Artikel

Renungan

MODEH ANI

Dipublikasikan tanggal 06 June 2018

MODEH ANI

Aku Bersyukur Menyerahkan Nyawaku ke Dalam Tangan-Mu

Entah kenapa, pagi hari ini Penulis seolah kehilangan kata-kata dalam doa pagi, sehingga dia membuka buku Puji Syukur dan mencoba mencari doa yang pas untuk doa pagi. Sampailah dia pada PS No. 48 di mana sebuah doa pagi dimulai dengan kalimat, “Ya Allah, Bapa sumber segala kerahiman. Pada awal hari baru ini aku menghaturkan puji dan syukur kepada-Mu atas perlindungan-Mu sepanjang malam tadi.” Sontak, kalimat pembuka doa pagi ini menjadi permenungan yang mendalam.

Orang Yahudi memiliki doa pagi yang dikenal sebagai “Modeh Ani” yang artinya “aku bersyukur”. Mereka bersyukur karena Tuhan telah mengaruniakan satu hari lagi dalam kehidupan mereka. Doa ini singkat dan berbunyi kira-kira dalam terjemahan bahasa Indonesia,  “Aku bersyukur kepada-Mu, Raja yang hidup dan kekal, karena berkat kerahiman-Mu Engkau telah memulihkan jiwaku dalam ragaku, besarlah kesetiaan-Mu.” Dalam keyakinan orang Yahudi, mereka mempercayakan nyawa mereka kepada Tuhan untuk dijaga sepanjang malam. Merupakan kebiasaan pula bagi mereka untuk mendaraskan doa Mazmur (Mzm 31) dalam doa malam mereka sebelum mereka tidur.

Mazmur 31:1-5 berbunyi sebagai berikut, “Pada-Mu, TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu. Luputkanlah aku   oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku,   bersegeralah melepaskan  aku! Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan,   kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku! Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku,  dan oleh karena nama-Mu  Engkau akan menuntun dan membimbing aku. Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring  yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku.  Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku.

Menarik untuk direnungkan bahwa doa Mazmur ini mengandung permohonan yang juga dilontarkan oleh Yesus sesaat sebelum wafat-Nya (Luk 23:46). Mungkin Yesus dalam penderitaan-Nya, mendaraskan mazmur ini. Kalau benar demikian, marilah kita sejenak merenungkan bagaimana bunyi Mazmur ini dalam bahasa Ibrani. Kadang-kadang sebuah terjemahan mengaburkan makna yang mendalam dalam bahasa aslinya.

Kata Ibrani “אַפְקִיד (dibaca “afkid”, diterjemahkan "menyerahkan") merupakan bentuk waktu yang akan datang (future) dari kata kerja ״פקד״ (dibaca “fikid”) yang berarti “menitipkan”. Kita dapat membayangkan menitipkan barang di tempat penitipan barang di pasar swalayan. Barang yang dititipkan tentu saja akan kita ambil kembali setelah kita selesai berbelanja di pasar swalayan itu. Maka, dengan pemahaman ini, doa Mazmur ini melukiskan bagaimana sang pendoa “menitipkan nyawanya” kepada Tuhan dengan maksud untuk menerimanya kembali. Ketika Yesus mendoakan hal yang sama sesaat sebelum wafat di salib, Dia memaklumatkan iman bangsa Israel yang begitu agung. Dia meyakini dengan sungguh bahwa ketika Dia menitipkan nyawanya di tangan Allah Bapa, Dia akan memperolehnya kembali pada saat kebangkitan-Nya. Ternyata, hal itu digenapi tiga hari kemudian. Pengharapan Yesus tidaklah sia-sia.

Ketika seorang manusia membuka matanya di pagi hari, hal terindah yang patut ia syukuri adalah bahwa dia sudah memperoleh kembali nyawa yang dititipkannya kepada Allah sepanjang malam. Dalam hal ini, doa pagi PS No. 48 dan “Modeh Ani” milik bangsa Yahudi memiliki dasar keyakinan yang sama. Siapa yang menitipkan nyawanya kepada Allah akan memperolehnya kembali.

Modeh Ani, Doa Pagi Orang Yahudi