Artikel

Renungan

PEMBELA KEADILAN

Dipublikasikan tanggal 17 March 2020

PEMBELA KEADILAN

APP 2020 – Pertemuan III

Dewasa ini kita sering mendengar bahwa bangsa Indonesia sedang mengalami krisis kepemimpinan. Kita mungkin sulit memercayai hal ini, masa dari 270 juta penduduk Indonesia tidak ada yang layak menjadi pemimpin? Namun, rupanya permasalahan tidaklah sesederhana yang kita bayangkan. Ketika berbicara tentang masalah kepemimpinan, kita pasti mengaitkannya pada sosok pemimpin seperti presiden, gubernur, walikota, bupati, camat atau bahkan kepala desa. Namun, kepemimpinan tidak hanya berbicara masalah jabatan atau siapa yang menjadi pemimpin, melainkan memiliki makna kepemimpinan yang lebih luas. Kepemimpinan memiliki makna yang berkaitan dengan tugas, kewajiban, dan karakter seorang pemimpin. Indonesia membutuhkan pemimpin yang sekaligus “pembela keadilan”. Inilah tema yang dibahas pada pertemuan ketiga APP 2020.

Sebagai inspirasi sabda dipilih teks dari Injil Mat 23:1-3, 8-12. Teks ini merupakan bagian dari teks Mat 23:1-36 yang menceritakan kecaman Yesus terhadap ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Sejak Yesus mulai mewartakan tentang Kerajaan Surga (Mat 4:17), Dia nampak dikelilingi oleh tiga komunitas manusia: para rasul (Mat 4:18-22), orang banyak (Mat 4:25-5:2) dan para pemimpin agama Yahudi (Mat 9:1-13). Mat 23 merupakan klimaks dari konflik antara Yesus dan para pemimpin agama Yahudi (Mat 21:23-22:46). Pada ayat Mat 15:7 Yesus menegaskan bahwa para pemimpin agama Yahudi adalah orang-orang munafik. Kemudian, pada ayat Mat 16:5-12 Dia mengingatkan agar murid-murid-Nya waspada terhadap ajaran orang Farisi dan Saduki. Kali ini Dia bersikap lebih tegas lagi terhadap kelompok-kelompok ini.

Yesus mengatakan bahwa ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Orang-orang Farisi adalah kelompok religius di dalam Yudaisme yang memperjuangkan fundamentalisme Taurat dan tradisi nenek moyang. Mereka paling getol menuntut penafsiran yang paling keras, terutama yang berhubungan dengan Sabat, kebersihan ritual dan persepuluhan. Sedangkan ahli-ahli Taurat adalah mereka yang mempelajari Taurat secara teliti, baik hukum tertulis maupun hukum lisan. Mereka bisa saja beraliran Farisi.

Menurut Perjanjian Lama, “menduduki kursi” merupakan perlambang dari “menjadi pewaris atau penerus” (Kel 11:5; 12:29; 1Raj 1:35; 2:12; Mzm 132:12). Dengan demikian, para ahli Taurat dan orang-orang Farisi menganggap diri mereka sebagai penerus Musa yang sah dan memiliki otoritas seperti Musa. Di bagian depan sinagoga Yahudi terdapat kursi batu yang dikhususkan untuk guru yang akan mengajar dengan otoritas. Dengan menduduki kursi Musa, para petinggi agama Yahudi menganggap diri mereka sebagai “pemimpin sejuta umat”.

Umat tentu saja harus “tunduk” kepada pemimpin, maka Yesus menganjurkan agar orang Yahudi menaati dan melakukan segala sesuatu yang diajarkan oleh pemimpin mereka. Tapi, dengan gaya ironi Yesus kemudian mengkritisi kualitas kepemimpinan dari mereka yang telah ditetapkan sebagai pemimpin agama Yahudi. Mereka mengajarkannya, tetapi tidak melakukannya. Dengan kata lain, seorang pemimpin harus menjadi “teladan”. Banyak pemimpin yang ahli atau pandai bicara, namun yang lebih penting dia harus menjadi contoh dalam semua hal yang diajarkannya. Santo Petrus menasihati agar seorang pemimpin “menjadi teladan bagi kawanan dombanya” (1Pet 5:3). Seorang pemimpin harus memiliki integritas dan kredibilitas. Dalam hal integritas dia harus jujur dan penuh pengabdian. Dalam hal kredibilitas dia harus dapat dipercaya dan berpegang teguh pada prinsip.

Para pemimpin agama Yahudi rupanya juga gila hormat. Mereka memakai tali sembahyang yang lebar. Mungkin yang dimaksudkan adalah filakteri, yakni kotak kecil yang berisikan ayat Kitab Suci (Ul 6:4-9) yang diikatkan pada dahi dan lengan ketika orang Yahudi berdoa. Tali-tali sembahyang sengaja dibuat lebar-lebar supaya orang lain bisa menyaksikan “kesalehan” mereka. Dengan maksud yang sama, mereka juga memperpanjang jumbai-jumbai pada ujung jubah mereka (Bil 15:37-41; Ul 22:12). Allah memang memerintahkan agar orang Yahudi membuat jumbai pada keempat ujung jubah mereka untuk mengingatkan mereka akan segala perintah-Nya. Para pemimpin agama Yahudi sengaja membuat jumbai yang panjang supaya orang lain menganggap mereka sangat saleh dan berbakti kepada Allah. Mereka suka duduk di tempat-tempat kehormatan dan gemar disapa sebagai “Rabi”. Dengan gelar “Rabi” para pemimpin agama Yahudi merasa beda dan lebih unggul dibandingkan dengan orang lain.

Kepada para Rasul-Nya Yesus menegaskan agar tidak mabuk kepayang dengan panggilan “Rabi” karena mereka hanya memiliki seorang “Rabi” yaitu Yesus. Mereka tidak boleh merasa unggul dibanding dengan orang lain, sebaliknya mereka harus menganggap orang lain sebagai saudara yang setara. Pada ayat Mat 28:9 mungkin yang dimaksud oleh Yesus sebagai “bapa” adalah pendahulu di bidang spiritual (bdk. 2Raj 2:12). Hanya ada satu Bapa, yaitu Allah Bapa yang ada di surga.

Lalu siapa yang pantas menjadi Pemimpin? Hanya ada satu Pemimpin yaitu Mesias. Dialah satu-satunya yang layak duduk di kursi Musa dan memiliki otoritas untuk menafsirkan dan mewahyukan kehendak Allah secara benar (Mat 22:41-46). Seorang pemimpin tidak pantas mencari pamor dengan segala gelar kehormatan karena segala kehormatan adalah milik Allah. Dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, Kitab Suci menggarisbawahi bahwa Allahlah yang memilih, memanggil, dan memperlengkapi orang-orang tertentu menjadi pemimpin dan pemerintah bagi umat-Nya. Allah mendelegasikan suatu otoritas kepada mereka supaya mereka melaksanakan tugas-tugas dan mencapai tujuan-tujuan sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya. Mereka dalam tugas kepemimpinan tetap menjadi abdi Allah.

Apa lagi yang menjadi ciri kepemimpinan yang adil? Mat 23:11-12 menekankan segi pelayanan dalam kepemimpinan. Yesus sudah mengajarkan tentang hal ini sebelumnya (Mat 18:4; 20:20-28). Kepemimpinan adalah kehambaan, pengabdian dan pengorbanan, bukan untuk mencari uang dan jabatan (1Pet 5:1-3). Kepemimpinan yang adil bukan bergaya majikan atau boss. Pemimpin wajib memilik hati seorang hamba dan sifat seorang pelayan (Yoh 13:4-17; Mrk 9:35). Yesus sendiri, sang Pemimpin Agung telah menjadi pelayan (Luk 22:27). Model kepemimpinan yang membela keadilan adalah Yesus Kristus. Para pemimpin di dunia ini telah diangkat oleh Allah, oleh karena itu para pemimpin di dunia harus mengandalkan Allah seutuhnya. Mereka tunduk kepada Allah dan bukan kepada kekuatan ekonomi, politik, militer atau kekuatan duniawi lainnya.

Bangsa Indonesia memerlukan pemimpin-pemimpin. Penulis kitab Amsal menyatakan, “Jikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa …” (Ams 11:14). Bangsa tidak akan bertumbuh mencapai kedewasaan tanpa kepemimpinan. Bangsa Indonesia yang tengah bertumbuh dan bergumul di dalam dunia yang penuh dengan guncangan dan krisis memerlukan kepemimpinan yang solid. Kekuatan kepemimpinan yang solid tergantung dari keberpihakan kepada Allah dan kepada orang-orang yang dipimpin. Pemimpin yang berpihak kepada Allah akan kelihatan dari standar moral dan karakternya, serta dari visi misinya. Dia sanggup bekerja keras dan tidak gentar menghadapi tantangan dan konflik. Pemimpin yang berpihak kepada orang-orang yang dipimpinnya akan memilih model kepemimpinan sebagai pelayan. Dia merupakan komunikator yang baik, sehingga mampu melakukan pendekatan-pendekatan dengan aneka ragam cara. Metode komunikasinya selalu mengembangkan dan membina relasi. Tentu orang-orang yang dipimpinnya akan merasa sukacita. Dialah sang pembela keadilan! Rupanya metode inilah yang membuat Santo Paulus berhasil dalam pewartaan Injil. Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus dia menulis, “Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat” (1Kor 10:33).