Artikel

Renungan

MIKHA, TOKOH REFORMASI KEADILAN

Dipublikasikan tanggal 18 December 2019

MIKHA, TOKOH REFORMASI KEADILAN

Natal Saat untuk Kembali kepada Fitrah dan Tuntutan Hukum Allah

Betlehem adalah salah satu kota penting di tepi barat Palestina, sekitar 10 kilometer di sebelah selatan Yerusalem. Nama Betlehem berasal dari bahasa Ibrani בֵּית לֶחֶם (Beyt Lekhem) yang artinya "Rumah Roti". Kota ini merupakan kota suci bagi umat Kristen karena di kota ini terdapat Gereja Nativity (Gereja Kelahiran) yang dibangun di atas gua yang diyakini dulunya adalah tempat kelahiran Yesus Kristus. Gereja itu dibangun oleh Kaisar Konstantin Agung pada tahun 327 atas permintaan ibunya, Helena. Selain itu, Betlehem juga merupakan kota kelahiran Daud.

Adalah nabi Mikha yang menubuatkan bahwa Mesias akan lahir di Betlehem (Mi 5:1). Dia menulis, “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala”. Nabi Mikha berasal dari Moresyet-Gat (Mi 1:14) sebuah desa di pinggiran kota Yerusalem. Dia berkarya pada masa pemerintahan raja Yotam (750-732 SM), Ahas (732-715 SM), dan Hizkia (715-686 SM). Pada masa itu kerajaan Israel di Utara dan kerajaan Yudea di Selatan mencapai zaman keemasan di dalam bidang ekonomi. Sayangnya, dalam kehidupan rohani kedua kerajaan ini justru berada di titik nadir.

Pada abad VIII SM nabi Mikha mengajak seluruh umat, baik dari pemimpin sampai rakyat jelata, untuk kembali kepada fitrah dan tuntutan hukum Allah yang disimpulkan secara jelas dalam Mi 6:8, “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dah hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” Nabi Mikha mengecam keras para pemimpin Yehuda yang korup, para pejabat, pedagang-pedagang yang tidak jujur, para hakim yang memutuskan hukuman karena suap, juga nabi-nabi palsu, dan imam-imam yang fasik. Nabi Mikha mengkritisi para pemimpin karena telah menjadikan agama sebagai topeng kamuflase di dalam melakukan kefasikan dan ketidakadilan.

Kemakmuran ekonomi mengubah pola hidup masyarakat tradisional yang sederhana menjadi pola hidup kapitalis. Para pemilik modal dapat dengan sewenang-wenang membeli bahkan mengambil paksa tanah rakyat, padahal dalam konteks masyarakat tradisional, tanah dipandang sebagai anugerah dan Allah adalah pemiliknya. Konsekuensinya tanah bukanlah komoditas yang dapat diperjualbelikan.

Para pemimpin yang seharusnya menjadi pengayom dan pelindung yang adil dan benar malah sebaliknya menjadi serigala yang memangsa (Mi 3:3), bahkan menindas orang-orang miskin (Mi 2:1-11). Suap dan korupsi menjadi fenomena yang mendarah daging. Inilah realitas dari ketidakadilan. Para hakim memutus perkara karena suap, para imam melayani karena bayaran, demikian pula para nabi bernubuat karena uang. Para pemimpin yang memegang kekuasaan baik dalam bidang politik, hukum, ekonomi, dan agama telah menjadikan uang sebagai ilah.

Di dalam kondisi yang mengerikan ini, Mikha menyerukan pertobatan sebagai satu-satunya solusi. Bertobat berarti memperbaiki hidup dengan menumbuhkan kembali keadilan dan kebenaran. Bertobat berarti menunjukkan ciri-ciri adil dan benar dalam konteks hidup perseorangan dan masyarakat. Kalau seluruh komponen bangsa bertobat, Allah akan memulihkan segalanya. Hal ini disebabkan oleh kerahiman Allah yang dengan sangat indah dan agung dicatat oleh sang nabi, “Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia” (Mi 7:18)? Nama Mikha merupakan singkatan dari kata Mikhayihu (מִיכָיְהוּ) yang berarti “Siapa seperti TUHAN”.

Ketika kita berjalan-jalan di pusat perbelanjaan dan melihat pernak-pernik Natal mulai menghiasi kota Jakarta, tanpa terasa kita sudah semakin dekat dengan hari kelahiran Yesus Kristus, sang Juruselamat kita. Sebuah tembang lawas karangan Jester Hairston mungkin pantas kita renungkan, “Long time ago in Betlehem, so the holy bible says; Mary’s boy child Jesus Christ was born on Christmas day”. Apa yang pantas menjadi resolusi kita di hari Natal tahun ini? Nabi Mikha yang menubuatkan kelahiran Yesus Kristus di Betlehem ternyata adalah tokoh pembaharu sosial yang memperjuangkan keadilan sosial dalam hidup bernegara dan bermasyarakat. Maka, Natal bukan hanya perayaan yang penuh dengan pesta pora, melainkan saat untuk merenungkan kerahiman Allah, serta saat untuk mengisi hidup dengan pertobatan yang diwujudkan dalam tindakan-tindakan kebenaran dan keadilan. Hal ini juga selaras dengan tema pastoral evangelisasi Gereja KAJ tahun 2020. Kita adil, bangsa sejahtera! Selamat mempersiapkan diri menyambut hari Natal.