Artikel

Renungan

TUHAN GEMBALA YANG BAIK

Dipublikasikan tanggal 05 March 2020

TUHAN, GEMBALA YANG BAIK

APP 2020 – Pertemuan II

Pertemuan II APP 2020 mengambil tema “Menjadi Gembala yang Baik”. Bacaan yang dipilih adalah Yeh 34:2-6; 11-12, yang memang berbicara tentang TUHAN, Gembala Israel yang baik. Namun bahagian “realitas di sekitar kita” justru berbicara seputar makanan yang tersisa atau terbuang, lalu disalurkan oleh suatu komunitas untuk dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Mencari benang merah antara dua tema yang berbeda ini memang cukup sulit.

Teks yang dipilih merupakan bagian dari kitab Yehezkiel bab 34. Teks Yeh 34 dapat dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama Yeh 34:1-10 berbicara tentang penghakiman TUHAN atas “gembala-gembala Israel”. Suara TUHAN melalui sang nabi menyerukan dosa-dosa para gembala Israel terhadap domba-domba mereka. Ayat 10 yang merupakan penutup dari bagian pertama yang menyatakan keputusan TUHAN bahwa para gembala Israel akan “diberhentikan” dari tugas mereka. Mulai ayat 11 pembaca memasuki bagian kedua dari bab ini, yang berbicara tentang keselamatan bagi domba-domba yang baru saja ditinggalkan oleh gembala-gembalanya. TUHAN sendiri akan menggembalakan mereka, yang secara meriah dinyatakan pada ayat terakhir (Yeh 34:31) dalam sebuah bentuk “perjanjian”. TUHAN, Sang Gembala yang baik, akan memulihkan kondisi domba-domba dan mengumpulkan mereka kembali menjadi satu kawanan.

Apa yang menjadi dosa gembala-gembala Israel? Setidak-tidaknya ada tiga dakwaan yang dituduhkan kepada mereka. Dakwaan pertama dapat ditemukan pada ayat 2, yakni “mereka menggembalakan dirinya sendiri”. Untuk mempertajam dakwaan diajukan sebuah pertanyaan retoris, “Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala itu”? Dakwaan kedua ditemukan pada ayat 3 dan 4, “Kamu menikmati susunya, … Yang lemah tidak kamu kuatkan … yang tersesat tidak kamu bawa pulang … melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman”. Dakwaan kedua menegaskan perlakuan tidak adil yang dilakukan oleh gembala-gembala Israel terhadap domba-dombanya. Dakwaan ketiga adalah bahwa domba-domba “terserak” dan menjadi makanan binatang buas (Yeh 34:5) dan para gembala Israel tidak ada yang memperhatikan atau mencarinya.

Siapakah gembala-gembala Israel ini? Mereka mungkin adalah raja-raja terakhir dari kerajaan Yehuda yang memerintah sebelum pembuangan ke Babel: Yoyakim, Yoyakhin, dan Zedekia. Memang bangsa Yahudi kerap menyebut raja-raja mereka sebagai gembala. Sebuah mazmur yang ditulis oleh Asaf menyebut Daud sebagai gembala atas umat Allah (Mzm 78:70-72). Apa rincian tugas seorang gembala? Hal ini ditegaskan pada Yeh 34:11-16. Seorang gembala yang baik mencari dombanya yang hilang (Yeh 34:11-12). Dia juga selalu berupaya untuk mencari padang rumput yang subur supaya domba-dombanya dapat makan rumput yang hijau (Yeh 34:14). Gembala yang baik tidak lupa untuk memperhatikan keadaan domba-dombanya. Dia membalut domba yang luka, menguatkan domba yang sakit dan melindungi mereka satu per satu (Yeh 34:16).

Memasuki ayat 17 tiba-tiba terjadi pergeseran. Kini, TUHAN menjadi hakim di antara domba dan domba, di antara domba dan kambing. TUHAN menegur umat-Nya yang menindas sesamanya yang miskin dan lemah. Untuk mempertegas teguran itu, Yeh 34:18-19 menampilkan serangkaian pertanyaan retoris, “Apakah belum cukup bagimu ….. Mesti pulakah …. Belum cukup …. Mesti pulakah … Apakah domba-domba-Ku … “?

Dari pertanyaan-pertanyaan retoris ini ayat 19 menjadi puncaknya, “Apakah domba-domba-Ku seharusnya memakan rumput yang sudah diinjak-injak kakimu dan meminum air yang sudah dikeruhkan kakimu”? Pertanyaan inilah yang kiranya menjadi benang merah dengan realitas tentang “sisa makanan yang terbuang”.

Studi terbaru dalam jurnal PLOS One mengungkapkan bahwa sepertiga dari total makanan yang tersedia untuk konsumsi manusia, berakhir menjadi sampah. Sampah makanan bisa menjadi sepele bagi sebagian masyarakat awam. Namun, perlu diketahui bahwa sampah makanan merupakan salah satu masalah limbah yang berkelanjutan dan terbesar di dunia. Dalam laman resminya PBB menyatakan, “Secara global, jika sampah makanan dapat direpresentasikan sebagai sebuah negara, dia akan menjadi negara penghasil gas rumah kaca terbesar ketiga setelah China dan AS”. PBB memperkirakan ada 1,3 miliar ton sampah makanan di dunia setiap tahun, setara dengan 1 triliun dolar AS. Ironisnya, di negeri-negeri yang sedang mengalami kekurangan bahan makanan, misalnya Venezuela, orang terpaksa harus mengais makanan dari tempat-tempat sampah. Ini persis seperti apa yang dipermasalahkan oleh TUHAN melalui Yehezkiel dengan “makan rumput yang sudah diinjak-injak kaki dan minum air yang sudah dikeruhkan kaki”.

Dengan demikian, berbicara tentang sampah makanan berarti berbicara tentang ketidakadilan. Dunia memiliki makanan yang cukup untuk semua penduduknya. Kalau ada orang-orang yang kelaparan, hal itu disebabkan karena ada orang-orang yang serakah. Maka, tidaklah mengherankan kalau Bapa Suci Paus Fransiskus dengan tegas menyatakan bahwa “membuang makanan tidak ubahnya seperti mencuri makanan dari meja orang miskin dan kelaparan”. Untuk itu, TUHAN menyatakan bahwa “Dia akan menjadi hakim di antara domba yang gemuk dan domba yang kurus” (Yeh 34:20). Orang-orang yang membuang makanan “mendesak semua yang lemah dengan lambungnya” dan “menghalau mereka keluar kandang” (Yeh 34:21). Akibat keserakahan manusia yang membuang-buang makanan, banyak manusia di muka bumi ini harus “terusir” dari peradaban dan kesejahteraan sosial. Lagi-lagi, sebuah perbuatan yang melukai nilai-nilai keadilan sosial.

Mengapa manusia memiliki kebiasaan buruk membuang makanan? Studi jurnal PLOS One membuktikan bahwa negara-negara kaya menyumbang lebih banyak sampah makanan. Namun, ternyata negara-negara yang lebih miskin juga mulai membuang lebih banyak makanan, seiring dengan kemampuan mereka untuk mendapatkan uang. Rupanya kebiasaan membuang makanan berkaitan dengan kemapanan ekonomi atau kemakmuran. Maka, menjadi jelaslah bahwa kebiasaan membuang makanan adalah perilaku tidak adil dari orang kaya terhadap orang miskin atau dalam bahasa sang nabi “semua yang lemah kamu tanduk dengan tandukmu” (Yeh 34:21).

Dengan berupaya menghentikan kebiasaan membuang-buang makanan, diharapkan angka limbah pangan dapat berkurang seiring dengan semakin tingginya permintaan atas pangan. Dengan menghentikan kebiasaan membuang-buang makanan, kita turut serta membantu produktivitas sektor tenaga kerja, penghematan rumah tangga, pengentasan kemiskinan, pengurangan emisi karbon, dan pemulihan kerusakan lingkungan. Saatnya bagi orang Katolik yang merupakan bagian dari bumi pertiwi menyatakan “Tidak” pada kebiasaan membuang makanan!

Kita diingatkan akan peristiwa penggandaan roti (Yoh 6:1-15). Pada hari itu makanan berlimpah dan semua yang hadir makan sampai kenyang. Namun, Yesus tetap memberi instruksi kepada murid-muridnya, “Kumpulkan potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang”. Kebiasaan buruk membuang makanan nyata-nyata bertentangan dengan perintah Yesus ini. Saatnya bagi kita umat Katolik untuk membangun habitus baru selama masa Prapaskah ini.

Membuang Makanan, Mencuri Hak Orang Miskin