Artikel

Renungan

LUKAS SCRIBA MANSUETUDINIS CHRISTI

Dipublikasikan tanggal 15 October 2019

LUKAS, SCRIBA MANSUETUDINIS CHRISTI

Penulis tentang Kerahiman Kristus

Santo Lukas adalah pelindung para seniman, pelukis, dokter, dan ahli bedah. Beliau merupakan putra dari seorang non Yahudi dan termasuk generasi Kristen kedua. Gereja merayakan pestanya pada tanggal 18 Oktober. Dante melukiskan Santo Lukas sebagai “scriba mansuetudinis Christi” yang artinya “penulis tentang kerahiman Kristus”, karena Injilnya penuh dengan gambaran tentang kelemahlembutan, sukacita, dan cinta kasih.

Santo Lukas adalah teman sepelayanan Santo Paulus, yang dipanggilnya dengan sebutan “tabib yang kekasih” (Kol 4:14) dan diyakini sebagai penulis Injil ketiga dan Kisah Para Rasul. Injilnya menyajikan dua bab yang mengisahkan tentang kelahiran dan masa kanak-kanak Yesus. Injilnya juga memuji figur Maria, hamba Tuhan yang diberkati di antara semua perempuan (Luk 1: 38, 42).

Jantung dari Injil Lukas adalah 11 bab yang menceritakan tentang khotbah Yesus dalam perjalanan dari Galilea ke Yerusalem (Luk 9:51-19:41). Bahkan karya keduanya, Kisah Para Rasul juga bercerita tentang sebuah perjalanan, yakni perjalanan pewartaan Injil dari Yerusalem, menuju Asia Kecil, Yunani sampai ke Roma. Tokoh protagonis dalam Kisah Para Rasul adalah Petrus dan Paulus, namun tokoh utamanya sesungguhnya adalah Roh Kudus yang turun ke atas para rasul pada hari Pentakosta dan yang membimbing mereka untuk mewartakan Injil baik kepada orang Ibrani maupun Yunani. Lukas membentangkan cakrawala sejarah komunitas Kristen, yang bertumbuh dan berkembang melalui pewartaan Injil. Menurut tradisi, Lukas wafat di Patrasso Yunani.

Santo Lukas Penginjil, Karya Guercino

Sang Tabib dari Antiokhia

Tradisi tua menyebutkan bahwa Lukas berasal dari Antiokhia, sebuah kota penting pada zaman itu, yang terletak di bagian tenggara Turki. Kota ini dibangun pada tahun 301 SM. Di sana hidup banyak komunitas Yahudi dan menjadi salah satu pusat kekristenan yang paling tua. Di kota inilah Lukas lahir sebagai seorang kafir, kemudian menjadi proselit, yakni simpatisan agama Yahudi. Lukas bukanlah salah seorang dari murid Yesus dari Nasaret. Kemudian, Lukas bertobat dan menjadi anggota komunitas Kristen di Antiokhia, kemungkinan pada tahun 40 SM.

Beliau menjadi teman seperjalanan Paulus dalam beberapa perjalanan misinya. Boleh dikatakan Lukas menjadi murid Paulus dan tentu saja sangat dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Paulus. Beliau kemudian memutuskan untuk menulis segala yang diketahui dan ditelitinya menjadi sebuah buku yang teratur (Luk 1:3). Sidang pembacanya adalah komunitas yang diinjili oleh Paulus, supaya mereka bertobat dari kekafiran. Dalam pelayanannya, barangkali Lukas berjumpa dengan Yakobus, kepala Gereja di Yerusalem, Petrus, Barnabas dan Markus.

Pelukis

Pekerjaan Lukas sebagai seorang tabib memang dicatat dalam Kitab Suci. Injilnya menyajikan kisah-kisah mukjizat penyembuhan dengan lebih rinci. Salah satu tradisi menyebutkan bahwa Lukas pernah menyembuhkan Bunda Maria. Lukas juga merupakan seorang pelukis dan pujangga. Beberapa lukisan Bunda Maria yang paling tua, yang masih disimpan sampai sekarang, misalnya di Gereja Santa Maria Maggiore Roma, diyakini sebagai mahakarya Santo Lukas.

Santo Lukas Penginjil dalam Manuskrit Bizantin Abad X

Akhir Hidupnya

Tidak diketahui secara bagaimana hidup Santo Lukas setelah kematian Santo Paulus. Juga tidak dapat dipastikan apakah beliau wafat secara alamiah atau menjadi martir demi kesaksiannya. Namun, sekarang ini ada tiga kota yang berkaitan dengan kematiannya: Konstantinopel, Padua, dan Venezia.

Menurut tradisi Lukas wafat dan dimakamkan di Thebes Yunani. Kemudian, sebagian dari relikuinya dipindahkan ke Konstantinopel pada tahun 357. Setelah Konstantinopel jatuh ke tangan Ottoman dari Turki, relikui tersebut diselamatkan ke Venezia Italia. Pada tahun 1992 Uskup Agung Gereja Ortodok Yunani meminta kepada Uskup Agung Venezia agar relikui Santo Lukas dikembalikan ke Thebes. Dengan demikian, saat ini relikui Santo Lukas terbagi di tiga tempat: sebagian tubuh di Gereja Santa Yustina Padua, sebagian lagi di Katedral Santo Vitus di Praha dan sebagian lagi ada di makamnya di Thebes.