Artikel

Renungan

YESUS DAN POLITIK

Dipublikasikan tanggal 29 March 2019

YESUS DAN POLITIK

Refleksi Pemilu 17 April 2019

Meskipun Yesus tidak pernah mendirikan partai politik, politik ada di pusaran kisah Yesus. Kehidupan-Nya di dunia berakhir dengan eksekusi yang bersifat politis. Hukuman salib pada zaman kekaisaran Romawi adalah hukuman untuk para pesakitan, terutama tahanan politik, yaitu orang-orang yang melawan pemerintahan Romawi.

Di samping itu, jantung dari pewartaan Yesus juga bersifat politis. Dia mewartakan tentang kedatangan “Kerajaan Allah”. Injil Markus mencatat kata-kata pertama yang diucapkan oleh Yesus, “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1:15). Pada zaman tersebut istilah “kerajaan” bermakna sangat politis. Para pendengar kotbah Yesus mengetahui tentang Kerajaan Herodes dan Kekaisaran Romawi. Kerajaan Allah pasti mereka pahami sebagai sebuah “kekuatan politis” di luar dua entitas politik  tersebut.

Doa yang diajarkan oleh Yesus pun menyinggung tentang Kerajaan Allah, “… datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga” (Mat 6:10). Yesus adalah seorang aktivis dan pembaharu politik. Dia aktif melakukan gerakan moral untuk mereformasi dan memperbaiki kondisi berbangsa dan bernegara yang sedang berlangsung pada saat itu. Banyak orang nyaman dan mapan dengan kondisi status quo yang diciptakan oleh penjajah Romawi, yang bekerja sama dengan pemerintahan boneka yang diberi wewenang terbatas untuk memerintah bangsa Yahudi, yaitu Mahkamah Agama atau Sanhedrin.

Lalu, apa yang diperjuangkan oleh Yesus? Agenda politik Yesus dimaklumatkan dalam khotbah-Nya yang pertama di kota-Nya sendiri, Nasaret. Pada hari Sabat di dalam rumah ibadat, Dia bersabda, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab itu Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepda orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk 4:18-19). Perhatian utama Yesus adalah keberpihakan kepada orang-orang yang lemah dan miskin.

Apa penyebab utama kemiskinan? Yesus tahu penyebabnya atau akar pemasalahannya. Kemiskinan muncul karena korupsi yang merajalela di segala lapisan masyarakat, terutama birokrasi pemerintahan yang berpusat di Bait Allah. Maka, tidaklah heran kalau Dia harus sampai mengusir para pedagang dari Bait Allah dan para pemuka agama Yahudi yang selama ini menikmati kondisi tersebut mulai terusik kenyamanannya. Di situlah pangkal permasalahan yang dihadapi oleh Yesus sampai Dia harus dihukum mati.

Kehidupan Politik Yesus Tidak Terlepas dari Birokrasi Bait Allah

Yesus juga tidak ketinggalan memanfaatkan kampanye politik, setidaknya dalam dua demonstrasi politik yang nyata. Pertama, Dia masuk kota Yerusalem dengan menunggangi seekor keledai, yang melambangkan sebuah kerajaan yang damai. Kedua, Dia menuduh Bait Allah sebagai “sarang penyamun”, karena menjadi pusat kolusi antara para petinggi agama Yahudi dan pemerintah Romawi. Kasih Yesus kepada Kerajaan Allah berakhir dengan sengsara dan wafat-Nya. Dengan demikian, Pekan Suci yang akan segera datang memiliki makna politis. Kasih Yesus yang begitu besar kepada manusia menginginkan sebuah tranformasi yang menuju kepada tatanan dunia yang lebih adil.

Sebentar lagi, pada hari Rabu tanggal 17 April 2019 bangsa Indonesia akan melaksanakan perhelatan politik terbesar, yakni pemilihan umum untuk memilih presiden, wakil presiden dan anggota legislatif. Entah kebetulan atau tidak, tanggal tersebut jatuh pada Pekan Suci. Sebagai pengikut Kristus semua umat Katolik wajib melaksanakan hak pilihnya. Hal ini merupakan sebagian dari tanggung jawab umat Katolik yang dipanggil untuk menjadi terang dan garam dunia. Melalui partisipasi dalam pemilu, umat Katolik telah menyumbangkan bahagiannya dalam transformasi politik yang positif dan kritis. Pemilu yang sukses merupakan salah satu langkah dalam proses transformasi bangsa dan negara Indonesia melalui berbagai konsep, pemikiran, gagasan dan gerakan yang segar dan sehat. Tanggal 17 April 2019 bukan hari libur, atau hari kejepit yang menggoda untuk tamasya ke luar negeri, melainkan hari di mana umat Katolik dengan imannya mengikuti alur politik yang pernah dipratikkan oleh Yesus ribuan tahun yang lalu.