Artikel

Renungan

AKU TIDAK LAYAK MELEPAS KASUTNYA

Dipublikasikan tanggal 26 November 2018

AKU TIDAK LAYAK MELEPASKAN KASUTNYA

Kasut atau Tali Kasut?

“Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian daripadaku lebih berkuasa daripadaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.“ (Mat 3:11) Pernyataan ini sangat terkenal dan keluar dari mulut Yohanes Pembaptis di tepi sungai Yordan. Umat memahami pernyataan ini sebagai penegasan bahwa Yohanes Pembaptis menyadari siapa Yesus, yaitu Sang Mesias yang dijanjikan, dan ia merendahkan dirinya serta mengarahkan semua pengikutnya kepada Yesus. Pemahaman ini sangat logis karena dalam budaya Yahudi pada saat itu, hanya budak atau pelayan yang membuka kasut tuannya dan membasuh kakinya.

Namun, rasanya ada satu hal yang menarik dalam pernyataan Yohanes Pembaptis sebagaimana tercatat dalam Injil Matius ini. Dalam perikop-perikop sejajarnya di Injil Markus (Mrk 1:7, Luk 3:16) Yohanes Pembaptis tidak menyebut kata kasut melainkan tali kasut. Apakah beda kasut dengan tali kasut? Jelas beda. Lalu mengapa penulis Injil Matius membuat perbedaan ini?

Untuk memahami hal ini kita harus memahami budaya Israel kuno yang berlaku pada saat itu. Sebagaimana tercatat dalam Ul 25:5-10 masyarakat Israel kuno mempraktikkan apa yang dinamakan perkawinan ipar (levirat). Kata levirat berasal dari kata Latin "levir", yang artinya ipar atau saudara laki-laki dari suami. Jika suami meninggal tanpa anak, maka saudaranya diharapkan akan menikahi istrinya. Anak-anak yang lahir dari pernikahan ini dianggap anak dari suami pertama. Apabila saudara yang memiliki kewajiban perkawinan ipar ini menolak melakukan tugasnya, janda almarhum saudaranya melakukan sebuah ritual, yaitu menanggalkan kasut orang itu dari kakinya sambil meludahi mukanya. Orang-orang inilah yang kemudian harus disebut sebagai „kaum yang kasutnya ditanggalkan orang.“

Sebuah kasus perkawinan levirat yang dicatat dalam Kitab Suci PL adalah perkawinan antara Boas dan Rut. Sebagai seorang janda yang ditinggal mati suami tanpa anak, Rut harus menikahi salah seorang saudara almarhum suaminya. Tapi orang yang wajib melakukan perkawinan ipar bersama Rut menolak melaksanakan tugasnya dan menyerahkan kewajiban itu kepada Boas. Untuk itu dia menanggalkan sebelah kasutnya dan memberikannya kepada Boas di depan para tua-tua (Rut 4:7).

Selain Rut, KS juga mencatat perkawinan ipar antara Tamar, menantu Yehuda, dengan Onan. Tamar ditinggal mati suaminya, Er, tanpa anak. Maka, adiknya, Onan, wajib menikahi Tamar dan “membangkitkan keturunan” bagi kakaknya (Kej 38:8). Satu catatan yang menarik untuk disimak, adalah bahwa penulis injil Matius mencatat nama kedua wanita yang melakukan perkawinan ipar ini, Tamar dan Rut, dalam silsilah Yesus (Mat 1:3, 5). Apakah ini suatu kebetulan belaka, atau memang karena Matius memiliki motivasi lain?

Dalam teologi PL hubungan antara Allah dan bangsa Israel dilambangkan sebagai hubungan suami istri. Teks yang paling menarik tentang bagaimana Allah mengawini bangsa Israel adalah Yeh 16. Sayang bangsa Israel tidak setia kepada Allah, sehingga Allah menceraikannya (Yer 3:8). Dengan diceraikan oleh Allah, bangsa Israel pun “menjanda”. Lalu siapa yang berhak mengawini kembali “janda Israel” ini? Matius, yang mengalamatkan injilnya kepada orang-orang Kristen keturunan Yahudi mengaitkannya dengan hukum perkawinan ipar. Tentu saja salah seorang saudara suaminya! Dan yang paling berhak tentu saja adalah Yesus, Putra Allah. Yohanes tidak berhak untuk menjadi mempelai bagi Israel. Dia tidak berhak “melepaskan kasut Yesus” dan mengambil alih hak untuk “mengawini Israel”. Sekarang kita bisa memahami mengapa Matius memakai istilah “melepaskan kasut” dan bukan “melepaskan tali kasut”. Dia ingin mengaitkan kehadiran Yesus dengan tugas-Nya untuk kembali “mengawini Israel”. Kasih Kristus kepada Gereja-Nya adalah dasar hidup suami istri. Kristus telah datang untuk menyerahkan diri-Nya bagi Gereja-Nya, untuk menguduskannya dan menempatkannya dengan cemerlang tanpa cacat di hadapan diri-Nya (Ef 5:25-27). Tafsir ini pertama kali dikembangkan oleh St. Heronimus, sesuai dengan catatan St. Thomas Aquinas dalam “Catena Aurea, Commentary on the Four Gospels, collected out of the Works of the Fathers”.

Kristus Sang Mempelai Gereja