Artikel

Renungan

AMOS SANG PEMBELA KEADILAN

Dipublikasikan tanggal 28 February 2020

AMOS SANG PEMBELA KEADILAN

APP 2020 – Pertemuan I

Dalam kata pengantar buku pendalaman iman APP 2020 yang diterbitkan oleh KAJ, dicatat bahwa “Bapak Kardinal Ignatius Suharyo dalam salah satu khotbahnya mengajak umat untuk memohon rahmat keresahan. Resah ketika melihat aneka macam ketidakadilan dan kesenjangan sosial di sekitar kita.” Manusia merasa resah karena ada alasan yang tentu saja sangat manusiawi. Misalnya, ada anggota keluarga yang sakit parah, anak belum pulang padahal sudah larut malam dan tidak memberi kabar. Suasana hati orang yang resah pasti tidak nyaman: irama jantung berdebar, nafas agak memburu, pusing, uring-uringan dll. Singkat kata, manusia resah karena merasakan beban dalam pikirannya.

Keresahan yang sama menerpa hati dan pikiran nabi Amos. Kebetulan namanya memiliki arti “beban” (Ibr. עֹמֶס, omes). Amos berasal dari sebuah desa yang bernama Tekoa, yang terletak kira-kira 15 kilometer di sebelah selatan Yerusalem. Pekerjaannya adalah peternak dan pemungut buah ara hutan (Am 7:14). Allah memanggil Amos dalam kesederhanaannya untuk bernubuat di kerajaan Israel (Am 7:15).

Pada waktu itu kerajaan selatan Yehuda dipimpin oleh raja Uzia (2Taw 26:1-23), sedangkan kerajaan utara Israel dipimpin oleh raja Yeroboam II (2Raj 14:23-15:7). Pada saat itu baik kerajaan selatan maupun kerajaan utara sedang mencapai zaman keemasan secara politik. Mereka gemilang dalam militer dan politik, dengan mengalahkan pasukan-pasukan musuh. Batas-batas kerajaan diperluas sampai menyerupai batas-batas pada saat pemerintahan raja Salomo. Di samping itu, mereka juga makmur dari segi ekonomi dengan maraknya perdagangan, munculnya kelompok-kelompok upper class, yang hidup dalam kemewahan. Sukses dalam bidang politik/militer dan ekonomi nampaknya membuat bangsa Israel lupa diri dan menjadi tinggi hati.

Orang-orang besar (pejabat, kaya, pemimpin) menindas orang-orang kecil. Nyawa orang miskin hanya sebanding dengan harga sepasang sepatu (Am 2:6). Mereka juga tidak segan-segan menyogok para hakim demi membeli hukum (Am 2:6). Sejarah pada saat itu juga mencatat dekadensi moral, misalnya anak dan ayah sama-sama “menjamah perempuan muda” (Am 2:7).

Apakah orang-orang Israel pada saat itu tetap mempraktikkan kewajiban-kewajiban agama? Jelas. Namun praktik agama yang mereka lakukan adalah praktik semu untuk menutupi kejahatan mereka. Mereka “merebahkan diri di samping setiap mezbah di atas pakaian gadaian orang, dan minum anggur orang-orang yang kena denda di rumah Allah mereka” (Am 2:8). Mereka rajin berziarah ke tempat-tempat suci seperti Betel, Gilgal, dan Bersyeba (Am 4:4; 5:6). Mereka tidak melupakan perayaan-perayaan keagamaan dan gemar mempersembahkan kurban kepada Allah (Am 5:21-23).

Singkat kata, situasi kerajaan Israel pada saat itu diwarnai dengan beberapa hal: kesuksesan militer, politik, dan ekonomi yang disertai dengan penindasan rakyat kecil dan praktik agama yang palsu. Hal inilah yang membebani Amos, dan dia diutus untuk bernubuat di Samaria, ibukota kerajaan Utara. Orang kecil dari desa seperti Amos harus berhadapan dengan raja, pejabat, dan petinggi agama. Tidak heran, segera dia mendapat penolakan dan diusir dari Samaria (Am 7:10-17).

Sekarang, kita akan mendalami sedikit tentang teks Kitab Suci yang dipilih sebagai bacaan pendalaman iman pertama APP 2020, yakni dari Am 8:4-10. Teks ini merupakan kelanjutan dari teks sebelumnya (Am 8:1-3) tentang penglihatan keempat dalam kitab Amos, yaitu bakul berisi buah-buahan musim kemarau. Dengan penglihatan itu ditegaskan bahwa kerajaan Israel seperti buah-buah yang matang, siap untuk diadili dan dihakimi karena kejahatannya.

Kejahatan pertama dari bangsa Israel adalah “menginjak-injak orang miskin dan membinasakan orang sengsara”. Pernyataan ini merupakan pengulangan dari Am 5:11. Ini adalah bentuk ketidakadilan di mana orang-orang kecil dan miskin ditindas sedemikian rupa sehingga menjadi semakin miskin. Sebaliknya, orang-orang “besar” dan kaya tentu saja menjadi semakin kaya raya. Padahal hukum Taurat mengajarkan bahwa bangsa Israel harus “membuka tangan lebar-lebar bagi saudara yang tertindas dan miskin” (Ul 15:11). Perintah ini diberikan oleh Allah karena “orang-orang miskin tidak hentinya akan ada”.

Kejahatan kedua adalah praktik agama palsu. Mereka tetap memelihara bulan baru dan hari Sabat (Am 8:5). Allah memerintahkan agar pada setiap bulan baru, bangsa Israel harus meniup nafiri pada waktu mempersembahkan kurban bakaran dan kurban keselamatan, supaya mereka diingat di hadapan Allah (Bil 10:10). Pada bulan baru, kurban yang harus dipersembahkan sebagai persembahan bakaran adalah dua ekor lembu jantan, seekor domba jantan, dan tujuh ekor anak domba jantan yang berumur satu tahun, beserta persembahan biji-bijian dan anggur, juga seekor anak kambing untuk persembahan dosa (Bil 28:11-15). Kata ”sabat” berasal dari kata Ibrani yang artinya ”beristirahat atau berhenti”. Kata itu pertama kali muncul di dalam Kitab Suci sebagai salah satu perintah yang diberikan kepada bangsa Israel (Kel 16:23). Hari Sabat dimulai dari matahari terbenam pada hari Jumat sampai matahari terbenam pada hari Sabtu. Pada hari itu, orang Israel tidak boleh melanggar berbagai larangan: misalnya pergi dari daerahnya, menyalakan api, mengumpulkan kayu, atau mengangkut barang. Kalau ada yang melanggarnya, orang itu bisa dihukum mati. Sayangnya, meskipun tetap merayakan hari-hari tersebut, bangsa Israel tidak melakukannya dengan penuh penghayatan. Sambil melaksanakan perintah-perintah agama, hati dan pikiran mereka tertuju pada bisnis mereka (menjual gandum, menawarkan terigu). Di benak mereka hanya ada satu pemikiran: bagaimana meraih keuntungan sebanyak-banyaknya. Hal ini berarti, bahwa hartalah, dan bukan Allah, yang menjadi ilah mereka.

Kejahatan ketiga adalah kemerosotan moral dan akhlak mereka. Dalam berdagang, mereka tidak segan berlaku curang misalnya dengan “mengecilkan efa, membesarkan syikal, dan neraca palsu (Am 8:5). Efa adalah alat ukur yang berisi sebesar kurang lebih 36 liter. Syikal adalah ukuran timbangan seberat 11,4 gram. Para arkeolog menemukan di kota Tirzah sisa-sisa peninggalan toko-toko dari abad kedelapan. Mereka menemukan dua set timbangan: satu untuk membeli dan yang lain untuk menjual. Rupanya kecurangan dalam berbisnis adalah persoalan laten dalam sejarah kehidupan manusia. Orang-orang lemah dan miskin dianggap sebagai barang-barang dagangan yang bisa dinilai dengan uang atau bahkan sepasang sepatu. Tidak lupa, mereka juga menjual terigu rosokan demi mengejar sebanyak-banyaknya keuntungan (Am 8:6).

Karena segala kejahatan bangsa Israel, Allah “bersumpah” akan menghukum mereka. Dalam kitab Amos Allah tiga kali “bersumpah” (Am 4:2; 6:8; 8:7). Hukuman itu akan berlangsung sangat dahsyat, sehingga semua orang merasa ketakutan (bumi gemetar). Hukuman itu digambarkan seperti meluapnya sungai Nil di Mesir. Luapan sungai Nil selalu membawa kehancuran di daerah yang terkena luapan dan biasa berlangsung untuk waktu yang cukup lama. Allah juga akan mendatangkan “kegelapan” (matahari terbenam di siang hari, bumi gelap pada hari cerah). Situasi “kegelapan” tentu saja kontras dengan kondisi kekuatan militer dan kemakmuran ekonomi bangsa Israel pada saat itu. Dalam sekejap semua perayaan sukacita akan berubah menjadi perkabungan dan semua nyanyian berubah menjadi ratapan. Orang-orang akan berkabung dan menggunduli kepala sebagai lambang kesedihan mereka. Penderitaan yang diakibatkan hukuman Allah digambarkan seperti kematian anak tunggal, harapan untuk masa yang akan datang. Maka, yang tersisa hanyalah hari-hari yang pahit dan penuh kepedihan (Am 8:10).

Yang menarik, sebagai aksi nyata dalam buku panduan APP 2020 ini ditawarkan hidup sederhana sebagai jawaban atas seruan nabi Amos. Am 4:1-3 mengecam wanita-wanita Samaria yang mabuk kemewahan. Mereka digambarkan sebagai “lembu-lembu Basan”. Basan adalah sebuah daerah yang subur, maka padang-padang rumputnya sangat hijau. Lembu-lembu yang mencari makan di sana pastilah gemuk-gemuk. Merekalah para wanita yang memotivasi suami-suami mereka (tuan-tuan, Am 4:1) untuk semakin giat “memeras orang lemah dan menginjak orang miskin” demi membiayai kemewahan hidup mereka. Sebagai hukuman atas mereka, Amos menubuatkan bahwa “mereka akan diangkat dengan kait”. Hukuman mereka dilambangkan seperti tukang-tukang daging mengaitkan daging atau para nelayan mengail ikan. Tidak lupa mereka akan diseret ke arah Hermon, yang terletak di sebelah utara Basan. Arah utara melambangkan bahwa bangsa Israel akan dibuang ke Asyur. Kemewahan kerap merupakan salah satu pemicu ketidakadilan, ketika kemewahan itu dicapai dengan menghalalkan segala cara.

Perjuangan keadilan merupakan tugas semua orang karena panggilan itu diukir oleh Allah dalam hati nurani mereka. Semua orang dipanggil untuk mencintai dan menghargai sesama, khususnya orang-orang kecil, miskin, dan tersisihkan. Panggilan untuk memperjuangkan keadilan harus didengungkan oleh setiap orang, maka Gereja pun dipanggil untuk mewartakan Allah yang adil dan membebaskan, seperti nubuat nabi Amos. Semangat pewartaan Amos yang menekankan keadilan harus selalu menjadi sumber inspirasi bagi evangelisasi Gereja.

Amos, Peternak yang Diutus sebagai Nabi