Artikel

Renungan

MENGATASI KONFLIK DALAM PILIHAN POLITIK

Dipublikasikan tanggal 21 September 2018

MENGATASI KONFLIK DALAM PILIHAN POLITIK

Pertemuan IV BKS 2018

Sesudah Allah melengserkan Saul dari kedudukan raja Israel, Allah menyatakan Daud sebagai penggantinya kepada Samuel, yang mengurapinya di Betlehem. Roh Allah mundur dari Saul, dan dia menderita tekanan jiwa, yang kadang-kadang membuatnya seperti gila. Pada saat inilah Daud terpilih untuk melayani Saul dengan kecapinya. Berbicara tentang Saul dan Daud pada saat itu sama seperti berbicara tentang dua tokoh politik, di mana di satu pihak ada penguasa yang sudah kehilangan segala-galanya dan di lain pihak tokoh politik muda yang karirnya mulai diperhitungkan.

Daud Memetik Kecapi untuk Menenangkan Saul

Pada mulanya semua berjalan baik. Saul sangat mengasihi Daud, bahkan mengangkatnya menjadi pembawa senjatanya. Lalu, peristiwa yang sangat terkenal antara Daud dan Goliat, raksasa kebangaan Filistin, mengubah segala-galanya. Saul cemburu melihat peluang Daud. Sewaktu Daud kembali dari pertempuran mengalahkan Goliat, kaum perempuan Israel menyongsonya dengan nyanyian, “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa” (1 Sam 18:7). Sejak saat itulah Saul membenci Daud. Kebencian Saul bertambah-tambah dengan provokasi dari sekelompok orang yang sengaja mengipas-ngipas kebencian Saul terhadap Daud (1 Sam 24:10). Saul pernah berupaya untuk membunuh Daud dengan lembingnya dua kali, namun gagal. Kemudian upaya berikutnya untuk memenjarakan Daud digagalkan oleh muslihat Mikhal, istri Daud (1 Sam 19:8-17), yang tidak lain adalah anak Saul sendiri. Berarti Daud adalah menantu Saul. Konflik semakin mendalam ketika Yonatan, anak Saul memilih untuk menggabungkan diri dengan Daud dan menentang bapaknya sendiri (1 Sam 18:1-5).

Menghadapi ancaman Saul, Daud terpaksa harus hidup dalam pelarian. Tidak ada tempat persembunyian yang dapat dipakai untuk waktu yang lama. Semua orang yang membantu Daud akan dikejar oleh Saul. Dalam pelarian Daud membentuk “kelompok pelarian” di Adulam (1 Sam 22:2), yang kemudian menjadi kekuatan perang. Mereka menghantam penyerang-penyerang asing serta melindungi hasil tanaman dan kambing domba kelompok-kelompok Israel.

Dalam pelariannya, Daud memiliki dua kesempatan untuk membunuh Saul. Pertama 1 Sam 24 menceritakan bagaimana Daud meluputkan Saul dari kematian di dalam sebuah gua di En-Gedi. Kedua, 1 Sam 26 mengisahkan bagaimana Daud membiarkan Saul yang sedang tertidur dengan tombak terpancung di sebelah kepalanya. Alasan yang dikemukakan oleh Daud tentang mengapa dia membiarkan musuh politiknya tetap hidup adalah karena dia tidak mau menjamah orang yang diurapi Tuhan (1 Sam 24:7, 26:9). Kebajikan Daud muncul dari perpaduan antara kesalehan dan kerendahan hati. Akhirnya, Daud yang tidak mampu mematahkan permusuhan Saul, malah berbaik dengan raja Akhis, orang Gat, raja Filistin.

Daud Membiarkan Saul Hidup

Ada sebuah ungkapan dalam perpolitikan yang berbunyi, “tidak ada kawan abadi dalam politik, tidak ada lawan abadi dalam politik, yang ada hanyalah kepentingan.” Padahal, menurut teori klasik Aristoteles, politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Kalau politik akhirnya hanya menjadi permainan demi kepentingan pribadi-pribadi atau kelompok-kelompok tertentu, tentu ada yang salah dalam pelaksanaannya. Apabila kepentingan yang hendak dicapai merupakan kepentingan bersama, jelas tidak akan ada saling menjatuhkan, perebutan kekuasaan, atau bahkan pertumpahan darah antar kelompok yang bertikai. Pertikaian politik kadang diperparah dengan kelompok pendukung yang super fanatik (dalam kisah Daud dilukiskan dengan kehadiran wanita-wanita pendukung Daud) dan para provokator di sekeliling Saul.

Lalu bagaimana cara Daud menyelesaikan konflik ini? Pertama, Daud mengembalikan status sebagai penguasa politik (raja) kepada Allah. Kepada jemaat di Roma Santo Paulus menulis bahwa tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah dan pemerintah-pemerintah yang ada ditetapkan oleh Allah (Rom 13:1). Pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikan (Rom 13:4) seperti teori Aristoteles.

Kedua, menyelesaikan konflik dalam politik membutuhkan kerendahan hati. Daud memang orang yang rendah hati (1 Sam 18:28) dan juga lemah lembut. Kelemahlembutan Daud nyata dalam pengasuhan domba-dombanya. Namun, menyelesaikan konflik dalam politik juga membutuhkan keberanian, keberanian untuk menghadapi lawan politik sekaligus berdiskusi dengannya dan menyelesaikan segala konflik dengan kepala dingin. Semoga dalam percaturan politik di mana pun juga di bumi ini, selalu ada suasana “kawan abadi“ dan tidak ada suasana “lawan abadi.“