Artikel

Renungan

ZIARAH ROHANI

Dipublikasikan tanggal 02 July 2018

ZIARAH ROHANI

Spritualitas Peziarahan

Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!” (Mzm 84:6). Begitulah pemazmur menyatakan keinginannya untuk berziarah! Dalam kitab Mazmur kita mengenal nyanyian-nyanyian ziarah (Mzm 129-134). Rupanya ziarah memang sudah merupakan praktik kesalehan yang berlangsung lama.

Dewasa ini, berbagai biro wisata rohani menawarkan paket-paket ziarah rohani. Sayang, mungkin tidak banyak umat Katolik yang memahami arti peziarahan dan bagaimana memanfaatkan tempat ziarah sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan sesama.

Dari sudut pandang teologis, tempat peziarahan menjadi sebuah perhentian bagi umat Allah, yang adalah peziarah di dunia ini. Setelah berhenti, beristirahat, merenung dan menimba kekuatan, para peziarah diharapkan mampu melanjutkan perjalanan dengan lebih serius dan lebih berdedikasi menujug kota abadi. Demikianlah penulis surat kepada umat Ibrani menyatakan, “Sebab di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang.” (Ibr 13:14)

Dari sudut pandang biblis, kita bisa melihat peziarahan Abraham dan Yakub ke kota Sikhem (Kej 12:6-7; 33:18-20) atau peziarahan Yakub ke kota Betel (Kej 28:10-22, 35:1-5) atau peziarahan Abraham ke kota Mamre (Kej 13:18). Perjalanan Musa bersama bangsa Israel menuju tanah terjanji juga memiliki makna peziarahan. Di kemudian hari, dalam tradisi bangsa Israel, laki-laki dewasa wajib melakukan peziarahan ke Bait Allah tiga kali dalam setahun yaitu pada hari Roti Tidak Beragi, pada hari raya Tujuh Minggu dan pada hari raya Pondok Daun (Ul 16:16).

Praktik ziarah rohani mulai merebak ketika agama Kristen sudah menjadi agama resmi kekaisaran Romawi. Dewasa ini banyak tempat yang menjadi tujuan para peziarah misalnya: Fatima, Guadalupe, Lourdes, Montserrat dll. Sayangnya, kadang praktik ziarah ini kalah pamor dengan kegiatan-kegiatan sekundernya misalnya rekreasi, kuliner, belanja dll. Padahal, sebuah peziarahan harus diakhiri dengan sebuah ucapan syukur dengan permohonan kepada Allah agar menjaga para peziarah untuk tetap setia pada niat-niat baik untuk lebih menghayati panggilan hidup Katolik.

Kitab Hukum Kanonik Kanon 1230 menyatakan bahwa tempat ziarah adalah gereja atau tempat suci yang dengan persetujuan Ordinaris wilayah sering dikunjungi kaum beriman untuk berziarah karena suatu alasan kesalehan yang khusus. Lebih lanjut, Kanon 1234 ayat 1 menyatakan bahwa di tempat-tempat ziarah hendaknya disediakan sarana-sarana keselamatan bagi umat beriman secara lebih berlimpah dengan rajin mewartakan sabda Allah, membina dengan tepat hidup liturgi, terutama dengan perayaaan sakramen Ekaristi dan tobat, dan juga dengan memelihara bentuk-bentuk kesalehan rakyat yang teruji.

Maka, tempat ziarah pertama-tama adalah tempat perayaan ibadah (liturgi) di mana dirayakan sakramen tobat, Ekaristi, perminyakan, sakramen-sakramen dan perayaan sakramentali lainnya. Kedua, tempat ziarah adalah tempat pewartaan di mana pesan-pesan pokok Injil hendaknya diwartakan kepada para peziarah. Ketiga, tempat ziarah adalah tempat pelayanan kasih (karitas) di mana cinta kasih Allah disampaikan kepada mereka yang membutuhkan lewat kemurahan hati para peziarah. Maka, berbagai bentuk pelayanan dibuat di sekitar tempat ziarah bagi mereka yang sakit, yang tua dan yang berkekurangan. Keempat, tempat ziarah adalah tempat kebudayaan dengan menawarkan kesaksian sejarah dan kesenian dalam bentuk lukisan, mozaik, sastra atau musik tertentu. Kelima, tempat ziarah adalah tempat untuk menggalakkan ekumenisme karena disadari bahwa tidak semua peziarah adalah umat Katolik.

Para Peziarah dalam Rangka 100 Tahun Penampakan Bunda Maria di Fatima 

Lalu, bagaimana seharusnya spiritualitas peziarahan? Pertama, peziarahan merupakan simbol dari peziarahan umat menuju Kerajaan Allah. Kedua, peziarahan merupakan sebuah perjalanan pertobatan. Ketiga, peziarahan harus dikaitkan dengan solidaritas, persaudaraan, persahabatan dan semangat berbagi. Keempat, peziarahan merupakan ibadah. Perjalanan menuju tempat ziarah diidentikkan dengan perjalanan menuju kepada Allah untuk tinggal dalam kehadiran-Nya dalam adorasi dan doa. Kelima, peziarahan merupakan kesempatan untuk mewartakan Injil sebagaimana Yesus dan para murid-Nya mewartakan Injil ke kota-kota dan desa-desa di Palestina. Terakhir, peziarahan memiliki dimensi komuniter di mana seorang peziarah tidak pernah berjalan sendiri, melainkan bersama dengan Allah, dengan komunitas asalnya, bersama seluruh peziarah yang hadir di tempat ziarah dan bersama seluruh umat manusia dengan berbagai penderitaan dan pengharapannya.

Para Peziarah di Lourdes