Artikel

Renungan

HAGAR

Dipublikasikan tanggal 27 June 2019

HAGAR

Wanita yang Berbicara dengan Allah

Setiap kali pembaca Kitab Suci membaca teks-teks tentang Bapa bangsa Israel Abraham, tentu tidak akan melewati kisah romansa keluarganya dengan hadirnya dua wanita dalam kehidupannya, Sara dan Hagar. Hari ini secara khusus kita akan membahas tentang tokoh Hagar, yang muncul dalam bacaan liturgi hari ini (Kej 16:1-12, 15-16). Wanita ini adalah ibunda dari anak sulung Abraham, Ismail, dan melalui dialah diturunkan suku-suku Arab. Dia juga merupakan wanita yang dihormati oleh umat Islam serta diakui dalam tradisi Yahudi dan Kristen. Menarik sekali bahwa kisah yang muncul di Kej 16 menggambarkan bahwa Hagar adalah wanita yang mengenal Allah bangsa Yahudi secara pribadi. Mungkin itulah benang merah bacaan pertama dengan bacaan Injil hari ini yang diambil dari Mat 7:21-29. Di sini Yesus menegaskan, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga.” (Mat 7:21)

Hagar adalah seorang hamba berkebangsaan Mesir yang tinggal bersama Abraham dan Sara. Dalam Kej 16, Hagar tampil sebagai penyelamat keluarga Abraham dan Sara, yang belum dikaruniai seorang anak pun. Maka, Hagar diangkat menjadi istri kedua, sebuah pertalian perkawinan yang umum di daerah Timur Dekat pada saat itu. Sayang, baik Abraham maupun Sara gagal memandang Hagar sebagai pribadi yang utuh, hal itu terbukti dengan tidak pernahnya mereka memanggil Hagar dengan sebutan namanya. Hagar hanya menjadi obyek yang dimanfaatkan sebagai “pelahir anak” bagi Sara yang mandul. Dalam dunia modern sekarang peran Hagar mirip dengan surrogate mother (ibu pengganti atau sewa rahim). Dalam Kej 16:6 dikisahkan pula bagaimana Sara “menindas” Hagar, sehingga dia melarikan diri dari kekerasan Sara.

Seorang malaikat TUHAN memanggil Hagar dengan namanya (hal mana tidak pernah dilakukan oleh Abraham maupun Sara, majikannya). Beginilah pertanyaan dari malaikat itu, “Hagar, hamba Sarai, dari manakah datangmu dan ke manakah pergimu?” (Kej 16:8). Pertanyaan ini menyangkut “masa lampau” dan “masa depan” Hagar. Sayang, jawaban Hagar tidak lengkap. Dia mengatakan dari mana dia datang, namun tidak menyebutkan ke mana dia pergi. Dengan memfokuskan jawaban pada masa lampau saja, Hagar mengakui bahwa dia tidak memiliki masa depan.

Perintah sang malaikat juga tak kalah anehnya. Dalam Kej 16:9 dia menyuruh Hagar agar kembali kepada Sara dan membiarkan dirinya ditindas oleh majikannya. Mengapa jawaban malaikat begitu aneh? Kurang berperasaan ya? Ternyata tidak! Allah justru memfokuskan diri pada masa depan Hagar. Kali ini dia kembali bukan dengan “pasrah” atau dengan status yang sama. Dia akan kembali dengan janji yang kuat yang dia terima langsung secara pribadi dari Allah.

Hagar bukanlah seorang laki-laki apalagi bapa bangsa, namun dia menerima berkat perjanjian (Kej 16:10). Dia adalah salah satu dari beberapa manusia yang menerima perjanjian langsung dari Allah. Kej 16:11 langsung menjadi kabar kelahiran pertama dalam Kitab Suci, “… engkau akan mengandung …”

Nama anak Hagar, Ismail berarti “TUHAN telah mendengar” (Kej 16:11). TUHAN telah mendengar tentang penindasan atas Hagar. Kej 16:12 melukiskan Ismail sebagai “laki-laki yang tingkah lakunya seperti keledai liar”, dan akan melawan dan menentang banyak orang. Nubuat malaikat tentu saja menghibur Hagar yang harus mengalami penindasan dalam hidupnya.

Kej 16:13, yang tidak muncul dalam bacaan hari ini, menjadi momentum yang luarbiasa dalam Kitab Suci. Hagar memanggil Allah yang berbicara kepadanya. Dengan memanggil TUHAN sebagai “El-Roi” (harafiah, Dia melihat aku), Hagar memberikan kesaksian tentang pengalaman pribadinya. Teks ini sangat sulit, namun dengan mengatakan bahwa “… di sini kulihat Dia yang telah melihat aku …”, Hagar menegaskan kepribadiannya dan hubungannya yang intim dengan TUHAN, satu hal yang tidak dimiliki oleh Sara. Di satu pihak, Hagar adalah seorang wanita yang secara sosial tersisihkan, namun di lain pihak, TUHAN hadir dalam relasinya yang paling hangat dan intim. Tidak heran meskipun hanya menjadi istri kedua, Hagar tetap figur Kitab Suci yang layak kita teladani. Alangkah indahnya apabila kita dapat setiap saat berkata, “Di sini kulihat Dia yang telah melihat aku!”

Pelarian Hagar