Artikel

Renungan

MENGASIHI SAMPAI PADA KESUDAHAN

Dipublikasikan tanggal 09 April 2020

MENGASIHI SAMPAI PADA KESUDAHAN

Amanat Perayaan Kamis Putih

Hari ini tanggal 15 bulan Nisan tahun 5780 menurut kalender Yahudi. Hari ini orang-orang Yahudi merayakan hari pertama Paskah Yahudi. Bagi mereka Paskah adalah sebuah kenangan di mana mereka mengingat dan menghadirkan kembali kasih Allah yang menyelamatkan bangsa-Nya. Paskah Yahudi dirayakan dalam sebuah perjamuan keluarga yang sarat dengan ucapan syukur dan pujian kepada Allah yang telah memilih dan melindungi bangsa Israel.

Menurut injil-injil Sinoptik pada malam Paskah Yesus merayakan perjamuan terakhir dengan murid-murid-Nya. Seperti kita ketahui bersama pada malam itu Yesus memberi makna baru bagi Paskah melalui serangkaian perbuatan dan sabda. Apabila melalui Paskah bangsa Yahudi beralih dari perbudakan menuju kemerdekaan, maka melalui Paskah Yesus beralih dari kematian menuju kehidupan. Inilah Paskah Yesus dan kita turut mengambil bagian di dalamnya melalui baptisan yang kita terima.

Sekarang kita akan memperhatikan dan merenungkan bersama segala perbuatan dan sabda Yesus pada malam itu. Injil-injil sinoptik mengisahkan bahwa pada malam itu Yesus menetapkan ekaristi, sedangkan injil Yohanes yang menjadi bacaan pada hari ini mengisahkan tentang pembasuhan kaki. Meski nampak merupakan dua perbuatan yang berbeda, namun keduanya memiliki makna yang sama, yakni bahwa Yesus menyerahkan diri-Nya. Menurut catatan Yohanes inilah saat Yesus “mengasihi sampai pada kesudahannya” (Yoh 13:1).

Injil melaporkan bagaimana Yesus bangun, menanggalkan jubah-Nya, mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya untuk kemudian membasuh kaki murid-murid-Nya. Sebagai seorang guru, Yesus melakukan pelayanan yang biasa hanya dilakukan oleh para hamba. Pelayanan ini merupakan jalan untuk membangun persaudaraan yang merupakan inti dari Kerajaan Allah. Tindakan Yesus ini mengejutkan para murid, namun Yesus menjelaskan, “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu, sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (Yoh 13:14-15).

Sabda Yesus ini juga diarahkan kepada kita semua. Jubah apa yang harus kita tanggalkan dan kain apa yang harus kita ikatkan pada pinggang kita? Kaki-kaki siapa yang harus kita basuh? Apa sesungguhnya makna dari pelayanan? Jawaban atas segala pertanyaan ini harus mulai kita laksanakan pada hari ini dan seterusnya sehingga menjadi habitus kita. Mungkin baik adanya apabila kita mulai merenungkan apakah kita sudah cukup melayani mereka yang berada di sekeliling kita: orang tua kita, anak-anak kita, pasangan hidup kita, teman-teman kita, teman-teman kerja kita, orang-orang yang membutuhkan pertolongan, orang-orang yang diperlakukan tidak adil? “Kaki-kaki” merekalah yang harus kita basuh dengan cara mencari mereka, menemani mereka, membantu mereka dan membela mereka.

Dewasa ini kita sering menganggap bahwa pelayanan adalah sesuatu hal yang istimewa dalam hidup kita. Namun, Yesus memerintahkan agar pelayanan menjadi sebuah kebiasaan kita, dan menjadi suatu kebiasaan yang kita lakukan setiap hari. Boleh dikatakan bahwa hidup kita harus dibangun dari pelayanan.

Melayani bukanlah sebuah perintah belaka dari Yesus, melainkan sebuah upaya untuk melanjutkan apa yang dilakukan oleh Yesus untuk kita semua. Dengan segala perbuatan dan sabda Yesus pada malam perjamuan terakhir, roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah-Nya dalam kehadiran yang sungguh. Ekaristi bukanlah sekedar kenangan manis dari malam perjamuan terakhir itu saja, melainkan sebuah kenangan harus senantiasa “dihadirkan kembali” pada setiap kesempatan.

Ketika benda-benda rohani ditutup dengan kain selubung berwarna ungu, kita diingatkan bahwa kita bukan hanya penonton, melainkan juga pelaku dalam panggung sengsara Yesus. Sabda Yesus, “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Luk 22:19) adalah sebuah undangan bagi kita semua untuk mencatat sejarah hidup kita sebagai sebuah Paskah di mana kematian beralih pada kehidupan. Jubah-jubah kenyamanan dan ketakutan harus kita tanggalkan dan kain lenan pelayanan harus kita ikatkan pada pinggang kita. Kasih dan penyerahan diri seutuhnya adalah konsekuensi dari berbagi roti dan anggur yang diserahkan kepada kita. Ternyata, begitu banyak detail dan elemen kasih dan pelayanan yang dapat ditarik dari perayaan Kamis Putih.

Selamat merayakan hari Kamis Putih penuh berkat!

Kaki-kaki Siapa yang Harus Kita Basuh?