Artikel

Renungan

MENGENAL IBADAT HARIAN

Dipublikasikan tanggal 28 June 2020

 

MENGENAL IBADAT HARIAN

Liturgi Resmi Gereja

Ibadah Harian (Lat. Liturgia Horarum) dikenal pula dengan nama Ofisi Ilahi (Lat. Officium Divinum) atau doa Brevir. Ibadah Harian memiliki akar yang mendalam dalam tradisi Yudaisme dan praktik jemaat Gereja Perdana. Konstitusi tentang Liturgi Suci (Sacrosanctum Concilium) menyatakan bahwa “Gereja tiada putusnya memuji Tuhan dan memohonkan keselamatan seluruh dunia bukan hanya dengan merayakan Ekaristi, melainkan dengan cara-cara lain juga, terutama dengan mendoakan Ibadat Harian” (SC 83). Pada mulanya Ibadat Harian hanya dikenal di kalangan para imam, biarawan dan biarawati. Namun, setelah Konsili Vatikan II, doa ini juga disosialisasikan kepada awam, dengan harapan untuk menggembalikan kembali karakter Ibadat Harian sebagai doa seluruh Gereja.

Mzm 119:164 berbunyi, “Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil”. Pada masa pembuangan umat Israel juga memiliki kebiasaan berdoa pada jam-jam tertentu. Daniel, yang dibuang ke Babel, tiga kali sehari berlutut, berdoa, dan memuji Allah (Dan 6:10,13). Dengan hancurnya Bait Allah, kurban sembelihan digantikan oleh kurban pujian di sinagoga-sinagoga yang terdiri dari pembacaan kitab suci, pendarasan mazmur dan madah pujian. Setelah masa pembuangan dan sisa Israel kembali ke Yudea, kurban pujian ini tetap dilakukan di Bait Allah yang dibangun kembali.

Jemaat Gereja Perdana meneruskan tradisi Yahudi dalam melambungkan doa-doa pada waktu-waktu tertentu di sepanjang hari. Mereka berdoa pada waktu-waktu tertentu. Mukjizat pertama yang dilakukan para rasul, yaitu menyembuhkan orang lumpuh di tangga Bait Allah terjadi saat Petrus dan Yohanes bergegas menuju Bait Allah untuk berdoa pada jam tiga petang (bdk. Kis 3:1). Juga satu momen sangat penting di mana Gereja Perdana menerima “bangsa-bangsa non Yahudi” sebagai bagian dari umat Allah terjadi setelah penglihatan yang dialami Petrus saat dia berdoa pada pukul dua belas tengah hari (bdk. Kis 10:9).

Sampai hari ini umat Yahudi berdoa tiga kali sehari (Ibr amidah) pada pagi hari shacharit, siang hari mincha, dan malam hari maariv. Doa-doa ini dikaitkan dengan para bapa bangsa Abraham (Kej 19:27), Ishak (Kej 24:63), dan Yakub (Kej 28:11). 

Saat ini, praktek Ibadat Harian dalam Gereja katolik Roma meliputi :

  1. Ibadat Pembuka (merupakan ibadat pertama pada hari itu, bisa merupakan Ibadat Bacaan atau Ibadat Pagi)
    • Ibadat Bacaan (Matutinum)
    • Ibadat Pagi (Laudes)
  2. Ibadat Siang, yang terdiri atas:
    • Tertia (Ibadat sebelum tengah hari)
    • Sextia (Ibadat tengah hari)
    • Nona (Ibadat setelah tengah hari)
  3. Ibadat Sore (Vesper)
  4. Ibadat Malam (Completorium)

Pada garis besarnya doa Brevir terdiri dari Madah, Kidung, Mazmur, bacaan Kitab Suci dan beberapa doa lainnya. Semua Ibadat Harian diawali dengan seruan Mazmur 69:1, “Ya Allah bersegeralah menolong aku…..”, kecuali dalam Ibadat Pembuka (biasa Ibadat Bacaan) yang diawali dengan seruan, ”Ya Tuhan sudilah membuka hatiku – supaya mulutku mewartakan pujian-Mu.” (Mzm 51:15) – dilanjutkan dengan antifon dan mazmur pembukaan. Selanjutnya dilagukan madah dan pendarasan mazmur. Kemudian diikuti dengan pembacaan Kitab Suci dan disambut dengan sebuah seruan lagu singkat. Komponen-komponen lainnya tergantung kepada masing-masing Ibadat yang dirayakan. Dan dalam tiap ibadat, mazmur diawali dan diakhir dengan sebuah antifon dan ditutup dengan “Kemuliaan”.

Dalam bulan Juli 2020 Keuskupan Agung Jakarta menyelenggarakan Ibadat Completorium secara bergilir dari paroki-paroki sebagaimana penyelenggaraaan doa Rosario merah putih. Ibadat Completorium adalah ibadat penutup yang merupakan ibadat terakhir yang didoakan sebelum istirahat malam. Susunan Ibadat Completorium adalah sebagai berikut:

  1. Pembuka
  2. Doa Tobat
  3. Madah
  4. Pendarasan Mazmur
  5. Bacaan Singkat
  6. Lagu Singkat
  7. Kidung Simeon
  8. Doa Penutup
  9. Penutup
  10. Antifon Penutup 

Suster-suster SND Melaksanakan Ibadah Pagi

Paroki Sunter sudah memiliki kelompok Doa Ofisi St. Fransiskus Asisi yang diketuai oleh Bapak Yoseph Yudianto.