Artikel

Renungan

TELAH LAHIR SANG IMANUEL

Dipublikasikan tanggal 25 December 2020

TELAH LAHIR SANG IMANUEL

Sukacita dan Pengharapan di tengah Keterpurukan

Bacaan Injil misa malam Natal tahun liturgi A memang sangat panjang. Bacaan injil diambil dari Mat 1:1-25, meskipun tersedia bacaan singkat Mat  1:18-25. Bagi umat tertentu bacaan yang panjang ini amat sulit untuk dipahami karena merinci tentang silsilah Yesus Kristus mulai dari Abraham, kakek moyang bangsa Yahudi. Ada empat puluh dua (42) keturunan dari Abraham sampai Yesus, yang dibagi menjadi tiga kali empat belas (3x14) keturunan: dari Abraham sampai Daud (14 keturunan), dari Daud sampai pembuangan ke Babel (14 keturunan) dan dari pembuangan sampai Kristus (14 keturunan). 

Di tengah kerumitan silsilah Yesus Kristus menurut Injil Matius, ada beberapa hal yang layak untuk disimak:

  1. Angka empat belas (14) merupakan angka bilangan nama Daud dalam bahasa Ibrani (דוד); Matius membuktikan bahwa Yesus Kristus adalah Sang Raja keturunan Daud.
  2. Angka empat puluh dua (42) menunjukkan jumlah tempat persinggahan orang Israel di padang gurun (Bil 33:1-49) mulai dari Rameses sampai Moab, sebelum mereka menjejakkan kaki di tanah terjanji. Melalui catatan ini Matius membuktikan bahwa Yesus menciptakan "keluaran baru" bagi umat Allah, dari penjajahan akibat dosa sampai pada keselamatan atau kehidupan kekal. 
  3. Matius mencatat nama empat perempuan asing dalam silsilah Yesus: Tamar, Rahab, Rut dan istri Uria; darah non Yahudi dalam diri Yesus merupakan pralambang dari jangkauan Injil yang merangkul segala bangsa.

Selanjutnya dikisahkan tentang kisah kelahiran Yesus. Dalam mimpi malaikat Tuhan menyampaikan kepada Yusuf bahwa bayi yang akan dilahirkan oleh Maria menggenapi nubuat nabi Yesaya 700 tahun sebelumnya. "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel – yang berarti: Allah menyertai kita" (Mat 1 :23). Janji "Imanuel" membingkai seluruh Injil Matius, karena di akhir Injil Yesus berjanji akan "menyertai para murid senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Mat 28:20).

Pesan apa yang dapat kita ambil dari bacaan injil pada misa malam Natal? Seperti kita ketahui bersama, seluruh dunia sedang bergumul melawan pandemi Covid-19. Sudah setahun umat manusia di seluruh dunia harus berjibaku bertahan melawan serangan virus yang tidak kasad mata, namun sangat mematikan ini. Ibadat Natal di gereja-gereja berlangsung di tengah protokol kesehatan yang amat ketat. Ciri “shalom” yang dimanifestasikan dengan berjabat tangan, berpelukan dan cipika-cipiki hilang dari momentum Natal tahun ini. Baru saja sebersit harapan muncul dengan kehadiran vaksin, berita buruk baru menghantam dengan munculnya mutasi virus Corona di Inggris. Dunia menghadapi resesi ekonomi yang sangat parah dan banyak orang akan kehilangan mata pencaharian. 

Di tengah kesuraman kaledoiskop dunia 2020, Injil Matius menawarkan pengharapan yang penuh sukacita, yakni Imanuel, Allah menyertai kita. Ketika Yesaya menubuatkan tentang Imanuel, kerajaan Yehuda sedang menghadapi ancaman dari kerajaan Israel dan Aram. Pada saat itu raja Yehuda Ahas berikhtiar dengan meminta bantuan Asyur, hal mana ditentang habis-habisan oleh Yesaya. Menurut Yesaya, manusia tidak bisa mengandalkan bantuan apa pun atau bantuan manusia mana pun, selama dia tidak mengandalkan Allah. 

Maka, bagaimana umat manusia menghadapi tahun 2021? Apakah pengharapan itu sudah sirna? Matius menjawab, tentu saja tidak! Umat manusia memiliki Allah yang dapat diandalkan, Allah yang menyertai umat-Nya. Allah akan menyertai umat-Nya yang menjaga protokol kesehatan, yang tetap berpengharapan di tengah kesulitan hidup, yang selalu bersandar kepada-Nya dalam segala hal. Bukankah Dia telah berjanji akan menyertai kita sampai akhir zaman?

Natal adalah saat penuh sukacita dan pengharapan, ketika manusia mengandalkan Allah. Tahun 2020 boleh saja suram, tetapi Natal 2020 tetap menjanjikan penyertaan dan pendampingan Allah. Janji Allah yang sama merupakan bekal kita memasuki tahun baru 2021. Selamat hari Natal dan Tahun Baru! Allah menyertai kita!

Tetap Bersukacita dan Berpengharapan di tengah Pandemi