Artikel

Renungan

SAYA MENCINTAI ANGKA 13

Dipublikasikan tanggal 13 February 2019

SAYA MENCINTAI ANGKA 13

Bagi sementara orang angka 13 dianggap sebagai “angka sial”. Stigma negatif terhadap angka 13 membuat banyak orang berupaya untuk menghindari angka itu, misalnya tidak ada nomor 13 pada alamat rumah, biasa diganti menjadi 12A. Hotel dan gedung menghindari penomoran lantai 13 dan langsung memberi nama lantai 14 setelah lantai 12.

Mitos ini nampaknya tidak berlaku di budaya Yahudi. Angka 13 menjadi istimewa karena merupakan penjumlahan angka 12 dan angka 1. Angka 12 menunjukkan jumlah rusuk dalam sebuah kubus. Semua rusuk ini berpusat pada sebuah titik pusat, sehingga titik pusat ini menjadi unsur ke-13. Dengan demikian, angka 13 melambangkan keterikatan suatu multiplisitas menjadi suatu kesatuan. Sebagai contoh, ada 12 suku bangsa Israel yang terikat kepada sang ayah yaitu Yakub atau Israel. Maka, Israel adalah 13. Makna angka 13 adalah mengikat yang banyak menjadi satu.

HaShem

Seperti diketahui, Allah bangsa Israel memperkenalkan nama diri-Nya dengan sebutan יהוה (Tetragrammaton, dalam terjemahan Indonesia ditulis TUHAN). Nama ini terlalu kudus untuk diucapkan oleh manusia, sehingga ketika membaca KS orang Yahudi menemukan 4 huruf suci ini, mereka menggantinya dengan Adonay (אדני) atau HaShem (השם). Kata HaShem berarti “Nama Itu”.

Dua kali sehari orang Yahudi mendaraskan Shema (שמע), syahadat orang Yahudi yang diambil dari Ul 6:4-9, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! …” Tujuan Shema adalah pengakuan bahwa TUHAN adalah esa, dalam bahasa Ibrani “HaShem Ehad” (השם אחד).

Karena setiap huruf dalam abjad Ibrani memiliki nilai numerik, kita akan mencoba menghitung nilai numerik dari kata Ehad (artinya satu atau esa). Hurufא  bernilai 1, ח bernilai 8 dan ד bernilai 4. Ternyata kata Ehad yang artinya esa bernilai 13.

Orang Yahudi Mendaraskan Shema

Allah adalah Kasih

Dalam suratnya yang pertama, Yohanes menulis, “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1 Yoh 4:8). Kata “kasih” dalam bahasa Ibrani ahavah (אהבה) dan kalau dihitung nilai numeriknya (א=1, ה=5, ב=2, ה=5) kembali berjumlah 13.

Dengan demikian, kita bersatu dengan Allah apabila kita mengasihi Allah dan mengasihi seluruh ciptaan-Nya. Mengasihi berarti bersatu dengan obyek yang dikasihi. Nama TUHAN (Tetragrammaton, יהוה) memiliki nilai numerik 26 (י=10, ה=5, ו=6, ה=5) yang merupakan perkalian 2x13.

Allah adalah Kasih

Yesus dan 12 Rasul

Sekarang nampaknya tidak terlalu sulit untuk memahami mengapa Yesus memilih 12 orang rasul. Rombongan mereka berjumlah 13 dan Yesus adalah unsur ke-13 yang menggabungkan kedua belas rasul menjadi satu kesatuan. Ketika Yudas meninggal, Matias dipilih untuk menggantikannya. Petrus mengatakan bahwa “… dahulu Yudas termasuk bilangan kami …” (Kis 1:17), lalu mereka membuang undi dan yang kena undi adalah Matias dan dengan demikian Matias “ditambahkan kepada bilangan kesebelas rasul itu”.

Kesimpulan

Bagi orang-orang tertentu mungkin angka 13 tidak baik atau tidak membawa keberuntungan, namun bagi orang Yahudi angka 13 sempurna. Angka 13 selalu mengingatkan manusia kepada Sang Khalik, TUHAN yang esa. TUHAN yang mengikat manusia yang bhinneka menjadi satu. Angka 13 juga mengingatkan manusia akan perintah Allah untuk selalu “mengasihi”, mengasihi-Nya dan mengasihi sesama. Hari ini tanggal 13 Februari, hari yang dikhususkan untuk mengingatkan manusia bahwa “barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” Mengasihi berarti menjadi satu dengan obyek yang dikasihi.