Artikel

Renungan

IA MENUNDUKKAN KEPALANYA DAN MENYERAHKAN NYAWANYA

Dipublikasikan tanggal 10 April 2020

IA MENUNDUKKAN KEPALANYA DAN MENYERAHKAN NYAWANYA

Jumat Agung 2020

Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah” (1Kor 1:23-24), demikianlah pernyataan tegas dari Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus.

Salib dapat dilihat dengan berbagai kacamata, setidak-tidaknya dua: dari perspektif rencana penyelamatan Allah melalui diri Yesus  dan dari perspektif mereka yang menyalibkan-Nya. Mereka yang menyalibkan Yesus merasa yakin bahwa Yesus memang patut dihukum karena menghujat Allah dan menganggap diri-Nya sebagai Raja. Maka, bagi mereka salib adalah kematian konyol dari seseorang yang ingin menyamakan diri dengan Allah atau Kaisar Romawi yang sah. Dalam pandangan mereka, Mesias adalah Orang yang sangat diberkati oleh Allah (Yes 11:2), maka ketika Yesus mati di kayu salib, mereka menganggap bahwa itulah bukti bahwa Allah mengutuk-Nya (Ul 21:23, Gal 3:13).

Sebaliknya, dalam perspektif Allah, Salib adalah kabar baik karena Yesus mengajarkan dan menawarkan Salib sebagai jalan untuk mencapai keselamatan. Dia bersabda, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat 10:38-39). Salib adalah jalan yang harus ditempuh oleh seorang murid Kristus untuk melangkah di jalan-Nya menuju hidup yang kekal. Meskipun keyakinan ini tentu saja berlawanan dengan keyakinan dunia, inilah kabar baik tentang Kerajaan Allah, inilah kekuatan Allah. Di samping itu, melalui Salib Kristus manusia dapat mengenal Allah dan datang kepada-Nya, maka Salib Kristus adalah juga “hikmat Allah”.

Dunia kesulitan untuk memandang salib Kristus dalam perspektif Allah, karena kabar baik tentang Kerajaan Allah hanya dapat dipahami dengan logika kasih. Namun, kasih itu bukanlah kasih romantis yang ditampilkan di telenovela-telenovela, melainkan kasih yang rela menyerahkan diri seutuhnya. Kasih ini ditandai dengan pelayanan yang tulus, pengingkaran egoisme, dan perhatian yang luar biasa terhadap kebutuhan orang lain, terutama mereka yang kecil, miskin, dan tersisihkan. 

Salib Kristus adalah bukti kasih yang paling besar, yang menyatakan bahwa Yesus merelakan nyawa-Nya demi kasih-Nya kepada manusia, supaya mereka memiliki hidup yang berkelimpahan. Dunia diwarnai dengan hukum rimba di mana dunia hanya mengenali paham “saya ingin hidup, maka saya lenyapkan semua yang menginginkan saya mati”. Sebaliknya, Yesus menawarkan paham “saya merelakan hidup saya demi kasih untuk orang lain sehingga mereka memperoleh hidup berkelimpahan”. Dengan demikian, Salib Kristus adalah kasih yang jauh lebih kuat daripada kematian. Dunia harus belajar suatu hal, yaitu bahwa “yang terkuat bukanlah mereka yang dapat membunuh, melainkan mereka yang mengasihi dan menyerahkan nyawanya”. Inilah Allah yang diwahyukan melalui diri Kristus.

Yesus mengalami Salib Golgota sebagai pernyataan tentang kasih Allah yang tanpa batas, dan kasih ini mampu mengubah kematian menjadi kehidupan, dan mengubah dosa menjadi keselamatan. Untuk itulah, Salib Kristus menjadi kabar baik dan menyatakan kehendak Allah. Teladan inilah yang kita rayakan pada hari Jumat Agung ini. 

Ketika mata kita menatap Salib Kristus atau ketika bibir kita mengecupnya, kita harus mulai merenungkan hal-hal apa yang akan kita lakukan. Kita layak menjawab “Ya” pada rencana penyelamatan Allah melalui Yesus. Kita siap menapaki jalan menuju keselamatan melalui pelayanan kasih yang tak bersyarat. Kita menawarkan diri untuk bekerja sama dengan Yesus untuk terus-menerus menghadirkan kasih di dunia, karena “…cinta kuat seperti maut, … nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN” (Kid 8:6).

Selamat melewati hari Jumat Agung penuh kasih!

Ketika Aku Memandang Salib Kristus, Apa Yang Dapat Kutawarkan Kepada-Nya?