Artikel

Renungan

TEOFILUS YANG MULIA

Dipublikasikan tanggal 17 October 2020

TEOFILUS YANG MULIA

Mempelajari Pendahuluan Injil Lukas

“Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar” (Luk 1:1-4).

Injil Lukas dan Kisah Para Rasul dialamatkan kepada pribadi yang bernama Teofilus. Teofilus disapa sebagai “yang mulia”. Kemungkinan dia adalah seorang pejabat pemerintah di Roma dan menjadi sponsor untuk penulisan injil ketiga ini. Namun, sulit dipahami jika kitab panjang yang terdiri dari dua jilid ini hanya ditujukan kepada seseorang saja. Dari sisi etimologis, kata Teofilus berasal dari dua kata theos (Allah) dan philia (mengasihi). Itulah sebabnya sejak zaman Origenes, nama Teofilus sering ditafsirkan sebagai “orang-orang yang dikasihi Allah”.

Lukas menjelaskan bahwa sebelumnya sudah banyak orang yang telah menyusun injil. Memang  pada mulanya injil (kabar baik) diberitakan secara lisan dan lambat laun bahan-bahannya dituliskan (injil Markus, dokumen Q?). Yang disusun oleh penyusun yang terdahulu adalah adalah “peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita”.  Apakah yang dimaksud berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi itu?  Berdasarkan isi keseluruhan injil Lukas dan kitab Kisah Para Rasul yang dimaksud dalam ayat ini adalah riwayat kedatangan Yesus yang di dalamnya ada keselamatan dan berkat bagi dunia. 

Siapa yang menyampaikan berita atau sumber penulisan? Ada dua: saksi mata dan pelayan Firman. Hal ini bisa menunjuk secara khusus kepada para rasul, namun bukanlah hanya 12 rasul saja (Luk 9:1-6), melainkan termasuk 70 orang yang diutus Yesus (Luk 10:1-12), bahkan  para saksi mata yang ikut berdoa di ruang atas pada hari Pentakosta (Kis 2), serta saksi mata lainnya yang memberitakan Firman waktu itu, yang mungkin masih hidup pada masa penelitian Lukas untuk menyusun injilnya.  Merekalah yang mungkin diwawancarai untuk penulisannya.  Bukan mustahil Luk 1 dan 2 berasal dari wawancara dengan Bunda Maria atau para gembala  atau dengan rasul yang masih hidup ataupun dengan orang lainnya. Para pelayan Firman yang bukan saksi mata jelas adalah generasi kedua yang menerima Firman dari tradisi.  Mungkin Lukas dalam ikut pelayanan Paulus (Kis 16), dan dalam perjalanan ini Lukas mendengar ceritera-ceritera tradisi lisan yang sudah tersebar pada masa itu. 

Tujuan penyusunan buku adalah supaya Teofilus mengetahui pengajaran yang diajarkan kepadanya adalah sungguh benar (Luk 1:4). Untuk itu Lukas secara akurat meneliti bahan-bahan.  Sebagai ahli sejarah ia ingin menuliskan fakta-fakta, bahkan lebih daripada itu ia menafsirkan fakta-fakta itu serta maknanya. Ia menekankan bahwa informasi yang didapatkannya adalah dapat dipercaya.

Lukas menyelidiki segala peristiwa dari “asal mulanya”. Bisa dikatakan bahwa narasi Lukas adalah narasi mengenai awal pemenuhan rencana Allah. Rencana Allah melibatkan manusia. Dalam hal ini Allah berinisiatif dan manusia menanggapinya. Dengan demikian narasi Lukas adalah narasi tentang rentetan respons manusia terhadap rencana Allah berhubungan dengan keselamatan. 

Lukas membukukan injilnya dengan teratur bagi komunitas pembacanya. Secara geografis Lukas menjelaskan pelayanan Yesus di Galilea,  lalu perjalanan dari Galilea ke Yerusalem dan pelayanan di Yerusalem.  Kadang Lukas mencantumkan unsur-unsur kronologis juga. Masa kelahiran dan masa kanak-kanak (Luk 1-2), masa dimulainya pelayanan Yesus (Luk 3) dikaitkan dengan konteks sejarah. 

Selanjutnya pengenalan akan pengajaran itu bermaksud supaya pembaca bukan saja terbiasa tetapi yakin bahwa pengajaran itu sungguh pasti atau terjamin, Dengan mengacu pada penjelasan-penjelasan sebelumnya Lukas ingin pembacanya yakin bahwa pengajaran yang mereka terima setelah ia teliti ternyata “bisa dipercaya dalam kebenaran ajaran serta kebenaran fakta”. Bahkan tulisannya itu membuktikan bahwa Firman itu sesuai degan fakta. Dengan kata lain, pengajaran itu suatu kebenaran yang tak diragukan. Hampir di ujung kitabnya Lukas menulis bahwa tujuan kedatangan Yesus adalah untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (Luk. 19:10). Inilah tujuan universalnya, untuk Teofilus dan sidang pembacanya yang dikasihi Allah.