Artikel

Renungan

YESUS DAN PEREMPUAN SAMARIA

Dipublikasikan tanggal 09 August 2018

YESUS DAN PEREMPUAN SAMARIA

Bagian II

Percakapan Yesus dan perempuan Samaria mulai memasuki ranah yang lebih bersifat “pribadi”. Yesus menyuruh perempuan Samaria untuk pergi memanggil suaminya. Perempuan itu menjawab bahwa dia tidak mempunyai suami. Yesus pun mengiyakan jawabannya, bahkan lebih jauh Dia menyatakan bahwa perempuan itu sudah kawin lima kali dan sekarang kumpul kebo dengan seorang pria.

Kehidupan perkawinan perempuan Samaria ini menimbulkan masalah dalam penafsirannya. Hukum Taurat hanya mengizinkan seorang pria menceraikan istrinya dan bukan sebaliknya (Ul 24:1). Tradisi Yahudi hanya mengizinkan seseorang menikah sampai tiga kali, dan apabila standar yang sama berlaku bagi orang Samaria, berarti moral perempuan Samaria ini patut dipertanyakan. Namun, sejak zaman Bapa Gereja, kehidupan perkawinan perempuan Samaria ini kerap lebih dipandang sebagai simbol daripada kenyataan. Origenes meyakini bahwa lima suami perempuan Samaria ini merupakan simbol dari lima kitab Taurat yang menjadi kitab suci orang Samaria. Banyak pula ahli tafsir yang menyimpulkan bahwa lima suami melambangkan berhala-berhala yang dibawa oleh lima bangsa asing ke Samaria ketika kerajaan Utara ditaklukkan oleh Asyur. Kebetulan kata Ibrani untuk “suami” adalah “ba’al” (בעל) juga digunakan untuk menyebut nama berhala-berhala asing. Lalu, siapa pula yang dimaksud dengan suami perempuan itu yang terakhir, yang menurut Yesus, bukan suaminya? Orang Samaria juga percaya kepada TUHAN, tetapi Yudaisme orang Samaria dicap tidak murni. Menarik sekali bukan?

Pernyataan Yesus mengejutkan perempuan Samaria. Dia pun memandang Yesus dengan lebih hormat lagi, bahkan menganggapnya sebagai “nabi”. Orang Samaria tidak menerima kitab nabi-nabi sebagai kitab suci mereka. Maka, satu-satunya nabi yang mereka yakini adalah nabi yang disebut dalam Ul 18:15-18, “seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya” (Ul 18:18). Tokoh nabi ini dipanggil Taheb oleh orang Samaria.

Lalu, perempuan Samaria mulai mempertentangkan masalah tempat menyembah Allah yang benar. Seperti diketahui, orang Samaria menyembah Allah di Gunung Gerizim, sedangkan orang Yahudi menyembah Allah di Bait Suci Yerusalem. Menjawab pertanyaan itu Yesus menyatakan dengan tegas, “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian” (Yoh 4:23)

Perempuan Samaria mempertanyakan “tempat” yang benar untuk menyembah Allah, sedangkan jawaban Yesus mengacu pada “cara” yang benar untuk menyembah-Nya. Apa yang dimaksud dengan “menyembah dalam roh dan kebenaran”? Karena Allah adalah Roh, maka manusia harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. Allah hanya dapat disembah oleh manusia yang telah menerima Roh. Roh menjadikan manusia anak-anak Allah sehingga mampu berseru kepada Allah, “Ya Abba, ya Bapa!” (Rom 8:15-16). Sekali lagi penginjil di sini mengingatkan bahwa jika “seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam kerajaan Allah.” (Yoh 3:5)

Mengapa Roh dikaitkan dengan kebenaran? Kita tahu bahwa dalam Injil Yohanes, Yesus adalah Sang Kebenaran. Dia adalah jalan, kebenaran, dan hidup. Yesus yang mewahyukan kebenaran Allah kepada manusia. Roh Kudus adalah Roh Kebenaran (Yoh 15:26), Roh yang memimpin manusia ke dalam seluruh kebenaran (Yoh 16:13), dengan demikian Roh Kudus adalah Roh Yesus.

Penjelasan Yesus membuat perempuan Samaria semakin mengenal siapa Yesus. Dia pun menyinggung tentang Taheb, Mesias yang ditunggu-tunggu. Pada saat itulah Yesus menyatakan bahwa Dia adalah Mesias. Berarti tujuan katekese yang kedua tercapai sudah ketika Yesus memperkenalkan siapa diri-Nya.

Percakapan Yesus dan perempuan Samaria terputus karena kedatangan para murid dari perjalanan membeli makanan. Mereka kaget melihat Yesus sedang bercakap-cakap dengan perempuan Samaria. Sementara itu, perempuan Samaria meninggalkan tempayannya dan lari ke kota serta memberi kesaksian kepada orang-orang Samaria bahwa Ia mungkin telah menemukan Mesias. Kata “mungkin” menyiratkan bahwa iman perempuan Samaria belumlah penuh, namun setidaknya dia sudah menaruh secercah harapan.

Murid-murid Yesus menawarkan makanan kepada-Nya. Namun, Yesus menegaskan bahwa dia sudah memiliki makanan, yang tidak mereka kenal. Sekali lagi, Yesus menggunakan kata yang bermakna ganda. Murid-murid memahami makanan sebagai produk duniawi, padahal yang dimaksud Yesus adalah melakukan kehendak Dia yang mengutus-Nya dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.

Yoh 4:34

Kisah ini berakhir dengan sukses penginjilan Yesus di kota Samaria. Hari di mana Yesus menaburkan benih adalah juga hari menuai. Hal ini nampak dari rombongan orang Samaria yang datang kepada Yesus dan menjadi percaya. Ketika tanaman sudah siap dituai, itulah saatnya penuai bekerja. Pada saat itulah penabur dan penuai sama-sama bersukacita. Kerap penuai dan penabur berselisih pendapat seperti terjadi di kota Korintus. Untuk itu, Paulus menjelaskan, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberikan pertumbuhan.” (1 Kor 3:6)

Ladang-ladang Sudah Menguning dan Matang untuk Dituai

Perjumpaan dengan Tuhan mampu mengubah hidup manusia menjadi lebih baik, bahkan sangat baik. Setelah kita diubah-Nya, kita diutus-Nya untuk menjadi saksi-Nya, untuk menyatakan kebaikan-Nya dan kasih-Nya.