Artikel

Renungan

MEMPERINGATI HARI PEDULI SAMPAH NASIONAL

Dipublikasikan tanggal 21 February 2018

MEMPERINGATI HARI PEDULI SAMPAH NASIONAL

Reformasi Spiritual Dimulai dengan Peduli Sampah

“Tidy Up with KonMari!” adalah program televisi NHK World yang laris ditonton oleh pemirsa TV. Pembawa acara televisi ini adalah Marie Kondo, seorang wanita yang memperkenalkan ilmu tentang seni berbenah rumah yang diberi nama KonMari. Marie Kondo menegaskan bahwa membenahi rumah adalah resep ajaib untuk menciptakan kehidupan yang berwarna dan bahagia. Dia juga mengarang sebuah buku yang berjudul ”The Life Changing Magic of Tidying Up”, sebuah panduan untuk memperbaiki pola pikir, supaya manusia bisa menciptakan keteraturan dan menjadi pribadi yang lebih rapi. Begitu ampuhnya ilmu KonMari sehingga tidak seorang pun kliennya kembali ke kebiasaan yang berantakan. Calon kliennya harus menunggu sampai tiga bulan!

Marie Kondo, Pakar Revolusi Mental Rapi dan Bersih 

Aktivitas beres-beres rumah mungkin kita lakukan satu atau dua kali dalam setahun. Menambal lantai, membersihkan semua jendela dan pintu, membersihkan lemari dan lemari es, mencuci gorden dan karpet, membersihkan garasi, mengelola sampah dan masih banyak lagi mungkin sudah sering kita lakukan, bahkan akan kita lakukan dalam waktu dekat ini. Tidak juga terlupakan kegiatan mengeluarkan barang-barang yang tersimpan, memilihnya lalu memutuskan untuk dipertahankan atau didonasikan. Proses ini tentu bukan proses yang mudah!

Kitab 2 Taw 29 berbicara tentang kegiatan yang sama, berbenah atau beres-beres, tetapi obyeknya adalah rumah TUHAN atau Bait Allah di Yerusalem. Hal ini terjadi sekitar tahun 715 SM pada tahun pertama pemerintahan raja Hizkia. Hizkia adalah salah seorang dari sedikit raja Yehuda yang melakukan apa yang benar di mata TUHAN. Ayah Hizkia yang bernama Ahas adalah raja yang tidak setia kepada TUHAN. Dalam dua puluh tahun pemerintahannya Ahas melanggar seluruh perintah Allah baik dalam hal moral, spiritual, politik dan sosial. Dia menajiskan Bait Allah dengan patung-patung berhala dan membakar kurban untuk para dewa-dewi asing. Tidaklah heran, Allah menghukum raja Ahas dengan menjadikannya sebagai raja boneka di bawah tekanan raja Asyur Tiglat Pileser III. Saat Hizkia naik takhta menggantikan Ahas, tibalah saatnya untuk “membereskan” atau “menguduskan” rumah TUHAN.

Hizkia Mengawasi Pentahiran Bait Allah

Bagaimana cara Hizkia membenahi Bait Allah? Ada tiga langkah; pertama, membuka pintu-pintu Bait Allah dan memperbaikinya. Selama pemerintahan Ahas pintu-pintu ini ditutup karena Ahas memperkenalkan allah-allah asing kepada rakyat dan mendorong mereka untuk menyembah berhala. Bait Allah dibiarkan gelap, berdebu dan terlupakan. Dengan membuka pintu-pintu Bait Allah secara simbolis Hizkia memulihkan pemujaan terhadap TUHAN.

Kedua, Hizkia membersihkan Bait Allah dari segala sampah dan kotoran. 2 Taw 29:16-17 mengisahkan bagaimana para imam mentahirkan bait TUHAN dari segala kenajisan. Semua sampah dan kotoran diangkut oleh orang-orang Lewi keluar dari Bait Allah untuk dibuang ke lembah Kidron. Untuk membersihkan dan membereskan Bait Allah Hizkia mempekerjakan 14 orang Lewi di samping para imam dan pekerja lainnya. Mereka membutuhkan waktu 16 hari untuk mentahirkan Bait Allah, sehingga menjadi kinclong kembali seperti semula.

Ketiga, sampah yang diangkut ke lembah Kidron tidak dibiarkan begitu saja, tetapi dibakar. Lembah Kidron adalah sebuah tempat di luar kota Yerusalem yang terletak di antara dinding timur kota Yerusalem dan Bukit Zaitun. Tempat ini menjadi populer sebagai tempat pembakaran benda-benda najis seperti patung-patung berhala dan benda-benda pemujaan berhala lainnya. Raja Asa tercatat pernah membakar patung dewi Asyera di lembah Kidron (1 Raj 15:13). Demikian pula, di sanalah raja Yosia yang memerintah 100 tahun setelah Hizkia, membakar perkakas yang dibuat untuk Baal dan Asyera serta untuk segala tentara langit (2 Raj 23:4). Di lembah Kidron Hizkia membakar semua sampah dan kotoran yang telah terakumulasi selama bertahun-tahun di Bait Allah.

Reformasi yang dilakukan oleh Hizkia adalah reformasi keagamaan yang paling terkenal dalam sejarah Yehuda. Reformasi keagamaan ternyata dimulai dengan kegiatan berbenah, beres-beres atau membersihkan rumah. Kisah yang terjadi hampir tiga ribu tahun yang lalu ini memuat sebuah pelajaran yang sangat berarti buat kita. Sejak hari Rabu tanggal 14 Pebruari 2018 yang lalu, umat Katolik telah memasuki masa Prapaskah, masa pertobatan. Umat Katolik membuat komitmen untuk melakukan reformasi rohani dalam dirinya masing-masing. Hizkia memberi contoh kepada kita semua bahwa reformasi rohani harus dimulai dengan kegiatan “bersih-bersih sampah”.

Di manapun kita berada, kita harus mengelola sampah sebelum sampah ini menghancurkan hidup manusia. Hari ini tanggal 21 Februari adalah Hari Peduli Sampah Nasional. Hari Peduli Sampah Nasional diperingati sejak tanggal 21 Februari 2005, sebagai peringatan atas musibah longsornya tempat pembuangan akhir (TPA) Sampah di Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, yang menewaskan 157 orang.

Indonesia Bebas Sampah 2020

Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah mencanangkan tahun 2020 sebagai tahun “Indonesia Bebas Sampah 2020”. Program Indonesia Bebas Sampah 2020 merupakan program yang baik untuk diwujudkan. Pemerintah tidak akan mampu mewujudkan target itu sendiri, tanpa keterlibatan semua pihak. Saatnya bagi kita semua, warga negara Indonesia dan umat Katolik untuk semakin peduli dengan sampah.

Pertobatan Diisi dengan Peduli Sampah