Artikel

Renungan

MERAYAKAN INJIL KEHIDUPAN

Dipublikasikan tanggal 31 May 2021

MERAYAKAN INJIL KEHIDUPAN

Maria Mengunjungi Elisabet

Hari ini tanggal 31 Mei 2021 Gereja merayakan Pesta Santa Perawan Maria Mengunjungi Elisabet. Bacaan misa hari ini diambil dari kitab Zef 3:14-18a dan Luk 1:39-56. Bacaan pertama dimulai dengan ajakan kepada bangsa Israel untuk bersukacita, “Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem!” Mengapa umat Allah diajak untuk bersukacita? Ayat 15 dan 17 memberikan alasannya: TUHAN ada di antara umat-Nya! Nabi Zefanya juga bernubuat agar umat Allah “jangan takut” (Zef 3:16) karena TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atas mereka (Zef 3:15) dan membaharui mereka dalam kasih sayang (Zef 3:17). Nubuat nabi Zefanya menegaskan janji keselamatan atau pemulihan Yerusalem pasca penghukuman yakni hancurnya Yerusalem dan Bait Allah akibat serbuan Babel pada tahun 587 SM yang dilanjutkan dengan pembuangan umat Allah ke Babel. 

Sekilas bacaan pertama ini tidak ada hubungannya dengan bacaan Injil yang mengisahkan tentang kunjungan Maria ke rumah Elisabet. Perikop ini bercerita tentang perjumpaan dan sharing dua orang wanita yang mengandung secara “ajaib”. Elisabet mengandung pada usia lanjut dan Maria mengandung dari Roh Kudus. Lalu, apa benang merah antara bacaan pertama dan bacaan Injil?

Penginjil Lukas merupakan satu-satunya pengarang Injil yang bukan Yahudi. Namun, dia “menyelidiki” segala sesuatu tentang Yesus, Sang Sabda dan “membukukannya dengan teratur” bagi umat. Dia melihat bahwa ketika malaikat Gabriel menyampaikan kabar baik tentang kelahiran Yesus kepada Maria, nubuat nabi Zefanya tergenapi. Sebagai orang bukan Yahudi, Lukas menggunakan Kitab Suci dalam bahasa Yunani (Septuaginta, LXX). Kata “bersorak-sorailah” pada Zef 3:14 berbunyi “chaire” dalam LXX. Kata yang sama digunakan oleh malaikat Gabriel ketika dia menyapa Maria, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” (Luk 1:28). Kata “salam” pada ayat ini juga berbunyi “chaire”. Dengan demikian Lukas menyamakan Maria dengan “puteri Sion” atau “umat Allah”. Maria adalah “citra Gereja” atau “Bunda Gereja”. Umat Allah atau Gereja patut bersukacita karena “Tuhan menyertai”. Maria mengandung dan akan melahirkan Yesus, Anak Allah dan Raja Mesias. 

Ketika mendengar salam Maria, bayi di rahim Elisabet melonjak kegirangan dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus lalu berseru, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.” (Luk 1:42) Kali ini, Lukas pun dengan jeli merajut benang merah antara peristiwa ini dengan keberhasilan wanita-wanita hebat dalam sejarah bangsa Yahudi. Hanya dua orang wanita dalam Perjanjian Lama yang “diberkati di antara para wanita”. Yang pertama adalah Yael (Hak 5:24), wanita yang berhasil membunuh Sisera, panglima Kanaan yang amat ditakuti serdadu Israel. Ternyata wanita sederhana ini berhasil membunuh Sisera dengan cara melantakkan patok kemah ke kepala sang musuh. Wanita kedua adalah Yudit. Dia juga berhasil membunuh Holofernes, panglima Nebukadnezar yang amat perkasa dan ditakuti. Wanita cantik ini berhasil membunuhnya dengan cara memancung kepala sang panglima yang amat hebat itu. Oleh sebab itu Yudit pun dipuji sebagai “wanita yang diberkati lebih daripada semua perempuan di atas bumi” (Yud 13:18). Dari cerita tentang dua wanita hebat ini dapat ditarik kesimpulan bahwa wanita yang diberkati di antara wanita-wanita lain adalah wanita yang berhasil menaklukkan musuh yang amat kuat dengan cara menghancurkan kepala mereka.

Kalau demikian halnya, mengapa Maria juga “diberkati di antara semua perempuan”? Siapa musuh kuat yang berhasil ditaklukannya dan bagaimana caranya? Kita teringat akan kisah manusia jatuh ke dalam dosa di kitab Kejadian. Kej 3:15 berbunyi, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Bersama-sama dengan puteranya Maria menghancurkan musuh utama umat Allah, yakni dosa yang dilambangkan sebagai ular. Keturunan Maria yaitu Yesus meremukkan kepala ular!

Lukas sang tabib, pelindung paroki Sunter adalah seorang jenius. Dia mampu membaca peristiwa kabar baik dan kunjungan Maria ke rumah Elisabet sebagai penggenapan nubuat nabi Zefanya. Kisah pertemuan dua orang wanita ini juga melukiskan bahwa kandungan dua orang bayi, Yohanes Pembaptis dan Yesus, dirayakan pada pertemuan antara kedua wanita hebat yang bernama Maria dan Elisabet. Sebuah peristiwa yang patut dirayakan dengan penuh sukacita. Perikop ini merupakan kisah perayaan “Injil Kehidupan”, kehidupan janin-janin yang ada di dalam kandungan ibu mereka. Mereka merupakan pribadi-pribadi yang memiliki hak untuk hidup dan dilindungi dari segala marabahaya. Demikianlah tulisan Santo Yohanes Paulus II dalam Evangelium Vitae 45. Sebagai umat paroki yang dilindungi oleh Santo Lukas Penginjil, kita dapat menarik dua resolusi dari peristiwa yang dirayakan pada hari ini. Pertama, tekad yang teguh untuk selalu melawan dosa dan keinginan yang kuat untuk selalu melindungi dan menghargai segala bentuk kehidupan. Selamat merayakan Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet!