Artikel

Renungan

ALLAH TRITUNGGAL

Dipublikasikan tanggal 03 May 2019

ALLAH TRITUNGGAL

Satu Allah dalam Tiga Pribadi

Harus diakui bahwa ajaran Gereja tentang Allah Tritunggal merupakan ajaran yang fundamental bagi iman Kristiani, sekaligus merupakan ajaran yang paling banyak diperdebatkan. Kontroversi mengenai paham Trinitas sangatlah rumit karena tidak mudah menjelaskan tentang relasi antara Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus dan membuat orang paham. Ajaran mengenai Trinitas juga tidak luput dari penafsiran yang beragam.

Pada abad ketiga seorang imam dari Gereja Asia Kecil, orang Smirna, memperkenalkan gagasan tentang Allah yang dikenal sebagai modalisme. Modalisme adalah ajaran yang menyangkal perbedaan Pribadi-pribadi yang ada dalam keesaan Allah dan menyatakan bahwa Bapa, Putra, dan Roh Kudus hanyalah merupakan tiga cara (modus) Allah dalam menyatakan diri-Nya. Di lain pihak, ada ajaran Triteisme yang menyatakan ada tiga Allah, dan diperkenalkan oleh Roscellinus, teolog dan filsuf dari Perancis pada abad ke-11. Kedua ajaran ini dianggap bidah atau sesat oleh Gereja.

Memang tidak mudah untuk menjelaskan pemahaman tentang Allah Tritunggal. Bagi orang yang mengandalkan logika semata, pasti akan bertanya bagaimana mungkin 1+1+1=1? Kata Tritunggal atau Trinitas sendiri memang tidak pernah muncul secara eksplisit dalam Kitab Suci, namun konsepnya jelas dinyatakan dalam Alkitab. Sebagai contoh misalnya ayat-ayat terakhir dari Injil Matius (Mat 28:18-20) di mana Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk membaptis orang dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.

Satu Allah, Tiga Pribadi

Untuk memahami ajaran tentang Allah Tritunggal kita akan sedikit melihat bahasa Ibrani yang menjadi bahasa asli Kitab Suci Perjanjian Lama. Bahasa Ibrani mengenal beberapa kata untuk menyatakan “satu”, “tunggal”, atau “esa”. Pertama adalah kata “yachid” (יחיד) yang kerap diterjemahkan sebagai “tunggal” misalnya Kej 22:2 yang menyatakan bahwa Ishak adalah anak “tunggal” Abraham. Yachid berarti tunggal dan satu-satunya.

Ada juga kata Ibrani lain “echad” (אחד) yang sering diterjemahkan sebagai “satu” karena memang juga bermakna satu dalam bilangan (numerik). Contoh pemakaian kata echad muncul dalam Kej 2:24 bahwa laki-laki akan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi “satu” daging. Kata echad tidak dapat diterjemahkan sebagai “tunggal” karena menyatakan kesatuan yang terdiri dari keberagaman. Dalam ayat Kej 2:24 pasangan suami isteri menjadi “satu”, namun tidak menghilangkan unsur laki-laki dan perempuan di dalamnya. Maka kata echad tepat untuk menyatakan “kesatuan dalam keberagaman”.

Sekarang, keesaan TUHAN dinyatakan dengan kata apa? Orang Yahudi memiliki syahadat iman yang disebut “Shema” yang dimulai dari kutipan ayat Ul 6:4. Pernyataan bahwa “TUHAN itu esa” dalam bahasa Ibrani dinyatakan dalam frasa  יהוה אחד. TUHAN itu esa, TUHAN itu echad! Dari kosa kata yang digunakan dapat disimpulkan bahwa TUHAN adalah Allah yang satu, tapi terdiri dari lebih dari satu pribadi. Persis seperti yang diajarkan oleh Gereja dalam ajaran tentang Allah Tritunggal, Allah yang satu, tetapi terdiri dari tiga pribadi. Agama Kristen tetap merupakan agama monoteis dan Allah yang disembah adalah Allah yang echad.

Keilahian Bapa dan Putera dan Roh Kudus memang tidak disangkal lagi merupakan ajaran yang dicatat dalam Kitab Suci. Pada tahun 2019 Gereja akan merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus pada tanggal 16 Juni 2019, tepat satu minggu setelah Hari Raya Pentakosta. Doa Kemuliaan yang kerap kita daraskan merupakan doa singkat kepada Allah Tritunggal Mahakudus dan mencerminkan pengakuan iman kita akan karya Allah Tritunggal.