Artikel

Renungan

DOA RATU SURGA

Dipublikasikan tanggal 03 April 2018

DOA RATU SURGA

Masa Paskah, yang memperingati Kebangkitan Kristus, juga mengundang umat Katolik untuk berdoa dalam sukacita Tuhan. Salah satu doa terpenting pada masa ini adalah doa “Regina Caeli” atau “Ratu Surga”. Doa Marianis ini menggantikan doa tradisional “Angelus” atau “Malaikat Tuhan” pada masa Paskah dan didoakan tiga kali sehari: pagi, siang dan petang. Demikianlah umat Katolik menguduskan hari kepada Yesus melalui Bunda Maria. Apabila Angelus berpusat pada misteri Inkarnasi, doa Regina Caeli berpusat pada misteri Kebangkitan.  Maka,  umat Katolik mendaraskan doa Ratu Surga mulai dari  ibadat penutup (Completorium) hari Sabtu Suci sampai ibadat jam tiga petang (Nona) pada hari Sabtu setelah hari raya Pentakosta.

Penulis doa Regina Caeli tidak diketahui, tetapi doa ini sudah didaraskan sejak abad kedua belas. Saudara-saudara dina (Fransiskan) kerap mendoakannya setelah ibadat penutup sejak paruh pertama abad ketiga belas. Berkat kesalehan mereka, doa Marianis ini menjadi populer dan menyebar di kalangan umat Katolik. Pada tahun 1742 Paus Benediktus XIV menyatakan bahwa doa ini didaraskan selama masa Paskah, seperti yang dijelaskan dalam Direktorium Kesalehan Umat dan Liturgi yang diterbitkan oleh Kongregasi Ibadat Ilahi dan Tata Tertib Sakramen pada tahun 2001 butir 196 sebagai berikut:

Dengan Persetujuan Paus Benediktus XIV (20 April 1742), selama masa Paskah Angelus diganti dengan antifon Regina Caeli (Ratu Surga). Antifon ini mungkin berasal dari abad ke-10 atau ke-11, secara tepat memadukan misteri penjelmaan Sabda (yang sudi kaukandung) dengan peristiwa Paskah (telah bangkit seperti yang disabdakan-Nya). Komunitas gerejawi mengarahkan antifon ini kepada Maria karena kebangkitan Putranya. Antifon ini mengacu dan bergantung pada ajakan bersukacita yang disampaikan oleh Gabriel kepada hamba Tuhan yang rendah hati, yang dipanggil menjadi bunda Mesias sang penyelamat (Ave, gratia plena – Salam, engkau yang penuh rahmat)”

Meskipun penulisnya tidak diketahui, beberapa tradisi mengaitkan doa ini dengan St. Gregorius Agung, Paus yang memimpin Gereja Katolik pada tahun 590 sampai dengan tahun 604. Dikisahkan bahwa suatu pagi hari beliau berjalan tanpa alas kaki dalam sebuah perarakan di Roma dan mendengar tiga ayat pertama doa ini dinyanyikan oleh para malaikat. Kemudian St. Gregorius Agung menambahkan ayat terakhir.

Bertahun-tahun kemudian Paus Yohanes XXIII mulai mendaraskan doa-doa Marianis, baik “Regina Caeli” dan “Angelus” di hadapan umum pada setiap hari raya yang jatuh pada hari Minggu. Sejak saat itu para Bapa Suci  pada tengah hari setiap hari Minggu, melihat keluar dari kamar kepausan ke lapangan Santo Petrus untuk berdoa bersama umat beriman, menyampaikan beberapa pesan dan berkat.

Ratu Surga bersukacitalah, alleluya

sebab Ia yang sudi kaukandung, alleluya

telah bangkit seperti yang disabdakan-Nya, alleluya

Doakanlah kami pada Allah, alleluya

Bersukacitalah dan bergembiralah, Perawan Maria, alleluya

sebab Tuhan sungguh telah bangkit, alleluya

Ya Allah, Engkau telah menggembirakan dunia dengan kebangkitan Putra-Mu, Tuhan kami Yesus Kristus.

Kami mohon, perkenankanlah kami bersukacita dalam kehidupan kekal bersama bunda-Nya, Perawan Maria.

Demi Kristus, pengantara kami.

Amin.