Artikel

Aktualia

POLEMIK RELIKUI SANTO LUKAS PENGINJIL DI PADUA

Dipublikasikan tanggal 18 October 2017

POLEMIK RELIKUI SANTO LUKAS PENGINJIL DI PADUA

Penelitian DNA Santo Lukas

Menurut tradisi, Santo Lukas Penginjil lahir di Antiokhia Siria dan meninggal dunia pada usia 84 di Thebes Yunani pada sekitar tahun 150 M. Pada mulanya jenazahnya dimakamkan di Thebes (Yunani). Pada tahun 338 M sebagian relikuinya dipindahkan ke Konstantinopel. Setelah Kota Konstantinopel jatuh ke tangan Ottoman Turki, relikui tersebut dibeli oleh Raja George dari Serbia. Saat Serbia kemudian juga ditaklukkan oleh Ottoman Turki, relikui Santo Lukas tersebut  diselamatkan ke Venezia Italia. Sampai saat ini relikui Santo Lukas disimpan di Basilika Santa Giustina Padua.

Para peneliti internasional telah meneliti relikui Santo Lukas di Thebes dan menyimpulkan bahwa beliau memang adalah seorang Siria. Maka, pertanyaannya sekarang adalah apakah relikui yang tersimpan di Padua adalah benar sama dengan relikui Santo Lukas yang tersimpan di Thebes? Sebuah kelompok peneliti internasional yang dipimpin oleh Lucia Simoni, ahli genetik dari Departemen Antropologi Universitas Ginevra, telah menganalisis sampel DNA yang diambil dari relikui Santo Lukas di Padua dan menyimpulkan bahwa relikui itu memang berasal dari seorang manusia yang berkebangsaan Siria.

Pada tanggal 17 September 1989, sarkofagus besi yang berisi tubuh yang dikaitkan dengan Santo Lukas dibuka. Peti itu berisi sebuah peti mati dari timbal dengan ukuran yang kompatibel dengan ukuran peti mati yang terdapat di makam Santo Lukas di Thebes. Di dalam peti mati itu terdapat rangka tulang manusia yang berjenis kelamin pria. Tulang-tulang itu sudah mulai terserang osteoporosis dan mengalami deformasi, hal mana membutkikan bahwa pria tersebut ketika meninggal sudah berusia lebih dari 70 tahun.  

Sampel DNA diambil dari akar gigi pria tersebut. Sampel tersebut dibersihkan terlebih dahulu supaya bahan-bahan genetik asing dapat dipisahkan. Sampel DNA tersebut terbukti mirip dengan DNA orang-orang Siria Utara, Yunani, dan Pulau Kreta. Para ahli dari Universitas Arizona dan Universitas Oxford telah melampirkan bukti-bukti tes karbon 14 dan memperkirakan bahwa tahun kematian pria tersebut adalah antara tahun 72 dan 416 M.

Penelitian DNA menghapus dugaan bahwa tubuh yang dimakamkan di Basilika Santa Giustina adalah sama dengan tubuh yang dimakamkan di Thebes dan berasal dari seorang pria dari daerah Siria Utara. Selama ini ada dugaan bahwa bagian tubuh Santo Lukas yang dipindahkan dari Thebes telah ditukar dengan tubuh manusia lain ketika berada di Konstantinopel.

Apapun hipotesis manusia, relikui Santo Lukas Penginjil di Baslika Santa Giustina tetap dihormati oleh umat beriman. Hari ini dan setiap tanggal 18 Oktober setiap tahunnya, Gereja memperingati pesta Santo Lukas Penginjil, tabib dan penulis Injil ketiga serta Kisah Para Rasul.

(dari berbagai sumber)

Sarkofagus Santo Lukas Penginjil di Basilika Santa Giustina Padua