakan dan diperdamaikan.