Artikel

Renungan

PENGAMPUNAN DAN KESEMBUHAN

Dipublikasikan tanggal 17 September 2020

PENGAMPUNAN DAN KESEMBUHAN

Pertemuan Bulan Kitab Suci Minggu Ketiga

Kisah Yesus menyembuhkan orang lumpuh (Mrk 2:1-12) yang dipilih sebagai bacaan pada pertemuan Bulan Kitab Suci minggu ketiga merupakan bacaan yang tidak asing lagi. Teks ini terletak pada bagian awal Injil Markus (2:1-3:6) yang ditandai konflik antara Yesus dan para pemuka agama Yahudi. Bagian ini berbentuk kiastik sebagai berikut:

A. 2:1-12 : penyembuhan (orang lumpuh)

B. 2:13-17 : perjamuan (di rumah Lewi)

C.2:18-22 : hal berpuasa

B’. 2:23-28 : perjamuan (bulir gandum)

A’. 3:1-6 : penyembuhan (orang yang mati sebelah tangannya)

Kisah penyembuhan orang lumpuh terjadi di Kapernaum, kampung halaman Simon dan Andreas, yang nampaknya menjadi markas pelayanan Yesus di Galilea. Kota ini terletak di sebelah barat laut Danau Galilea dan merupakan sebuah kampung nelayan. Kisah ini dimulai di sebuah rumah (Mrk 2:1) dan juga ditutup dengan perintah Yesus kepada orang lumpuh yang disembuhkan-Nya untuk “pulang ke rumah” (Mrk 2:11). Jelaslah, kata “rumah” menjadi bingkai dari kisah penyembuhan ini. Rumah orang Yahudi pada saat itu merupakan sebuah bangunan satu ruangan berikut sebuah halaman. Di samping bangunan rumah biasanya terdapat tangga yang menuju ke atap. Atap rumah pada saat itu berbentuk datar dan terbuat dari jerami dan tanah liat. Orang kadang melakukan kegiatan di atas atap rumah, misalnya bersantap malam, atau tidur pada saat musim panas, atau bahkan berdoa (Kis 10:9). Melihat ukuran rumah yang umum pada saat itu maka seluruh halaman dan bangunan rumah dapat memuat kurang lebih 70 orang.

Rumah Orang Yahudi pada Zaman Yesus

Orang lumpuh yang dibawa kepada Yesus digotong oleh empat orang. Hal ini menandakan bahwa dia mengalami kelumpuhan total, suatu penyakit yang serius yang membutuhkan campur tangan Allah untuk penyembuhannya. Karena banyak orang berkerumun di rumah tempat Yesus mengajar, keempat penggotong orang lumpuh itu membawanya ke atas atap melewati tangga, lalu membuka atapnya. Kemudian, mereka menurunkan orang lumpuh itu terbaring dengan sebuah tilam tepat di hadapan Yesus. Cara mereka sungguh tidak lazim karena seperti vandalisme, dan juga cukup sulit menggotong orang lumpuh menaiki tangga menuju atap. Ditambah lagi, tindakan mereka pasti akan mengganggu pengajaran Yesus dengan puing-puing atap yang jatuh ke dalam rumah. Mengingat bahwa orang Yahudi biasa berdoa di tempat yang tinggi seperti atap rumah (Kis 10:9) atau di bukit (Mrk 6:46), maka kemungkinan mereka mencari tempat yang paling layak untuk “berdoa” memohon pertolongan kepada Allah. 

Tidak ada permohonan dari orang lumpuh atau para penggotongnya kepada Yesus untuk sebuah penyembuhan. Namun, segala upaya mereka sudah melebihi permohonan dan Yesus melihat iman mereka (orang lumpuh dan para penggotongnya). Maka, Yesus menanggapinya dengan berseru, “Hai anakku, dosamu sudah diampuni” (Mrk 2:5)! Yesus menyapa orang lumpuh itu sebagai “anak” dan hal ini menyatakan kasih Yesus yang amat besar kepadanya. Maka, tidaklah mengherankan kalau kisah ini dibingkai dengan kata “rumah”, karena rumah adalah tempat di mana manusia pada umumnya memperoleh kasih sayang. Alih-alih menyembuhkan orang lumpuh itu, Yesus malah mengampuni dosanya. Menurut keyakinan orang Yahudi pada waktu itu, segala penyakit merupakan akibat dari dosa (Mzm 41:5). Maka, orang lumpuh itu harus terlebih dahulu diampuni dosanya sebelum disembuhkan.

Reaksi para pemuka agama Yahudi (ahli-ahli Taurat) dapat diduga. Mereka menganggap diri sebagai penafsir hukum Allah yang paling akurat. Menurut mereka, hanya Allah yang dapat mengampuni dosa manusia, dan hal itu dilaksanakan lewat persembahan kurban di Bait Allah lewat perantaraan imam (Im 9:2 dst). Mrk 1:22 menyatakan bahwa Yesus mengajar sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Perkataan Yesus, “Dosamu sudah diampuni” menggunakan bentuk kalimat pasif biblis (kalimat pasif tanpa obyek pelaku) dan hal ini menyatakan bahwa Allahlah yang mengampuni dosa orang lumpuh itu. Maka, Yesus sama sekali tidak menghujat Allah. Mengenai kuasa mengampuni dosa, Yesus menyebut diri-Nya sebagai Anak Manusia, sebuah gelar Mesias yang dikutip dari Dan 7:13-14. Dalam konteks ini, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai utusan Allah. 

Kisah ini ditutup dengan menceritakan dampak dari penyembuhan orang lumpuh itu baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap “semua” orang yang menyaksikannya. Orang lumpuh yang disembuhkan Yesus itu bangun dan mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang banyak. Semua orang menjadi takjub dan memuliakan Allah. 

Dewasa ini, tidak semua orang mampu memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan. Hal ini diakibatkan oleh sistem pelayanan kesehatan nasional yang tidak memadai. Maka, kita dipanggil untuk memiliki kepedulian dan membantu mereka. Melayani orang yang sedang sakit membutuhkan upaya yang tidak sedikit dan kerja sama yang baik (menggotong orang lumpuh, membawa orang lumpuh naik ke atap rumah lewat tangga, membongkar atap, menurunkan orang lumpuh dengan tilam). Namun, selain upaya, kita juga diminta untuk memiliki iman yang kokoh, karena iman kita lah yang membuat “mukjizat itu menjadi nyata”.

Pelayanan terhadap Orang Sakit Membutuhkan Kepedulian, Upaya, dan Iman