Artikel

Renungan

MISTERI 153 EKOR IKAN

Dipublikasikan tanggal 28 August 2018

MISTERI 153 EKOR IKAN

Yoh 21:1-14

Dalam Injil Yohanes Yesus yang bangkit menampakkan diri tiga kali kepada murid-murid-Nya (bdk. Yoh 20:19-23, 24-29, 21:1-14). Pada penampakan ketiga yang terjadi di danau Tiberias, Yesus menampakkan diri kepada tujuh orang murid-Nya: Simon Petrus, Tomas, Natanael, anak-anak Zebedeus (Yakobus dan Yohanes) serta dua orang murid-Nya yang lain (kemungkinan Andreas dan Filipus?). Adalah inisiatif dari Simon Petrus untuk pergi ke danau menangkap ikan. Usul itu disambut oleh murid-murid yang lain, dan mereka pun pergilah ke tengah danau untuk menangkap ikan. Tetapi, semalaman mereka tidak berhasil menangkap seekor ikan pun. Menjelang siang hari ketika mereka hendak mendarat, Yesus menampakkan diri kepada mereka. Dia memerintahkan mereka menebarkan jala di sebelah kanan perahu, dan akhirnya mereka berhasil menangkap banyak ikan, tidak tanggung-tanggung 153 ekor jumlahnya dan meskipun ikannya banyak, ajaib jala tidak koyak. Di darat Yesus sudah menyiapkan sarapan berupa roti dan ikan. Mereka pun sarapan bersama Yesus.

Jumlah “153” telah menimbulkan banyak penafsiran di antara para ahli. Salah satunya adalah bahwa 153 merupakan bilangan dari kata-kata אני אלוהים (Ibr. Ani Elohim, artinya Akulah Allah). Tafsir lain diungkapkan oleh Santo Agustinus yang mengatakan bahwa 153 adalah jumlah 17 bilangan asli pertama (yang berarti 1+2+3+….+17). Angka 17 melambangkan berbagai macam hal, misalnya 10 ditambah 7, di mana angka 10 melambangkan sepuluh perintah Allah (Dekalog) dan 7 melambangkan sapta karunia Roh Kudus. Tafsir-tafsir ini sungguh menarik, meskipun sulit dipastikan apa maksud pengarang injil keempat ini menyebutkan jumlah ikan sebanyak 153 ekor!

Mungkin ada penafsiran lain yang bisa mewakili angka 153? Marilah kita coba teliti teks lebih lanjut. Pertama, Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk menebarkan jala di “sebelah kanan” perahu. Dalam kisah tentang penghakiman terakhir (bdk. Mat 25:31-46) Yesus dikisahkan akan “menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya” (ayat 33). Dalam injil Yohanes Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai “Gembala yang baik, yang memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya” (Yoh 10:11). Maka, tentu tidak ada salahnya pula apabila 153 ekor ikan yang berhasil ditangkap oleh murid-murid Yesus melambangkan “domba-domba” atau “umat Allah.”

153 Ekor Ikan, Universalitas Umat Allah

Kedua, menurut tulisan seorang ahli hewan Yunani seperti ditulis dalam buku “Oppian Halieutica”, pada saat itu tercatat ada 153 spesies ikan. Dengan demikian, pengarang injil keempat mungkin melambangkan angka 153 sebagai “totalitas” atau “kebhinnekaan”, sebagai antisipasi bahwa misi Kristiani akan merangkul semua ragam manusia (bdk. Mat 28:18-20). Gereja selalu bersifat “katolik”.

Ketiga, pewartaan Injil sampai ke ujung dunia sering dilambangkan sebagai “menjala ikan” sehingga para pewarta Injil disebut sebagai para “penjala manusia”. Dalam injil-injil Sinoptik dikisahkan bagaimana Yesus ingin menjadikan  murid-murid-Nya penjala manusia (bdk. Mat 4:19, Mrk 1:17, Luk 5:10). Dengan demikian, penampakan Yesus yang ketiga kepada murid-murid-Nya dalam injil keempat memiliki pesan pewartaan atau misioner. Injil harus diwartakan sampai ke ujung dunia dan merangkul segala bangsa! Satu hal masih harus kita coba cermati lagi. Meskipun 153 ekor ikan berhasil ditangkap, jala sama sekali tidak koyak. Jala yang utuh mungkin melambangkan prinsip kesatuan Gereja.

Masih adakah pesan yang lain dalam perikop Yoh 21:1-14 ini? Kita renungkan ayat 13, “Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka …”. Perikop ini juga tidak lupa menitipkan pesan Ekaristis. Seperti kita ketahui, ikan sering merupakan lambang dari Ekaristi. Dalam bahasa Yunani ikan disebut ἰχθύς (Yun. ichtus) yang kerap dikaitkan dengan ungkapan “Ἰησοῦς Χριστός Θεοῦ Yἱός Σωτήρ” (Yun. Iesous Christos Theou Hyios Soter, artinya Yesus Kristus Putra Allah Penyelamat)

Ternyata penampakan Yesus yang ketiga kepada murid-murid-Nya dalam injil keempat menyuarakan apa yang menjadi amanat agung-Nya pada perjamuan terakhir bersama murid-murid-Nya, “… perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (bdk. Luk 22:19). Setiap kali merayakan Ekaristi, umat menyantap Tubuh Kristus Sang Penyelamat dan diingatkan bahwa mereka diutus untuk mewartakan Injil sampai ke ujung dunia. Demikianlah sabda pengutusan Yesus kepada murid-murid-Nya digemakan pada akhir perayaan Ekaristi, “Pergilah, kalian diutus!”