Artikel

Renungan

SELAMAT HARI LAHIR PANCASILA

Dipublikasikan tanggal 01 June 2020

SELAMAT HARI LAHIR PANCASILA

Pancasila Perwujudan Nilai-nilai Ajaran Kristiani

Hari ini tanggal 1 Juni 2020 bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada tanggal 1 Juni genap 75 tahun yang silam, presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno berpidato di sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Pada kesempatan itu beliau mengemukakan gagasan tentang lima dasar negara (Pancasila) yang menjadi panutan setiap warga masyarakat Indonesia untuk bersikap dan bernegara. Selanjutnya, setelah melalui proses persidangan akhirnya rumusan Pancasila buah pemikiran Bung Karno berhasil dirumuskan untuk dicantumkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh BPUPKI. Sejak saat itu Pancasila menjadi dasar negara serta pedoman hidup berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.

Akhir-akhir ini Pancasila menghadapi tantangan yang cukup berat. Nilai-nilai Pancasila tergerus oleh zaman dalam tata kehidupan masyarakat. Padahal, sejarah membuktikan bahwa kebhinnekaan Indonesia dipersatukan dan direkat oleh Pancasila sebagai dasar negara. Maka, kesadaran perlu terus-menerus ditumbuhkan di tengah-tengah masyarakat Indonesia supaya seluruh komponen bangsa Indonesia semakin merasa bertanggung jawab dalam mengamalkan Pancasila. Umat Katolik di Indonesia harus merasa bersyukur karena negara Indonesia memiliki Pancasila sebagai dasar negara. Tidak diragukan lagi nilai-nilai Pancasila dapat mengejawantahkan ajaran-ajaran Kristiani. Maka, Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta (Ardas KAJ) 2016-2020 secara khusus dan tegas menyatakan bahwa pengamalan Pancasila merupakan bagian integral visi Ardas KAJ 2016-2020. 

  1. Sila Ketuhanan yang Mahaesa

Ul 6:4 berbunyi “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa”! Ayat ini merupakan ayat pertama dari syahadat orang Israel atau kerap disebut sebagai Shema Yisrael (Ul 6:4-9), yang didaraskan oleh orang Israel dua kali dalam sehari pada malam dan pagi hari. Inti dari Shema Yisrael adalah perintah untuk mengasihi TUHAN dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan (Ul 6:5). Perintah ini pun harus diajarkan kepada anak-anak, dibahas di dalam dan di luar rumah, pada waktu beristirahat maupun waktu bekerja (Ul 6:7). Orang Yahudi wajib mengikatkan perintah tersebut pada lengan dan memasangnya pada dahi (Ul 6:8). Sebagai ketaatan harafiah terhadap ayat ini, orang Yahudi menyalin Ul 6:4-9 dalam kotak-kotak kecil dan mengikatkannya pada lengan dan dahi ketika mereka berdoa. Kotak-kotak kecil ini disebut filakteri atau tefilin. Selain itu, orang Yahudi pun wajib menulis ayat-ayat ini pada tiang pintu rumah dan pada pintu gerbang kota (Ul 6:9). Maka, di tiang-tiang pintu rumah-rumah orang Yahudi, dipasang kotak yang berisi ayat-ayat Shema. Kotak di pintu disebut mezuzah, yang mengingatkan mereka yang tinggal di dalam rumah tentang hubungan istimewa mereka dengan TUHAN. Sila pertama Pancasila mengingatkan umat Kristen akan hukum pertama dari dua hukum yang terutama yang diajarkan oleh Yesus (Mat 22:37).

Berdoa dengan Filakteri

  1. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Sila kedua Pancasila mengingatkan umat Kristen akan hukum kedua dari dua hukum yang terutama (Mat 22:39) yang berbunyi “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Kewajiban mengasihi sesama manusia tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras dan golongan berakar kuat dalam Perjanjian Lama. Im 19:9-10 berbunyi, “Pada waktu kamu menuai tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya, dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu. Juga sisa-sisa buah anggurmu jangalah kaupetik untuk kedua kalinya dan buah yang berjatuhan di kebun anggurmu janganlah kaupungut, tetapi semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing; Akulah TUHAN, Allahmu”.

  1. Sila Persatuan Indonesia

Sila ketiga Pancasila berbicara tentang nasionalisme, rasa cinta terhadap negara dan tanah air, serta ketaatan kepada pemerintah. Kitab Suci mengajarkan bahwa manusia harus tunduk pada pemerintah karena mereka adalah wakil Allah di dunia. Rom 13:1 berbunyi “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada ditetapkan oleh Allah”. Ketika orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang kewajiban membayar pajak, Yesus dengan tegas menjawab “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat 22:21). Rasa persatuan juga diajarkan oleh Paulus sebagaimana dituliskannya kepada jemaat di Korintus ketika menanggapi tentang perpecahan dalam jemaat, “Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir” (1Kor 1:10).  

  1. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ Perwakilan

Sila keempat Pancasila ini menekankan pentingnya musyawarah dalam upaya untuk mencapai mufakat atau keputusan bersama. Praktik musyarawah diterapkan ketika para rasul menyelenggarakan sidang di Yerusalem untuk memutuskan tentang kewajiban sunat bagi orang-orang Kristen non Yahudi (Kis 15:1-21). Sidang ini menindaklanjuti hasil pewartaan Injil yang dilaksanakan oleh Paulus dan Barnabas di provinsi Asia Kecil. Pada sidang ini tiap pihak yang berkepentingan diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya: Paulus/Barnabas dan Yakobus. Sidang juga memberi tempat kepada Petrus, yang telah diangkat oleh Yesus sebagai Pemimpin Gereja (Mat 16:18). Musyarawah juga nampak dalam peristiwa pengangkatan tujuh orang diakon (Kis 6:1-7) sebagai upaya untuk menyelesaikan masalah ketidakpuasan orang-orang Yahudi berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani. Karena musyawarah untuk mencapai mufakat merupakan solusi terbaik, dampak yang dirasakan oleh Gereja juga luar biasa di mana “Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak” (Kis 6:7).

Musyawarah dalam Sidang Yerusalem

  1. Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Sila kelima Pancasila mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk mewujudkan keadilan dan pemerataan kesejahteraan bersama. Sejak semula, Allah memilih Abraham dan menjadikan keturunannya sebagai bangsa yang besar bukan tanpa tujuan. Kej 18:18-19 berbunyi “Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat? Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan kepadanya”. Im 25 berbicara tentang tahun Yobel atau tahun ke-50. Pada tahun ini dilaksanakan pembebasan bagi para budak, termasuk lahan pertanian “diistirahatkan”. Perayaan ini menyuarakan pesan moral yang saling berkaitan antara penebusan dan pembebasan. Perayaan Yobel diwarnai dengan penebusan tanah, penebusan rumah dan perlakuan terhadap orang-orang miskin.

Pancasila sebagai dasar atau ideologi negara sangat berkaitan dengan nilai-nilai ajaran Kristiani. Dapat dikatakan bahwa kedalaman nilai filosofis Pancasila merupakan perwujudan nilai-nilai ajaran Kristiani. Oleh sebab itu, umat Katolik sebagai bagian dari masyarakat Indonesia wajib senantiasa melaksanakan, menjaga, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa, bernegara, bermasyarakat dan beragama. Selamat Hari Lahir Pancasila!