Artikel

Renungan

KADDISH

Dipublikasikan tanggal 01 November 2020

KADDISH

Doa Arwah Umat Yahudi 

Kitab Suci tidak banyak berbicara tentang doa untuk orang-orang yang sudah meninggal. Imamat 19:31 dan 20:6 memang melarang manusia berkomunikasi dengan arwah-arwah, namun teks-teks ini tidak berhubungan dengan doa untuk orang-orang yang sudah meninggal. Hanya ada tiga teks yang berkaitan dengan doa arwah yakni:

  1. 2 Mak 12:39-45. Pada abad II SM ketika orang-orang Yahudi sedang berperang melawan Yunani, Yudas Makabe menemukan jimat berhala di dalam jubah orang-orang yang gugur dalam peperangan, suatu hal yang dilarang oleh hukum Taurat. Segera mereka mohon supaya dosa yang telah dilakukan itu dihapus semuanya. Penulis kitab 2 Mak menyatakan bahwa perbuatan ini sungguh sangat baik dan tepat, karena Yudas memikirkan kebangkitan. Yudas menyuruh mengadakan kurban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka. Teks ini jelas berbicara tentang doa arwah, namun kitab 2 Mak hanya diakui sebagai kitab kanonik oleh Gereja Katolik Roma dan Gereja-gereja Timur. Lagipula praktik doa arwah ini hanya muncul sekali pada kisah ini dan tidak pernah diceritakan di teks-teks lain dalam Kitab Suci.
  2. 2 Tim 1:16-18. Di sini Paulus berdoa supaya Tuhan mengaruniakan rahmat-Nya kepada keluarga Onesiforus dan supaya Tuhan menunjukkan rahmat-Nya kepadanya pada hari-Nya. Banyak ahli Kitab Suci meyakini bahwa Onesiforus sudah meninggal dunia pada saat itu, meskipun hal itu tentu saja tidak dapat dipastikan.
  3. 1 Kor 15:29. Dalam pembelaannya tentang kebangkitan Paulus mengajukan pertanyaan ini, « Apakah faedahnya  perbuatan-perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati ? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal ? » Teks ini menyiratkan bahwa orang yang masih hidup dapat berbuat sesuatu untuk membantu orang yang sudah meninggal. Tetapi sekali lagi, praktik pembaptisan semacam ini tidak pernah dikisahkan di tempat lain dalam Kitab Suci. 

Minimnya teks-teks Kitab Suci yang berbicara tentang doa untuk orang-orang yang sudah meninggal membuat banyak orang berpikir demikian: kalau orang-orang Kristen dianjurkan untuk berdoa bagi orang-orang yang sudah meninggal, mengapa Kitab Suci tidak berbicara banyak mengenai praktik ini?

Pada kesempatan ini kita akan mempelajari praktik doa untuk orang-orang yang sudah meninggal yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Doa arwah Yahudi disebut Kaddish dan ditulis dalam bahasa Aram. Menurut tradisi Yahudi doa Kaddish sudah memiliki sejarah lebih dari 2000 tahun. Doa ini didaraskan dalam sebuah ibadat yang dilaksanakan oleh minimal 10 laki-laki Yahudi dewasa. Memang doa Kaddish sama sekali tidak menyinggung tentang kematian, melainkan merupakan sebuah doa untuk memuji Allah. 

Doa Kaddish didaraskan untuk orang tua, pasangan hidup, anak, atau orang-orang lain yang sudah meninggal. Doa Kaddish didaraskan selama 30 hari jika yang meninggal adalah pasangan hidup atau anak. Untuk mendoakan orang tua yang meninggal, doa Kaddish didaraskan selama 11 bulan. Doa Kaddish juga didaraskan pada hari peringatan kematian. 

Dalam Komunitas yang Berdoa, Orang-orang yang Berkabung Tidak Ditinggalkan Sendirian

Doa Kaddish pada dasarnya adalah doa yang memohon supaya Allah meraja secara penuh di atas bumi, mirip dengan doa Bapa Kami. Menurut Rabi Joseph Telushkin, pendarasan doa Kaddish merupakan cara yang paling baik untuk menghormati orang-orang yang sudah meninggal. Ketika keluarga yang ditinggalkan mendaraskan doa Kaddish, hal ini membuktikan bahwa almarhum(ah) meninggalkan keluarga yang setia kepada Allah.  Di samping itu, karena doa Kaddish didaraskan secara kolektif, hal ini merupakan kesempatan bagi mereka yang berkabung untuk bergabung dengan orang-orang lain dalam sebuah komunitas. Kehadiran orang-orang yang turut mendaraskan doa Kaddish merupakan penghiburan dan bukti bahwa keluarga yang berkabung tidak ditinggalkan. 

Tanggal 2 November ditetapkan oleh Gereja sebagai hari peringatan arwah semua umat beriman. Banyak umat mengunjungi gereja dan berdoa untuk saudara-saudari mereka yang sudah meninggal. Nampaknya, kita dapat belajar sesuatu dari praktik doa Kaddish. Berdoa arwah bersama-sama dengan umat lain menyatakan bahwa kita merupakan bagian dari komunitas umat beriman. Hal ini juga membuktikan bahwa sebagai orang yang ditinggalkan, kita tetap mempertahankan iman kita kepada Allah. Dan terakhir, doa arwah juga merupakan doa yang diarahkan agar “Allah segera meraja secara penuh di atas bumi”.