Artikel

Renungan

MISA LIVE STREAMING

Dipublikasikan tanggal 14 June 2020

MISA LIVE STREAMING

Adakah Kesatuan Umat dalam Ibadah Live Streaming?

Sejak wabah Covid-19 merebak di dunia, ibadah live streaming menjadi model yang mau tidak mau harus diterima oleh umat beragama. Demi memutus rantai penyebaran Covid-19, semua kegiatan beribadah di rumah-rumah beribadah ditiadakan selama masa lockdown atau PSBB. Kini, ketika lockdown atau PSBB mulai dilonggarkan, hal ini bukan berarti bahwa kegiatan beribadah kembali ke keadaan semula. Untuk mencegah kerumunan dan menjaga jarak fisik aman sebesar minimal 1(satu) meter, kapasitas rumah-rumah ibadah berkurang sampai 50% bahkan lebih. Demikian pula umat yang menunjukkan gejala demam atau sakit pernafasan/influenza dilarang beribadah di rumah ibadah. Larangan ini juga berlaku bagi anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki sakit bawaan yang berisiko tinggi terhadap Covid-19. Hal ini berarti, bahwa ibadah live streaming masih tetap menjadi alternatif.

Ibadah live streaming kerap menimbulkan pro kontra. Kata “gereja” berasal dari bahasa Yunani “ecclesia” yang berarti “kumpulan”. Hal ini nyata dalam cara hidup Gereja Perdana seperti tercatat dalam Kitab Suci, bahwa “… mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kis 2:42b). Misa live streaming tidak menyediakan kesempatan bagi umat untuk “berkumpul” maupun “menyantap roti” secara bersama-sama. Lalu, apakah misa live streaming itu “sah”? Ada yang malah bersikeras bahwa “ibadah live streaming tidak alkitabiah”. Tentu saja ya sulit mencari rujukan dalam Kitab Suci, karena live streaming kan fenomena di abad ke-21 di tengah pandemi. 

Namun kita dapat sedikit berimajinasi. Kalau kita melihat daftar kitab-kitab dalam Perjanjian Baru, kita menemukan pertama kali empat injil: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Dalam kitab-kitab injil kita membaca bagaimana Yesus mulai membentuk komunitas dan Dia sendiri mewartakan kabar baik kepada murid-murid dan pengikut-pengikut-Nya. Metode yang dipakai oleh Yesus adalah metode tatap muka, di mana Yesus sendiri mengumpulkan orang banyak dan mengajar secara face-to-face. Maka, istilah “orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia” sering kita temukan dalam kitab-kitab Injil misalnya Mat 4:25a. 

Setelah Yesus naik ke surga, pewartaan Injil dilanjutkan oleh para murid. Ketika Petrus berkotbah pada hari Pentakosta, lahirlah Jemaat Perdana dengan tiga ribu anggota (Kis 2:41). Dalam waktu yang sangat singkat jumlah umat meningkat menjadi lima ribu orang (Kis 4:4). Selanjutnya kitab Kis menceritakan perjalanan misi Paulus untuk mewartakan Injil ke luar Palestina, terutama ke Provinsi Asia Kecil dan Eropa. Dalam waktu yang singkat Injil berhasil diwartakan sampai ke tempat-tempat yang jauh dari bumi Palestina. 

Kini, setelah umat Kristen tersebar di berbagai tempat yang secara lokasi terpisah jauh satu sama lain, apakah masih dimungkinkan metode tatap muka sebagai cara pewartaan Injil oleh para rasul? Nampaknya tidak! Hal ini nampak dari munculnya puluhan surat dalam Perjanjian Baru (22 surat kalau kitab Wahyu juga dianggap sebagai surat). Surat menjadi gaya pastoral baru menggantikan tatap muka. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa ada situasi-situasi tertentu di tengah umat yang mewajibkan gaya pastoral baru. Hal ini mirip dengan ibadah live streaming yang menjadi alternatif pastoral umat di tengah pandemi. 

Pertanyaannya sekarang adalah seberapa jauh efektivitas atau legalitas sebuah ibadah live streaming? Seperti kita ketahui, ibadah live streaming memiliki kelemahan, karena tidak memungkinkan kesatuan umat dalam bentuk perkumpulan raya pada hari-hari ibadah. Apakah perbedaan tempat dalam ibadah menghalangi kesatuan ibadah?

Sekali lagi kita akan mencoba mencari jawabannya di dalam Kitab Suci. Dalam 1Kor 5:1-5 dikisahkan bagaimana jemaat di Korintus menjatuhkan hukuman disipliner kepada orang yang melakukan percabulan. Hukuman disipliner ini dijatuhkan pada hari di mana umat sedang berkumpul untuk beribadah, karena Paulus menyinggung tentang “berkumpul dalam roh” (1 Kor 5:4). Pada waktu itu Paulus sedang berada di tempat lain. Walapun demikian, dia “hadir secara rohani” dan turut mendeklarasikan hukuman (1 Kor 5:3). Demikian kutipan ayatnya,

Sebab aku, sekalipun secara badani tidak hadir, tetapi secara rohani hadir, aku sama seperti aku hadir telah menjatuhkan hukuman atas dia, yang telah melakukan hal yang semacam itu. Bilamana kita berkumpul dalam roh, kamu bersama-sama dengan aku, dengan kuasa Yesus, Tuhan kita, orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan.

(1Kor 5:3-5)

Mengapa kesatuan secara rohani di atas dapat tercipta? Pertama, karena mereka memiliki tujuan yang sama. Kedua, karena mereka sepakat dalam otoritas Tuhan Yesus. Jadi, kesatuan rohani di dalam ibadah tidak dibatasi oleh lokasi.

Dari teks Kitab Suci di atas kita dapat dengan tegas menyatakan bahwa lokasi ibadah tidak menghalangi kesatuan rohani dalam ibadah. Ibadah live streaming tidak bertentangan dengan Kitab Suci. Namun, ibadah live streaming perlu mengikuti beberapa kaidah yang fundamental. Pertama, ibadah live streaming tidak boleh bermuara pada kultus individu. Ibadah live streaming memang mempermudah umat untuk bergerak lintas paroki, lintas keuskupan, bahkan lintas negara. Umat berbondong-bondong mengikuti misa live streaming yang dipimpin oleh pastor atau uskup yang terkenal dan yang kotbahnya menarik. Tidak ada pastor atau uskup yang hebat, karena yang hebat adalah Yesus! Kedua, ibadah live streaming tidak boleh menghapuskan gaya pastoral konvensional. Para gembala perlu tetap menyapa umat dan berinteraksi dengan mereka. Maka, di samping misa live streaming, para pastor dan pengurus gereja harus rajin menyapa umat basis di lingkungan dan wilayah, meskipun masih dalam platform digital (online). Ketiga, esensi ibadah juga tergantung dari partisipasi aktif umat. Jadi, meskipun umat mengikuti ibadah live streaming di rumah, mereka harus tetap berpartisipasi secara aktif misalnya ikut menyanyi, berdoa, menanggapi dll. 

Esensi Ibadah Online Tergantung dari Partisipasi Aktif Umat

Masa tatanan kehidupan baru ini baru saja dimulai dan kemungkinan besar akan berlangsung cukup lama. Maka, ibadah live streaming tetap dibutuhkan. Menjadi kewajiban kita bersama untuk mengupayakan segala daya supaya ibadah live streaming tetap dan selalu mengutamakan nilai kesatuan umat. Tanpa kesatuan antar umat, ibadah akan kehilangan maknanya. 

Sumber Gambar: katoliknews.com; kontan.co.id