Artikel

Renungan

KISAH PERTOBATAN SAULUS DALAM KISAH PARA RASUL

Dipublikasikan tanggal 25 January 2019

KISAH PERTOBATAN SAULUS DALAM KISAH PARA RASUL

Pesta Bertobatnya St. Paulus, 25 Januari

Pada hari ini Gereja merayakan Pesta Bertobatnya St. Paulus. Meskipun tidak termasuk dalam Kelompok Dua Belas, Paulus adalah tokoh yang berhasil mewartakan Injil sampai ke “ujung bumi” (Kis 1:8). Pada mulanya, dengan nama Ibrani Saulus, dia adalah tokoh yang gencar menganiaya jemaat Kristen. Namanya mulai diperkenalkan dalam Kis pada saat peristiwa pemartiran Stefanus (Kis 7:58). Siapa dapat menyangka bahwa akhirnya Saulus menjadi pewarta Injil yang paling militan?

Paulus adalah orang Yahudi dari suku Benyamin dan termasuk kelompok Farisi. Lahir di Tarsus di tanah Kilikia dan mendapat pendidikan agama dari tokoh yang sangat berpengaruh di Yerusalem, Gamaliel (Kis 22:3). Pengetahuannya tentang hukum Taurat membuatnya menjadi orang yang sangat fundamentalis, maka dia gencar menganiaya jemaat Kristen, sebuah gerakan yang pada saat itu menimbulkan kehebohan di tengah orang-orang Yahudi (Flp 3: 5-6).

Namun dalam perjalanan ke Damsyik untuk menangkap orang-orang Kristen, Saulus “berjumpa” dengan Yesus dan dia pun bertobat. Kisah pertobatannya diceritakan dalam Kis sebanyak tiga kali, yaitu Kis 9:3-19, 22:6-16, dan 26:12-18. Hal ini cukup mengherankan mengingat bahwa dalam surat-suratnya Paulus hanya sedikit menyinggung tentang peristiwa ini (Gal 1:15-16). Lukas, yang mengarang Kis, memang merupakan teman sekerja Paulus (Flm 24). Lukas menemani Paulus dalam perjalanan misi kedua dan ketiga. Sebagai seorang teman sekerja, Lukas tentu menyadari kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh Paulus. Banyak pewarta lain mencoba mendiskreditkan Paulus dan mempertanyakan otoritasnya dalam mewartakan Injil (2Kor 11:4-6; 12:11; Gal 6:12).

Sebagai penulis Kis, Lukas ingin menunjukkan bahwa sabda Yesus terpenuhi, yaitu Injil diberitakan sampai ke ujung bumi, dalam diri Paulus. Yang dimaksud "ujung bumi" tidak lain adalah kota Roma, ibukota kekaisaran Romawi. Kis berakhir dengan cerita tentang penahanan Paulus di kota Roma. Meskipun berstatus tahanan rumah, Paulus dapat mewartakan tentang Kerajaan Allah dan Tuhan Yesus Kristus “tanpa rintangan” (Kis 28:31). Bagi Lukas, seorang rasul adalah seseorang yang mengenal Yesus secara pribadi dan menerima dari Dia perutusan untuk mewartakan Injil (Kis 1:21-26). Bagaimana dua syarat ini terpenuhi dalam diri Paulus? Dengan tiga gambaran yang semakin rinci tentang kisah pertobatan Paulus, Lukas menunjukkan bahwa Paulus mengenal Yesus secara pribadi dan dia menerima instruksi dari Yesus dalam perjalanannya ke Damsyik.

Maka, dengan latar belakang maksud Lukas untuk memberikan pembelaan apologetis terhadap karya misioner Paulus, para pembaca Kis dapat memahami mengapa ada perbedaan-perbedaan dalam tiga kisah pertobatan Saulus dalam Kis. Lukas menyajikan gambaran yang semakin rinci ketika mengulang kisah yang sama. Tentang cahaya yang mengelilingi Paulus, kisah pertama berkata tentang “cahaya memancar dari langit” (9:3), kisah kedua merinci “cahaya yang menyilaukan dari langit” (22:6), dan kisah ketiga merinci lebih lanjut “cahaya yang lebih terang daripada cahaya matahari turun dari langit” (26:13). Tentang waktu, kisah pertama tidak mengatakan apa-apa. Kisah kedua memperjelas bahwa hal itu terjadi pada “waktu tengah hari” (9:6), sedangkan kisah ketiga merinci lebih lanjut “pada tengah hari bolong” (26:13). Pada kisah pertama dan kedua, dikatakan bahwa cahaya itu hanya mengelilingi Paulus (9:3; 22:6), sedangkan pada kisah ketiga cahaya itu meliputi Paulus dan teman-temannya (26:13).

Demikian pula, lukisan tentang pengejaran yang dilakukan Paulus dilukiskan semakin rinci. Kisah pertama mengatakan secara sederhana “dimasukkan ke dalam penjara” (8:3), sedangkan kisah kedua merinci “sampai mereka mati” (22:4). Kisah ketiga melukiskan secara lebih rinci lagi (26:10-11). Tentang perutusan yang diberikan Yesus kepada Paulus, pertama dikatakan bahwa Paulus akan mewartakan nama Yesus di hadapan para bangsa, raja-raja, dan anak-anak Israel (9:15). Kisah kedua tidak menjelaskan apa-apa. Sedangkan kisah ketiga memberikan gambaran perutusan yang sangat rinci. Tampaknya Lukas tidak mempedulikan rincian yang kontradiktif pada kisah pertama dan kedua (9:7 dan 22:9), dan lebih lagi pada kisah ketiga dikatakan bahwa mereka tidak mendengar ataupun melihat apa pun. Rincian ini bukanlah tujuan utama Lukas.

Adapun yang tetap konsisten dalam ketiga kisah itu ialah dialog antara Paulus dan Kristus pada saat penampakan. Menimbang kemiripan yang sangat kuat, kita bisa memastikan bahwa ini adalah percakapan yang sungguh antara Paulus dan Yesus. Dialog ini menekankan dua butir tujuan utama Lukas, yaitu Paulus mengenal Yesus secara pribadi, dan dia menerima pengajaran langsung dari Yesus.

Paulus Mewartakan Injil sampai ke Ujung Bumi