Artikel

Renungan

YA TUHAN, SAYA TIDAK PANTAS TUHAN DATANG KEPADA SAYA

Dipublikasikan tanggal 04 December 2017

YA TUHAN, SAYA TIDAK PANTAS TUHAN DATANG KEPADA SAYA

Tetapi Bersabdalah Saja, Maka Saya Akan Sembuh

Kata-kata di atas selalu diulang sesaat sebelum umat Katolik menerima Tubuh Kristus dalam perayaan Ekaristi. Kata-kata ini ternyata keluar dari mulut seorang perwira Romawi, berarti orang bukan Yahudi. Melihat kisah ini terjadi di Kapernaum, kemungkinan perwira ini adalah orang Fenisia atau Suriah. Jabatan perwira (Yun.  centurion), berarti pejabat militer yang mengepalai 100 orang pasukan.

Sang perwira menemui Yesus dan memohon kepada-Nya, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” (Mat 8:6). Kata Yunani untuk “hamba” yang dipergunakan oleh sang perwira adalah "pais", yang bisa berarti "hamba", tetapi juga “anak laki-laki”. Kemungkinan besar hamba perwira yang sakit ini adalah "tangan kanan" atau orang kepercayaannya yang dia kasihi sama seperti seorang anak. Maka, tidaklah heran orang bukan Yahudi ini memohon kepada Yesus untuk menyembuhkan orang bukan Yahudi lainnya.

Yesus melakukan penyembuhan jarak jauh, dan dalam injil Matius hanya dua kali Yesus melakukan penyembuhan jarak jauh; kisah yang lainnya adalah penyembuhan anak perempuan Kanaan (bdk. Mat 15:21-28). Sang perwira menyatakan bahwa ia tidak pantas menyambut kedatangan Yesus di rumahnya. Ada dua alasan yang mungkin melandasi hal ini. Pertama, dia tahu kebiasaan orang Yahudi yang tidak mau menginjakkan kakinya di rumah orang bukan Yahudi. Kedua, perwira ini nampaknya mengetahui kekuasaan Yesus yang mahadahsyat.

Oleh sebab itu, sang perwira berkata kepada Yesus, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” (Mat 8:8). Di dalam kekaisaran Romawi, Kaisar memengang kekuasaan tertinggi. Ketika seorang perwira memberi perintah kepada bawahannya, maka sesungguhnya perintah Kaisarlah yang sedang disampaikan olehnya. Ketika seorang pasukan menolak perintah atasannya, hal ini berarti bahwa dia menolak perintah Kaisar. Sang perwira menyadari bahwa Yesus bertindak dengan sistem yang kurang lebih sama. Yesus mengemban kekuasaan Allah, maka ketika Yesus bersabda, Allah bersabda. Menyangkal Yesus berarti menyangkal Allah.

Yesus memuji iman perwira asing ini dengan berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel.” (Mat 8:10). Setiap kali Yesus bersabda, “Aku berkata kepadamu …”, hal itu berarti bahwa Yesus akan mengajarkan suatu hal yang mahapenting.  Dia kemudian menggambarkan bahwa akan ada pesta yang diikuti oleh semua orang yang percaya kepada-Nya. Mereka yang dapat ikut serta dalam pesta itu adalah mereka yang mau menjalin persahabatan dengan Allah dan persahabatan itu terjadi ketika manusia mau membuka hati bagi Allah.

Setiap kita akan menerima Tubuh Kristus dalam perayaan Ekaristi, kita mengucapkan hal yang sama. Cukupkah hanya berhenti pada pengakuan itu? Tentu saja tidak, pada kita selalu ada tantangan, apakah yang harus kita lakukan selanjutnya supaya memiliki iman sekokoh perwira Romawi itu?