Artikel

Renungan

KETIKA HARI RABU ABU BERTEPATAN DENGAN HARI VALENTINE

Dipublikasikan tanggal 13 February 2018

KETIKA HARI RABU ABU BERTEPATAN DENGAN HARI VALENTINE

Pantang Daging pada Hari Raya Imlek

Hari Rabu, 14 Februari 2018, merupakan hari Rabu Abu, permulaan Masa Prapaskah, masa pertobatan bagi semua umat Katolik yang akan berpuncak pada sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus. Pada tahun ini terjadi peristiwa yang cukup unik, karena hari Rabu Abu jatuh bertepatan dengan hari Valentine, hari kasih sayang. Peristiwa ini terjadi terakhir kalinya pada tahun 1945, tujuh puluhan tahun yang silam.

Hal ini memang menimbulkan kesulitan bagi umat Katolik di benua Eropa dan Amerika. Menurut kanon 1251 Kitab Hukum Kanonik, umat Katolik diwajibkan untuk berpuasa dan berpantang pada hari Rabu Abu dan hari Jumat Agung. Sedangkan, hari Valentine biasa dirayakan dengan pesta makan malam romantis di restoran-restoran, seperti gencar dipasarkan lewat pelbagai media sosial. Bagi penggemar sepakbola, tanggal 14 Februari 2018 memulai babak 8 besar Liga Champions, yang biasa ditonton di bar-bar atau restoran-restoran lengkap dengan santap malam dan minuman beralkohol.  

Beberapa orang uskup di Amerika Serikat telah mengeluarkan pernyataan bahwa hari Rabu Abu harus diprioritaskan lebih utama daripada hari Valentine. Bagi mereka yang hendak merayakan hari kasih sayang bersama dengan orang yang dikasihi, dapat melaksanakannya sehari sebelum atau sesudahnya. Hari Selasa sebelum hari Rabu Abu dirayakan di benua Eropa dan Amerika sebagai hari Mardi Gras, yang berasal dari bahasa Perancis dan berarti Selasa yang Berlemak.

Meskipun tidak sepopuler di benua Eropa dan Amerika, tidak sedikit umat Katolik yang juga merayakan hari Valentine. Perlu dicatat, bahwa tidak ada dispensasi apa pun dari Keuskupan Agung Jakarta tentang kewajiban berpuasa dan berpantang pada hari Rabu Abu. Lalu, bagaimana caranya umat Katolik merayakan hari Valentine pada tahun ini?

Caranya sebenarnya sangat mudah dan sederhana. Ada satu ayat Kitab Suci yang menjadi permenungan umat Katolik pada hari Rabu Abu:

“Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” (Mrk 1:14)

Umat Kristen berpuasa dan berpantang dalam rangka pertobatan karena Kerajaan Allah sudah dekat! Apa yang dimaksud dengan Kerajaan Allah? Kepada jemaat di Roma Santo Paulus menulis,

“Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” (Rom 14:17)

Umat Katolik berpuasa dan berpantang dalam rangka pertobatan supaya meraih “kebenaran”, dalam arti berdamai dengan Allah dan sesama, karena dosa adalah perbuatan manusia yang melawan hukum kasih kepada Allah dan sesama. Ini semua tidak perlu dilakukan dengan perasaan berat hati atau dengan muka murung, karena kerajaan Allah adalah kerajaan sukacita. Santo Paulus juga menulis,

“… kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Rom 5:5)

Hari Rabu Abu adalah hari yang tepat untuk merenungkan kasih Allah yang luar biasa kepada umat manusia. Penulis injil Yohanes mencatat,

“Tiada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang sahabat yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh 15:13)

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:16)

Hari Rabu Abu dan hari Valentine sama-sama berbicara dan mengagungkan cinta kasih, dan cinta kasih hanya dapat dirasakan dalam kebenaran, damai sejahtera dan sukacita. Oleh sebab itu, tidak perlu dipertentangkan hari Rabu Abu dan hari Valentine. Tentang makanan dan minuman yang menjadi pengisi kedua hari itu, tentu saja bukan hal yang utama.  Kita tentu masih ingat lirik lagu yang dilantunkan oleh almarhum Gombloh, “Kalau cinta sudah melekat, tahi kucing serasa coklat.” Ada banyak hal yang bisa melambangkan cinta kasih jauh lebih hebat daripada sekedar candlelight dinner! Ketika seseorang mempersembahkan pertobatannya kepada Allah demi orang yang dikasihinya, sudah menjadi pernyataan cinta kasih yang luar biasa dahsyat.

Kisah Sengsara Yesus, Kisah Kasih yang Paling Luhur

Satu lagi fenomena menarik tahun ini adalah hari raya Imlek yang jatuh pada hari Jumat, 16 Februari 2018, hari pantang bagi umat Katolik. Umat Katolik yang merayakan Imlek kembali menghadapi dilema yang sama. Kebijaksanaan pastoral di setiap keuskupan tidak sama. Ada keuskupan yang memberikan dispensasi pantang pada hari itu bagi umat Katolik yang merayakan Imlek dengan menimbang kanon 85 (dispensasi) dan kanon 1249-1253 (hari-hari tobat). Keuskupan Agung Jakarta juga telah mengeluarkan pernyataan usulan kebijakan pastoral berkaitan dengan Perayaan Imlek 2018 dengan surat No. : 034/3.5.1.2/2018. KAJ mengharapkan agar umat tetap pantang pada hari tersebut, namun bisa juga mencari hari lain untuk menggantikannya.

Pelbagai kebijakan pastoral yang dikeluarkan tentu saja bukannya tanpa dasar. Gereja Katolik menghargai makna dari peristiwa budaya Imlek yang masih dihayati oleh sebagian orang Tionghoa yang beragama Katolik. Perayaan Imlek adalah perayaan kehidupan yang menghargai dan menghormati Tuhan, manusia dan alam ciptaan-Nya. Maka, perayaan Imlek merupakan perayaan pendamaian antara manusia dan Allah, manusia dan sesama, serta manusia dan alam ciptaan. Inilah makna inti dari perayaan imlek yang harus dipetik oleh umat Katolik yang merayakannya. Imlek merupakan sarana perwujudan adat istiadat yang menjadikan manusia sebagai manusia bijak (仁). Perayaan Imlek juga merupakan perayaan syukur bersama dengan keluarga, komunitas dan masyarakat. Maka, perayaan Imlek harus diwujudkan dengan berbela rasa dan berbagi kepada sesama yang miskin dan menderita.

Kalau begitu, hari Rabu Abu jatuh bertepatan dengan hari Valentine, hari raya Imlek bertepatan dengan hari berpantang, siapa takut?

Perayaan Imlek, Kesempatan Berbagi dan Berbela Rasa