Artikel

Renungan

BUNDA MARIA, WANITA EKARISTI

Dipublikasikan tanggal 19 October 2017

BUNDA MARIA, WANITA EKARISTI

Ecclesia de Eucharistia, Surat Ensiklik Paus Santo Yohanes Paulus II

Ecclesia de Eucharistia merupakan surat ensiklik Paus Santo Yohanes Paulus II yang ke-14 dan dimaklumatkan pada tanggal 17 April 2003, yang merupakan tahun Rosario dan tahun ke-25 pontifikat Sri Paus. Surat ensiklik ini dimaksudkan untuk menawarkan sebuah permenungan yang lebih dalam tentang misteri Ekaristi dalam hubungannya dengan Gereja. Dokumen gerejawi ini relatif singkat, namun sarat dengan aspek teologis, disiplin, dan pastoral.

Dalam bab terakhir (bab VI) surat ensiklik ini, Paus Santo Yohanes Paulus II berbicara tentang “Sekolah Maria, Wanita Ekaristi”. Ketika umat ingin menemukan kembali seluruh kekayaan dan kedalaman hubungan Gereja dengan Ekaristi, mereka tidak boleh melupakan Bunda Maria. Dalam doa Rosario, Santa Perawan Maria adalah guru umat beriman dalam merenungan wajah Kristus dalam misteri-misteri, yang salah satunya adalah penetapan Ekaristi (Peristiwa Terang V). Maka, Bunda Maria dapat membimbing umat beriman ke dalam sakramen mahakudus ini.

Meskipun Injil tidak mencatat kehadiran Bunda Maria dalam kisah penetapan Ekaristi, kita tahu bahwa dia hadir di antara para rasul yang tekun dengan sehati dalam doa (bdk. Kis 1:14). Tentu Bunda Maria hadir dalam perayaan Ekaristi pada Jemaat Perdana, yang setia pada ibadat “pemecahan roti” (bdk Kis 2:42, 46). Selain itu hubungan antara Bunda Maria dan Ekaristi sudah dimulai dengan persiapan batinnya, karena Bunda Maria adalah “Wanita Ekaristi” dalam seluruh hidupnya.

Ekaristi adalah misteri iman, maka tak seorang pun yang setara dengan Maria dalam membantu dan membimbing kita untuk mencapai panggilan pengaminan sabda Allah. Dengan mengulangi apa yang dilakukan oleh Kristus pada Perjamuan Terakhir sesuai dengan perintah-Nya, “Lakukanlah ini sebagai peringatan akan Daku!”, kita juga menerima undangan Maria untuk menaati Kristus tanpa keraguan, “Lakukanlah apa yang dikatakan-Nya kepadamu!”. (bdk Yoh 2:5)

Ekaristi sebagai peringatan sengsara dan kebangkitan Kristus, adalah kelanjutan dari misteri Penjelmaan. Pada peristiwa Kabar Gembira, Maria mengandung Putra Allah dalam kenyataan fisik tubuh dan darahnya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pada tingkat tertentu, Bunda Maria terlebih dahulu menyambut tubuh dan darah Tuhan dalam dirinya. Hal tersebut terjadi secara sakramental dalam diri umat beriman ketika mereka menyambut Ekaristi. Ketika umat menjawab, “Amin!”(artinya “aku setuju”) sewaktu menyambut tubuh Tuhan, kita melihat kemiripan yang mendalam dengan Fiat Maria, “jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (bdk. Luk 1:38).

Pada peristiwa Maria mengunjungi Elisabet, Maria yang mengandung Sang Sabda dalam rahimnya menjadi “tabernakel” perdana dalam sejarah. Putra Allah, yang pada saat itu masih belum terlihat oleh mata manusia, membiarkan diri-Nya disembah oleh Elisabet. Sepanjang hidupnya di samping Kristus, Maria telah membuat dirinya menjadi dimensi kurban dari Ekaristi, terutama di Kalvari. Tubuh Kristus yang diserahkan bagi kita dan dihadirkan secara sakramental dalam Perayaan Ekaristi adalah tubuh yang sama yang dikandung oleh Bunda Maria dalam rahim dan hatinya.

Di kaki salib Yesus menyerahkan bunda-Nya kepada murid kesayangan-Nya. Pengalaman peringatan wafat Kristus dalam Ekaristi berarti pula melanjutkan menyambung karunia ini. Seperti Yohanes, umat beriman menyambut Bunda Maria, yang diberikan kepada kita sebagai Bunda. Sejak saat itu umat beriman masuk ke dalam “Sekolah Maria”. Maria, yang selalu hadir bersama Gereja dan sebagai Bunda Gereja, tak terpisahkan dari Ekaristi. Inilah salah satu alasan, mengapa, peringatan akan Maria selalu menjadi bagian dalam perayaan Ekaristi.

Terakhir, umat beriman harus menimba semangat Ekaristis lewat pemahaman ulang Magnificat, nyanyian pujian Maria. Madah Maria ini adalah madah pujian dan syukur. Inilah sebenarnya sikap “Ekaristis sejati”. Kemudian, Maria mewartakan tentang misteri penjelmaan sebagai penggenapan janji Allah. Akhirnya, setiap kali Putra Allah datang kembali kepada kita dalam tanda sakramental roti dan anggur, Maria melukiskannya dengan agung, “Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar ” (bdk. Luk 1:53). Singkat kata Magnificat mengungkapkan spiritualitas Maria, spiritualitas yang paling agung untuk melmbantu kita memahami misteri Ekaristi.

Bunda Maria, Wanita Ekaristi dalam Seluruh Hidupnya