Artikel

Renungan

KEHIDUPAN PERKAWINAN DALAM KITAB TOBIT

Dipublikasikan tanggal 10 September 2018

KEHIDUPAN PERKAWINAN DALAM KITAB TOBIT

Pertemuan II Bulan Kitab Suci  2018

Suami istri bertengkar, itu soal biasa. Kata orang, pertengkaran adalah bumbu perkawinan. Namun, tentu akan lebih baik jika rumah tangga selalu rukun. Apabila suami istri terus-menerus bertengkar, lama-lama pasti bisa fatal. Kitab Tobit menyajikan kisah antara beberapa pasang suami istri: Tobit dan Hana, Raguel dan Edna, serta Tobia dan Sara. Pertemuan II BKS 2018 mengambil tema konflik antara suami dan istri sebagai temanya. Bacaan diambil dari Tob 2:11-14 yang  mengisahkan konflik antara Tobit dan Hana.

Dalam kitab Tobit diceritakan empat percakapan antara pasutri Tobit dan Hana, Percakapan pertama dikisahkan dalam Tob 2:14-18. Pertengkaran dimulai ketika Hana membawa pulang seekor anak kambing jantan pemberian langganannya. Tobit yang buta mendengar anak kambing itu mengembik, dan segera menginterogasi istrinya. Dia menuduh Hana mencuri binatang itu dan menyuruhnya segera mengembalikannya kepada pemiliknya.

Tobit, Hana, dan Anak Kambing - Karya Rembrandt

Dalam kisah ini kita dapat menganalisis penyebab timbulnya pertengkaran suami istri. Pertama, penghasilan. Penghasilan suami lebih besar dari istri adalah hal biasa. Bila yang terjadi kebalikannya, bisa timbul masalah. Suami merasa minder karena tak dihargai penghasilannya, sementara istri merasa di atas sehingga jadi sombong dan tak menghormati suami. Tobit tidak bisa bekerja lagi karena matanya buta dan saudaranya semata wayang Ahikar, yang selama ini mengurusnya, pindah ke kota Elumais (Tob 2:10). Hana terpaksa menjadi pencari nafkah dalam keluarga itu. Nampaknya upayanya cukup berhasil, mungkin karena kecakapannya dalam membuat kain, sehingga dia disukai para langganannya. Mereka bukan saja membayar upahnya, melainkan juga menghadiahkan seekor anak kambing jantan.

Tobit Menjadi Buta

Ketidakmampuan mencari nafkah pasti merupakan pil pahit untuk seorang suami. Harga dirinya sebagai seorang pria mungkin terluka. Tak heran, Tobit menjadi sedikit “rese”. Alih-alih memberikan pujian dan penghargaan kepada istrinya, Tobit menampakkan kecurigaan, asumsi, dan nasihat yang tidak pada tempatnya. Mungkin saja embik kambing itu menambah penderitaan Tobit, yang sudah merasakan bahwa dirinya tidak berguna. Sebaliknya, Hana juga mengalami masa-masa paling sulit dalam hidupnya. Dia harus mampu menjahit kain untuk memenuhi nafkah tiga orang di samping melaksanakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, dan membesarkan anak.

Kedua, masalah anak. Ketidakhadiran anak sering menimbulkan konflik berkepanjangan. Namun kadang anak pun bisa menjadi sumber konflik suami istri. Konflik kedua antara Tobit dan Hana muncul di bab 4. Mengingat bahwa dirinya sudah semakin lanjut usia, Tobit memanggil anaknya Tobia dan memberitahukan kepadanya tentang uang yang dititipkannya kepada seorang saudara yang bernama Gabael. Tobit menyuruh Tobia mengambil uang itu dengan membawa serta seorang teman seperjalanan. Tobia menyanggupi permintaan ayahnya, dan ketika dia pamit kepada orang tuanya, Hana menangis dan menyalahkan suaminya, „Mengapa anakku kausuruh pergi? … Masakan uang itu menjadi pengganti anak kita.“ (Tob 5:18-19)

Tobias Pamit kepada Kedua Orang Tuanya - Karya William Bouguereau

Mengapa bisa terjadi konflik kedua? Dari kisah tentang konflik pertama, kita dapat menyimpulkan bahwa baik Tobit maupun Hana tidak berupaya untuk menyelesaikan konflik, sehingga merembet ke konflik-konflik berikutnya. Ketidakmampuan mereka menyelesaikan konflik pertama adalah karena mereka memiliki masalah dalam komunikasi antara suami dan istri.

Dalam konflik pertama, Tobit digambarkan sebagai suami yang „berlebihan“. Dia menginterogasi istrinya tanpa memberikan istrinya kesempatan untuk menjawab pertanyaannya. Tob 2:13 memperlihatkan bahwa pernyataan Tobit berupa pertanyaan-pertanyaan yang dia jawab sendiri dan perintah serta nasihat kepada istrinya tidak pada tempatnya, karena istrinya belum memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. Di lain pihak, Hana pun tidak kalah garangnya. Dia menyindir “kebijaksanaan” suaminya.

Dalam konflik kedua ada sedikit perubahan. Di sini, bukan Tobit yang memulai pertengkaran, melainkan Hana. Pertanyaan-pertanyaan Hana mirip “petasan” dan bertujuan untuk menyudutkan Tobit supaya dia merasa bersalah. Sebaliknya, Tobit malah lebih tenang dan lebih mampu mengelola emosinya. Malah, kali ini dia mampu memberikan nasihat-nasihat yang menyejukkan kepada istrinya.

Tentu pembaca akan bertanya-tanya apa gerangan yang membuat Tobit berubah. Tob 2:14 mencatat betapa Tobit juga memiliki emosi yang meledak-ledak. Dia sampai “merah padam” kepada istrinya. Tetapi, ada sesuatu yang bisa mengubah emosi! Jawabannya kita temukan di bab 3. Tobit berdoa kepada Allah. Doa merupakan obat pereda emosi yang paling mujarab. Dengan mendekatkan diri kepada Allah, Tobit berhasil mengubah sifatnya yang penuh emosi menjadi seorang yang penyabar. Lalu bagaimana halnya dengan Hana? Silakan membaca sendiri konflik mereka yang berikutnya di bab 10.

Konflik ketiga antara Tobit dan Hana dimulai ketika Tobia belum juga kembali pada waktu yang diharapkan dan mereka mulai kuatir. Tobit mencoba menemukan alasan mengapa anaknya belum juga kembali, sedangkan Hana mulai kembali bereaksi dengan sangat eskpresif, Tobit berusaha menenangkan istrinya, sayang Hana tidak percaya lagi pada perkataan suaminya. Setiap hari Hana menengok jalan yang telah ditempuh anaknya waktu pergi, dan pada malam hari dia semalam-malaman merapat dan menangis serta tidak dapat tidur. Rupanya Hana belum bisa mengubah cara berkomunikasi dengan suaminya. Dia bahkan mengambil jarak dari suaminya dan tidak menyadari bahwa ratapannya di malam hari pasti juga berpengaruh kepada suaminya. Di samping itu, Hana berbicara seolah-olah dia lebih berhak atas Tobia, dengan menyebutnya sebagai “anakku”, “cahaya mataku” (Tob 10:4,5,7). Dia mungkin lupa bahwa Tobit juga sama kuatirnya dengan istrinya karena Tobia anaknya juga.

Ada satu perubahan yang penting dalam cara Tobit menyapa istrinya. Dalam konflik kedua dan ketiga dia memanggil istrinya dengan panggilan yang lebih mesra “adinda” (Tob 5:21, 10:6). Nampaknya dia memang sudah mampu berkomunikasi lebih baik dengan istrinya. Sebaliknya, Hana masih berkomunikasi dengan lidahnya yang tajam dan “ngotot”.

Pembaca pun mungkin penasaran kapan Hana “bertobat”? Jawabannya ditemukan di bab 11. Ketika Tobia akhirnya kembali, berkatalah Hana kepada Tobit, “Sungguh anakmu tengah datang dan juga orang yang menyertainya.” (Tob 11:6) Setelah bersikeras bahwa hanya dia sendiri yang selama ini mencemaskan Tobia dengan terus-menerus menyebutnya “anakku”, akhirnya Hana menyadari bahwa suaminya juga adalah orang yang sangat mengasihi Tobia karena Tobit adalah ayahnya. Di balik segala ketenangan dan kesabaran, Tobit pasti tidak pernah lupa memikirkan Tobia.

Tobia Kembali dan Menyembuhkan Mata Tobit

Apa yang dapat dipelajari dari kisah Tobit dan Hana? Kehidupan perkawinan mereka tidak dimaksudkan untuk menjadi contoh yang menakutkan bagi para (calon) pasutri. Penulis kitab Tobit menyampaikan amanat bahwa ada beberapa masalah yang potensial menjadi sumber konflik dalam kehidupan berkeluarga. Namun, kehidupan suami istri adalah sebuah perjuangan dan pergumulan. Dalam keadaan genting suami dan istri diingatkan untuk menjaga ketenangan dan kelembutan dalam berkomunikasi serta semakin mendekatkan diri kepada Allah dalam doa.