Artikel

Renungan

TIGA PULUH SATU TAHUN PEMERINTAHAN RAJA YOSIA

Dipublikasikan tanggal 20 August 2020

TIGA PULUH SATU TAHUN PEMERINTAHAN RAJA YOSIA

Raja Baik Terakhir di Israel

Yosia baru berusia delapan tahun ketika ia menjadi raja di kerajaan Selatan (Yehuda). Sungguh dapat dibayangkan bahwa usianya masih terlalu belia untuk menjadi pemimpin dari sebuah kerajaan. Namun, prestasinya ternyata sangat gemilang! Pada tahun kedelapan dari pemerintahannya (usia 16 tahun), ketika Yosia masih muda belia, dia mulai mencari Allah. Empat tahun kemudian (usia 20 tahun) Yosia mulai melakukan pembaharuan kehidupan rohani di kerajaan Yehuda. 

Sudah terlalu lama orang-orang Israel melakukan perbuatan-perbuatan yang jahat di mata Allah. Mereka menyembah berhala-berhala pada bukit-bukit pengurbanan, tiang-tiang berhala dan tugu-tugu berhala. Berhala-berhala pun disembah dalam bentuk patung-patung pahatan dan tuangan. Maka, Yosia, memelopori penghapusan ibadat-ibadat palsu. Perbuatan ini terhitung sangat berani, karena begitu banyak orang menyembah ilah-ilah palsu. Tanpa rasa takut, Yosia dan orang-orangnya merubuhkan mezbah-mezbah Baal dan pedupaan-pedupaannya. Mereka meremukkan tiang-tiang berhala, segala patung pahatan dan tuangan. Tidak tanggung-tanggung, imam-imam Baal juga dihukum mati dan mayatnya dibakar di atas mezbah-mezbah berhala. Demikianlah Yosia mentahirkan kerajaan Yehuda, terutama kota Yerusalem. 

Yosia Melaksanakan Pembaharuan di Bidang Keagamaan

Kemudian, pada tahun kedelapan belas dari pemerintahannya (pada usia 26 tahun), Yosia mengangkat tiga orang untuk memperbaiki Bait Allah: Safan, Maaseya, dan Yoah. Uang kolekte yang berhasil dikumpulkan dari orang-orang Yahudi digunakan untuk membiayai pekerjaan renovasi Bait Allah. Orang-orang Lewi mengepalai tim kerja renovasi Bait Allah yang melibatkan banyak tukang dengan segala macam keahlian. Ketika mereka sedang bekerja untuk memperbaiki Bait Allah, imam besar Hilkia menemukan sesuatu yang sangat penting di tempat itu. Yang ditemukan tidak lain adalah kitab Taurat. Kitab itu dibawa kepada Yosia, dan ia meminta supaya kitab itu dibacakan kepadanya. Sambil mendengarkannya, Yosia pun mengetahui bahwa orang-orang Yahudi sudah terlalu lama tidak lagi mengikuti hukum Allah. Ia merasa sangat sedih, dan mengoyakkan pakaiannya. 

Yosia Mengoyakkan Pakaiannya Setelah Mendengarkan Pembacaan Kitab Taurat

Yosia kemudian menyuruh imam besar Hilkia untuk mencari tahu apa yang akan dilakukan Allah kepada mereka karena ketidaktaatan mereka. Hilkia pergi menemui Hulda, seorang nabiah, dan bertanya kepadanya. Hulda menyampaikan pesan dari Allah kepada Hilkia untuk disampaikan kepada Yosia.Yerusalem dan semua rakyatnya akan dihukum sebab mereka telah menyembah ilah-ilah palsu dan negeri itu telah dipenuhi dengan kejahatan. Namun, karena Yosia telah melakukan apa yang baik, hukuman ini tidak akan datang sampai saat kematiannya. 

Raja yang baik dan gagah berani ini memang cukup lama memerintah di kerajaan Yehuda. Berapa lamakah? Tiga puluh satu tahun! Namun, segala perbuatannya dikenang sampai sekarang. Selain melakukan reformasi di bidang keagamaan, merenovasi Bait Allah, dia juga menghidupkan kembali perayaan Paskah, yang tidak pernah lagi dirayakan di Israel sejak nabi Samuel (2Taw 35:18). Tidak pernah ada raja yang merayakan Paskah seperti Yosia denga para imam, orang-orang Lewi, dengan seluruh orang Yehuda dan Israel yang dapat hadir, dan dengan penduduk Yerusalem. 

Tiga puluh satu tahun Yosia memerintah di kerajaan Yehuda dan tahun-tahun itu diisinya dengan perbuatan-perbuatan yang berkenan di mata Allah. Angka 31 dalam Kitab Suci memang cukup istimewa. Kata Allah (אלIbr. El) memiliki jumlah bilangan 31. Salah seorang ibu bangsa Israel, Ribka, disebut dalam 31 ayat di kitab Kejadian. Kitab Yosua mengisahkan bagaimana bangsa Israel di bawah pimpinan Yosua mengalahkan 31 orang raja di seberang sungai Yordan (Yos 12:24).

Tentu tidak berlebihan rasanya apabila pada hari ini kita segenap umat Paroki Sunter merenungkan kisah kehebatan raja Yosia. Hari ini paroki Sunter genap berusia 31 tahun. Selama 31 tahun ini kita tidak henti-hentinya berdecak kagum atas segala karya Allah di dalam kehidupan umat paroki Sunter. Teladan-teladan Yosia tetap harus menjadi semangat kita semua: bagaimana kita dapat menjadikan ibadat kita berkenan di hadapan Allah. Meski tahun ini seluruh dunia diporakporandakan dengan wabah Covid 19, semangat ketaatan kepada Allah tidak boleh luntur. Sebagaimana Yosua berhasil memimpin bangsa Israel untuk menaklukkan 31 orang raja, kita juga harus yakin bahwa dengan mengandalkan Tuhan dan dengan bekerja sama bahu-membahu, kita dapat segera terlepas dari bencana wabah ini. Tiga puluh satu tahun adalah bukti pendampingan Allah dalam kehidupan menggereja di paroki ini.

Selamat ulang tahun ke-31 untuk Paroki Sunter! Semoga semakin menjadi garam dan terang di tengah-tengah lingkungan. Konon, Injil Lukas berisikan acuan terhadap 31 kitab dalam Perjanjian Lama. Maka, dengan perantaraan doa Santo Lukas Penginjil, kita memanjatkan doa semoga paroki tercinta ini semakin memancarkan kasih Allah di dalam segenap karya dan pelayanannya.